Indonesia tak pernah kehilangan talenta sinema yang selalu menampilkan cerita dari beragam genre. Mulai dari horor, romansa, aksi, sampai fiksi ilmiah punya berbagai keunikan. Dari Top 100 Indonesian Films di Letterboxd, berikut 25 film Indonesia dengan rating tertinggi di platform Letterboxd dan platform nonton legalnya secara online.
25. Ziarah (2017)
Sutradara: BW Purba Negara
Pemeran: Ponco Sutiyem, Rusman Rusadi
Durasi: 87 menit
Nonton di: Bioskop Online
Ziarah buka daftar ini dengan cerita yang sederhana tapi menohok: Mbah Sri, perempuan 95 tahun, mencari makam suaminya, Prawiro Sahid, yang hilang saat Agresi Militer Belanda II tahun 1948. Perjalanan Mbah Sri menyusuri pelosok Gunung Kidul disampaikan dengan gaya mendayu dan dialog penuh bahasa Jawa yang membuat ceritanya semakin otentik.
Skenarionya menang Penulis Skenario Asli Terbaik di Festival Film Indonesia 2016. Film ini juga bawa pulang Film Terbaik di Salamindanaw Film Festival 2016 di Filipina, serta Best Screenplay dan Special Jury Award di ASEAN International Film Festival and Awards (A0IFFA) 2017 di Malaysia.
24. Tjoet Nja’ Dhien (1988)
Sutradara: Eros Djarot
Pemeran: Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Piet Burnama, Rudy Wowor
Durasi: 108 menit
Nonton di: Netflix, Bioskop Online
Christine Hakim jadi jantung dari epos biografi sejarah ini. Cut Nyak Dhien, pahlawan nasional asal Aceh yang meneruskan perlawanan terhadap Belanda setelah suaminya, Teuku Umar (Slamet Rahardjo), gugur dalam pertempuran. Film ini mengisahkan enam tahun masa perjuangan Dhien sebagai panglima perang hingga mengalami kebutaan di akhir masa hidupnya.
Memborong 8 hingga 9 Piala Citra di Festival Film Indonesia 1988, termasuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Pemeran Wanita Terbaik untuk Christine Hakim. Tjoet Nja’ Dhien juga jadi film Indonesia pertama yang tayang di Cannes Film Festival lewat program Semaine de la Critique 1989. Versi yang sekarang beredar di berbagai platform sudah melalui proses restorasi oleh lembaga arsip film Belanda untuk menjaga kualitas gambar dan suaranya.
23. Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982)
Sutradara: Chaerul Umam
Pemeran: El Manik, Dewi Irawan, Rachmat Hidayat, Sukarno M. Noor
Durasi: 94 menit
Nonton di: Bioskop Online
Judul internasionalnya, A Bridge Between Heaven and Hell, sebenarnya lebih pas menggambarkan isi film ini ketimbang judul aslinya yang puitis. Ibrahim (El Manik), guru muda yang datang ke sebuah kampung untuk membawa perubahan, malah dituduh memerkosa seorang gadis desa oleh warga yang munafik.
Naskahnya ditulis Asrul Sani, yang sekaligus jadi penulis versi aslinya di tahun 1959. Asrul meraih penghargaan Skenario Terbaik di Festival Film Indonesia 1983 lewat film ini. Kritikus masih menganggap ini sebagai salah satu film religi terbaik yang pernah dibuat Indonesia karena caranya mengupas kemunafikan manusia lewat pendekatan yang tajam tapi tidak menggurui.
22. Tiga Dara (1957)
Sutradara: Usmar Ismail
Pemeran: Chitra Dewi, Mieke Wijaya, Indriati Iskak, Fifi Young
Durasi: 115 menit
Nonton di: Netflix, Bioskop Online
Tiga bersaudari—Nunung, Nana, dan Nenny—dibesarkan neneknya di Jakarta setelah ibu mereka meninggal dan ayah mereka terlalu sibuk kerja. Masing-masing mewakili kepribadian yang beda banget soal cinta dan restu orang tua: Nunung yang pendiam, Nana yang memberontak dan modern, dan Nenny si bungsu yang usil dan berani.
Film musikal garapan Usmar Ismail ini mencerminkan dinamika sosial budaya masyarakat Jakarta era 1950-an. Film ini sempat diputar di Venice Film Festival serta meraih Best Musical Arrangement di Indonesian Film Week 1960. Tiga kali di-remake, tahun 1980 dan 2016, Tiga Dara masih jadi salah satu film terpenting dalam sejarah sinema Indonesia.
21. Samsara (2024)
Sutradara: Garin Nugroho
Pemeran: Ario Bayu, Juliet Widyasari Burnett
Durasi: 90 menit
Nonton di: Netflix
Garin Nugroho kembali dengan gebrakan yang jarang ditemui di sinema Indonesia modern: film bisu hitam putih. Samsara berlatar Bali tahun 1930-an, mengisahkan Darta, pria miskin yang ditolak keluarga kaya kekasihnya, Sinta. Putus asa, Darta membuat perjanjian gaib dengan Raja Monyet demi kekayaan, tapi ada harga yang harus dibayar.
Konsep tanpa dialog ini pernah melakukan Garin lewat Setan Jawa (2016). Di Samsara, elemen musiknya jauh lebih ambisius dengan memadukan gamelan tradisional dengan tekstur elektronik eksperimental. Garin sendiri menyebut terinspirasi dari film klasik Jerman seperti Nosferatu (1922) dan Metropolis (1927). Hasilnya, Samsara memborong empat Piala Citra di Festival Film Indonesia 2024, termasuk Sutradara Terbaik.
20. Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)
Sutradara: Mouly Surya
Pemeran: Marsha Timothy, Dea Panendra, Egi Fedly, Yoga Pratama
Durasi: 93 menit
Nonton di: Netflix
Marlina (Marsha Timothy), janda yang tinggal sendirian di sabana Sumba Barat, didatangi kawanan perampok yang mengancam akan menghabisi hartanya. Berpikir cepat, Marlina meracuni sebagian perampok, lalu memenggal kepala pemimpinnya, Markus. Ia membawa kepalanya yang terbungkus kain ke kantor polisi terdekat yang jaraknya puluhan kilometer.
Neo-Western garapan Mouly Surya ini langsung dijuluki “satay Western” oleh kritikus internasional setelah world premiere-nya di program Directors’ Fortnight, Cannes Film Festival 2017. Idenya datang dari Garin Nugroho, tapi Mouly menghadirkan tema perempuan yang mencari keadilan dengan pendekatan sinematik ala koboi klasik. Marlina jadi perwakilan Indonesia untuk Academy Awards 2019.
19. Budi Pekerti (2023)
Sutradara: Wregas Bhanuteja
Pemeran: Sha Ine Febriyanti, Angga Yunanda, Prilly Latuconsina, Dwi Sasono
Durasi: 110 menit
Nonton di: Netflix
Sukses dengan Penyalin Cahaya, Wregas Bhanuteja kembali dengan cerita puitis, walau nadanya lebih mengharukan ketimbang mencekam. Bu Prani (Sha Ine Febriyanti), guru bimbingan konseling di Yogyakarta, tiba-tiba jadi korban perundungan digital setelah video perselisihannya dengan seorang pengunjung pasar viral di media sosial. Keluarganya turut diserang oleh netizen yang ingin melampiaskan emosi mereka.
Budi Pekerti jadi studi karakter yang mengeksplorasi bagaimana cancel culture dan media sosial bisa menghancurkan hidup seseorang dalam hitungan jam. Meraih 17 nominasi di Festival Film Indonesia 2023 dan pulang membawa dua Piala Citra, untuk Sha Ine Febriyanti (Pemeran Utama Wanita Terbaik) dan Prilly Latuconsina (Pemeran Pendukung Wanita Terbaik).
18. Noktah Merah Perkawinan (2022)
Sutradara: Sabrina Rochelle Kalangie
Pemeran: Marsha Timothy, Oka Antara, Sheila Dara Aisha
Durasi: 119 menit
Nonton di: Netflix
Ambar (Marsha Timothy) dan Gilang (Oka Antara) sudah menikah 11 tahun ketika hubungan mereka goyah gara-gara kehadiran Yulinar (Sheila Dara Aisha). Adaptasi dari sinetron 1996 berjudul sama ini diproduksi rumah produksi yang sama, Rapi Films, dengan produser yang juga sama, Gope T. Samtani.
Cerita romansanya dibuat membumi, dekat dengan kehidupan sehari-hari. Gope memasukkan refleksi realistis tentang hubungan rumah tangga yang bukan hanya tentang cerita hitam putih tentang orang ketiga. Pemeran utama film ini kompak masuk nominasi Piala Citra di Festival Film Indonesia 2022.
17. Na Willa (2026)
Sutradara: Ryan Adriandhy
Pemeran: Luisa Adreena, Irma Novita Rihi, Junior Liem, Ira Wibowo
Durasi: 118 menit
Nonton di: XXI, CGV
Willa (Luisa Adreena), gadis kecil berusia enam tahun, percaya bahwa gang kecilnya di Surabaya adalah tempat paling sempurna dan ajaib di dunia. Tapi dunianya perlahan berubah ketika sahabatnya mengalami kecelakaan dan satu per satu. Berlatar era 1960-an, Na Willa menyoroti kehidupan Willa yang tumbuh dalam keluarga multicultural dengan tema keberagaman budaya dan kehidupan sosial dari sudut pandang seorang anak.
Ceritanya diadaptasi dari buku anak Na Willa: Serial Catatan Kemarin karya Reda Gaudiamo yang terbit 2012. Film ini merupakan debut sutradara Ryan Adriandhy dalam live action pertama paska kesuksesannya dengan animasi Jumbo (2025). Dirilis pada Maret 2026, film ini masih bisa dinikmati di bioskop per Agustus 2026.
16. Petualangan Sherina (2000)
Sutradara: Riri Riza
Pemeran: Sherina Munaf, Derby Romero, Didi Petet, Mathias Muchus
Durasi: 114 menit
Nonton di: Netflix, Prime Video
Sherina (Sherina Munaf) kecil yang energik dan cerdik harus pindah dari Jakarta ke Lembang mengikuti pekerjaan ayahnya di sebuah perkebunan. Awalnya ia berseteru dengan Sadam, si jagoan kelas yang suka mengganggu, tapi semuanya berubah ketika Sadam diculik komplotan penjahat suruhan pengusaha licik yang mengincar perkebunan ayahnya.
Petualangan menyelamatkan Sadam dibawakan dengan gaya musikal keluarga garapan Riri Riza. Film ini meraih Penghargaan Khusus Dewan Juri di Asia Pacific Film Festival 2000 dan Film Anak-anak Terpuji di Festival Film Bandung. Film ini juga dianggap sebagai titik balik industri film Indonesia pascareformasi, membuktikan bahwa film keluarga lokal bisa bersaing secara kualitas dan komersial.
15. 27 Steps of May (2019)
Sutradara: Ravi Bharwani
Pemeran: Raihaanun, Lukman Sardi, Ario Bayu
Durasi: 112 menit
Nonton di: Netflix, Vidio
Jadi korban pemerkosaan massal Kerusuhan Mei 1998, May (Raihaanun) menarik diri tanpa koneksi, tanpa emosi, nyaris tanpa komunikasi selama delapan tahun penuh. Titik balik datang ketika sebuah lubang muncul di dinding kamar May, dan dari situ ia menemukan seorang pesulap (Ario Bayu) yang perlahan membuka kembali dunianya.
Ravi Bharwani menyuguhkan trauma kekerasan seksual lewat pendekatan minim dialog, Raihaanun nyaris tak punya baris kalimat sepanjang film, namun menghadirkan kekuatan aktingnya terasa lewat gestur dan ekspresi semata. 27 Steps of May meraih Golden Hanoman Award untuk kategori Film Panjang Asia Terbaik di Jogja-NETPAC Asian Film Festival.
14. 1 Kakak 7 Ponakan (2024)
Sutradara: Yandy Laurens
Pemeran: Chicco Kurniawan, Amanda Rawles, Fatih Unru
Durasi: 131 menit
Nonton di: Netflix
Mengisahkan Moko (Chicco Kurniawan), arsitek muda yang tiba-tiba harus jadi “orang tua tunggal” bagi keponakan-keponakannya setelah kakak dan iparnya meninggal mendadak. Di tengah kesempatan untuk hidup lebih baik yang datang menghampirinya, Moko dihadapkan pada pilihan sulit: mengejar mimpinya sendiri atau terus bertanggung jawab atas keluarganya.
Diadaptasi dari sinetron 1996 karya Arswendo Atmowiloto, film ini menyeimbangkan komedi dan kehangatan keluarga tanpa drama yang berlebihan. 1 Kakak 7 Ponakan jadi film penutup Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-19 pada Desember 2024, sebelum akhirnya tayang reguler di bioskop Indonesia Januari 2025 dan menembus lebih dari 1,2 juta penonton.
13. Selamat Pagi, Malam (2014)
Sutradara: Lucky Kuswandi
Pemeran: Adinia Wirasti, Marissa Anita, Ina Panggabean
Durasi: 95 menit
Nonton di: Netflix, Prime Video
Menceritakan satu malam di Jakarta lewat sudut pandang tiga perempuan yang hidupnya saling bersinggungan lewat pertemuan-pertemuan tak terduga. Salah satunya Gia, seorang pembuat film yang kembali ke Jakarta setelah bertahun-tahun di New York, mendapati bahwa kota yang dulu jadi rumahnya kini terasa asing. Membawakan tema tentang mereka yang “pulang” namun tak pernah benar-benar merasa memiliki rumah.
Ditulis dan disutradarai Lucky Kuswandi, Selamat Pagi, Malam, jadi film pembuka Asia House Film Festival 2015 di London dan film penutup Singapore International Film Festival 2014. Penyanyi jazz Dira Sugandi turut membintangi film ini, menambah lapisan musikalitas pada narasinya yang intim dan melankolis.
12. Lovely Man (2011)
Sutradara: Teddy Soeriaatmadja
Pemeran: Donny Damara, Raihaanun
Durasi: 76 menit
Nonton di: Netflix
Cahaya (Raihaanun), remaja 19 tahun lulusan pesantren dengan nilai-nilai Islam yang kuat. Mencari ayahnya yang sudah tak bertemu 15 tahun, ia mendapati sang ayah adalah seorang waria pekerja seks di kawasan lampu merah Taman Lawang. Di satu malam yang emosional, keduanya berhadapan dengan kebenaran pahit soal identitas, penerimaan, dan arti keluarga.
Donny Damara membawa pulang gelar Best Actor di Asian Film Awards 2012 mengalahkan Andy Lau atas perannya sebagai Ipuy. Lovely Man juga sempat menuai kontroversi di Indonesia karena penolakan dari Front Pembela Islam, tapi mendapat sambutan hangat di berbagai festival internasional sejak world premiere-nya di Busan International Film Festival 2011.
11. Ngeri-Ngeri Sedap (2022)
Sutradara: Bene Dion Rajagukguk
Pemeran: Arswendy Beningswara Nasution, Tika Panggabean, Boris Bokir Manullang
Durasi: 114 menit
Nonton di: Netflix
Pak Domu dan Mak Domu, orang tua dari empat anak Batak, pura-pura mau bercerai demi memancing anak-anak lelaki mereka yang tersebar di berbagai kota untuk pulang menjelang sebuah pesta adat penting. Premis komedi tapi dibawakan dengan kisah drama menyentuh tentang orang tua yang merindukan anaknya, dan anak-anak yang juga punya kehidupannya sendiri-sendiri.
Meski judulnya identik dengan buku yang juga ditulis Bene, film ini murni menggunakan naskah orisinal. Ngeri-Ngeri Sedap meraih lima penghargaan di Piala Maya 2022, termasuk Film Cerita Panjang Terbaik, dan jadi wakil resmi Indonesia untuk Academy Awards 2023 kategori Best International Feature Film. Dalam 64 hari masa tayang, NNS berhasil meraih 2,8 juta penonton dan jadi film terlaris keempat Indonesia sepanjang 2022.
10. Tinggal Meninggal (2025)
Sutradara: Kristo Immanuel
Pemeran: Omara Esteghlal, Mawar Eva de Jongh, Nirina Zubir
Durasi: 120 menit
Nonton di: Netflix
Gema (Omara Esteghlal), pria canggung yang tiba-tiba jadi pusat perhatian rekan-rekan kerjanya setelah kematian ayahnya. Mulai merasakan enaknya perhatian yang tak pernah didapatkannya, Gema melakukan berbagai cara demi mempertahankan perhatian dari teman-temannya.
Cringe comedy debut penyutradaraan Kristo Immanuel ini punya konsep penceritaan yang unik: Gema kerap breaking the 4th wall seperti Deadpool dan berbicara kepada penonton. Menerima respons tak terlalu hangat di bioskop, film ini meraih dua nominasi di Festival Film Indonesia 2025 (termasuk Skenario Asli Terbaik). Tinggal Meninggal justru memborong lima JAFF-Indonesian Screen Award di Jogja-NETPAC Asian Film Festival akhir tahun yang sama.
9. Yuni (2021)
Sutradara: Kamila Andini
Pemeran: Arawinda Kirana, Kevin Ardilova, Dimas Aditya
Durasi: 122 menit (versi Indonesia), 95 menit (versi internasional)
Nonton di: Disney+
Yuni (Arawinda Kirana) punya mimpi besar melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tapi mimpi itu terus dihadang oleh lamaran demi lamaran yang datang. Ia didesak oleh orang tuanya karena mitos lokal yang bilang perempuan yang menolak tiga lamaran tak akan pernah menikah. Yuni harus memilih: percaya pada mitos, atau terus mengejar mimpinya sendiri meski harus melawan ekspektasi keluarganya.
Kamila Andini jadi penulis dan sutradara. Memenangkan Platform Prize di Toronto International Film Festival 2021, Yuni jadi film Indonesia dan perwakilan Asia Tenggara pertama yang memenangkan penghargaan itu. 37 nominasi dikumpulkan, Yuni pulang membawa 17 penghargaan internasional, termasuk di Asian World Film Festival, sebelum akhirnya jadi wakil resmi Indonesia untuk Academy Awards 2022.
8. Fiksi. (2008)
Sutradara: Mouly Surya
Pemeran: Ladya Cheryl, Donny Alamsyah, Kinaryosih
Durasi: 110 menit
Nonton di: Netflix
Terisolasi di rumah mewah ayahnya, Alisha (Ladya Cheryl), perempuan 20 tahun yang. Ia nekat pindah ke rumah susun karena obsesinya pada Bari (Donny Alamsyah), petugas sementara yang bekerja di rumahnya. Di lingkungan barunya yang penuh karakter unik, dunia fantasi Alisha yang penuh delusi perlahan bercampur dengan kenyataan, dan berujung tragis.
Mouly Surya menyebut Fiksi. sebagai “reinvensi dewasa” dari Alice in Wonderland. Alisha digambarkan sebagai versi terbalik dari Alice yang mengejar cinta ke rumah susuh yang gelap dan berbahaya. Debut penyutradaraan Mouly ini memenangkan empat Piala Citra di FFI 2008, termasuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Skenario Asli Terbaik, dan Musik Terbaik.
7. Sore: Istri dari Masa Depan (2025)
Sutradara: Yandy Laurens
Pemeran: Sheila Dara Aisha, Dion Wiyoko, Goran Bogdan
Durasi: 119 menit
Nonton di: Netflix
Apa yang terjadi jika seseorang wanita muncul di depan kamu dan bilang kalau dia adalah istrimu dari masa depan? Film yang diadaptasi dari web series populer 2017 yang juga disutradarai Yandi Laurens ini menggabungkan romansa dengan gaya fiksi ilmiah dan tema tentang rasa cinta yang membutuhkan dua orang untuk saling terhubung.
Syuting dilakukan di tiga negara berbeda, Indonesia, Kroasia, dan Finlandia. Sore: Istri dari Masa Depan meraih delapan nominasi di Festival Film Indonesia 2025 termasuk Film Cerita Panjang Terbaik. Popularitas dan kritikan positif membuatnya sempat jadi wakil Indonesia untuk Academy Awards, dan tembus 3,1 juta penonton di bioskop Indonesia.
6. Ada Apa dengan Cinta? (2002)
Sutradara: Rudy Soedjarwo
Pemeran: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Titi Kamal, Ladya Cheryl
Durasi: 112 menit
Nonton di: Netflix
Sebuah kisah cinta yang populer bagi generasi milenial. Tentang Cinta (Dian Sastrowardoyo), siswi populer yang mulai menjauh dari sahabat-sahabatnya setelah dekat dengan Rangga (Nicholas Saputra), cowok dingin dan penyendiri. Konflik antara cinta dan persahabatan dibawakan dengan drama remaja tentang pencarian jati diri.
Ada Apa dengan Cinta? jadi film Indonesia paling banyak ditonton saat pertama kali dirilis. Rudy Soedjarwo meraih Sutradara Terbaik dan Dian Sastrowardoyo meraih Aktris Terbaik di Festival Film Indonesia 2004. Tabloid Bintang bahkan menobatkannya sebagai salah satu film Indonesia terbaik sepanjang masa dalam survei kritikus 2007 mereka. Sekuelnya dirilis 2016 dengan Dian dan Nicholas Saputra kembali memerankan Cinta dan Rangga.
5. Laskar Pelangi (2008)
Sutradara: Riri Riza
Pemeran: Cut Mini, Ikranagara, Slamet Rahardjo, Lukman Sardi, Tora Sudiro
Durasi: 124 menit
Nonton di: Netflix, Vidio
Diadaptasi dari novel bestseller karya Andrea Hirata, Laskar Pelangi mengisahkan perjuangan sepuluh murid dari keluarga miskin di SD Muhammadiyah Gantong, Belitung. Sekolah mereka nyaris ditutup karena kurang murid sampai seorang bocah bernama Harun datang di detik-detik terakhir. Di bawah bimbingan dua guru penuh dedikasi, Bu Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara), mereka belajar bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bermimpi besar.
Riri Riza melakukan casting langsung di Belitung untuk mencari pemeran anak-anak yang otentik. Laskar Pelangi mencetak rekor sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa dengan 4,6 juta penonton, rekor yang bertahan delapan tahun. Dua sekuel melanjutkan ceritanya, tapi tak sekuat film pertama ini.
4. Janji Joni (2005)
Sutradara: Joko Anwar
Pemeran: Nicholas Saputra, Mariana Renata, Rachel Maryam, Surya Saputra
Durasi: 83 menit
Nonton di: Video
Joko Anwar menghadirkan masa-masa dimana rol film bioskop masih diantar oleh kurir menggunakan sepeda motor. Joni (Nicholas Saputra), kurir rol film bertemu seorang gadis misterius yang cuma mau memberi tahu namanya kalau Joni berhasil mengantarkan seluruh rol film tepat waktu hari itu. Yang seharusnya jadi hari kerja biasa berubah jadi rangkaian kejadian bizarre yang menguji rekor sempurna Joni.
Debut penyutradaraan Joko Anwar ini datang dua tahun setelah namanya mulai dikenal lewat naskah Arisan! yang fenomenal, dan langsung sukses secara kritis maupun komersial—memenangkan Film Terbaik serta Aktor Favorit untuk Nicholas Saputra di MTV Indonesia Movie Awards 2005, sekaligus jadi nominasi pertama Joko Anwar untuk Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia. Janji Joni dipenuhi puluhan cameo dari selebritas Indonesia, sebuah kecintaan Joko Anwar pada dunia perfilman yang ia sampaikan lewat sosok Joni dan Pak Ucok, sang operator proyektor bioskop.
3. The Raid: Redemption (2011)
Sutradara: Gareth Evans
Pemeran: Iko Uwais, Joe Taslim, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian
Durasi: 101 menit
Nonton di: Netflix
Sebuah tim SWAT elite Indonesia menyerbu gedung apartemen kumuh di Jakarta yang dikuasai bandar narkoba kejam, Tama Riyadi. Misi itu gagal total setelah serangan mereka terbongkar, listrik dipadamkan, dan seluruh akses keluar diblokir. Terjebak di lantai enam tanpa jalan keluar, satuan ini harus bertarung lantai demi lantai untuk bertahan hidup.
Sutradara Welsh, Gareth Evans, menciptakan standar baru genre aksi lewat silat. Seni bela diri Indonesia ini dikoreografikan Yayan Ruhian dan Iko Uwais dengan intensitas yang jarang ditemui di film aksi mana pun saat itu.
Dengan bujet hanya $1,1 juta, The Raid meraup $9,3 juta di seluruh dunia dan memenangkan Best Midnight Madness Film sekaligus People’s Choice Award di Toronto International Film Festival 2011. Mengukuhkan Iko Uwais dan Yayan Ruhian sebagai bintang aksi kelas dunia, membuka jalan mereka ke proyek internasional seperti Star Wars: The Force Awakens (2015) dan John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019).
2. The Raid 2 (2014)
Sutradara: Gareth Evans
Pemeran: Iko Uwais, Arifin Putra, Oka Antara, Julie Estelle
Durasi: 150 menit
Nonton di: Netflix
Rama (Iko Uwais) menyamar sebagai narapidana demi menyusup ke sindikat kriminal besar dengan misi mendekati putranya, Uco (Arifin Putra), demi mengungkap jaringan korupsi yang menghubungkan pejabat polisi dengan dunia bawah tanah Jakarta. Skala cerita The Raid 2 jauh lebih besar dari film pertamanya. Dari satu gedung apartemen, meluas jadi jaringan penjara, perang antargeng, dan intrik politik.
Menariknya, The Raid 2 sebenarnya adalah proyek awal Gareth Evans sebelum The Raid pertama. World premiere di Sundance Film Festival 2014 sekaligus jadi Official Selection SXSW tahun yang sama, film ini membawa karakter ikonik baru seperti Hammer Girl (Julie Estelle) dan Baseball Bat Man.
1. Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023)
Sutradara: Yandy Laurens
Pemeran: Ringgo Agus Rahman, Nirina Zubir, Alex Abbad, Sheila Dara Aisha
Durasi: 117 menit
Nonton di: Netflix
Puncak dari daftar ini jatuh pada Bagus (Ringgo Agus Rahman), penulis skenario yang selama ini hanya menulis film adaptasi diam-diam menulis naskah orisinal pertamanya berdasarkan kisah nyata: jatuh cintanya pada Hana (Nirina Zubir), teman lamanya semasa SMA yang baru saja kehilangan suaminya. Upaya Bagus mendekati Hana terus terhalang oleh proses berduka Hana yang belum selesai dan kesulitannya membuka hati kembali.
Yang membuat film ini unik secara visual adalah sekitar 80% adegannya ditampilkan dalam gaya hitam putih. Ini dilakukan Yandy Laurens untuk menggambarkan dunia Hana setelah kehilangan pasangannya. Pilihan berani ini terbayar lunas, JCSFF menyapu bersih tujuh Piala Citra di Festival Film Indonesia 2024, termasuk Film Cerita Panjang Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik.
Di kancah internasional, film ini bahkan masuk daftar 10 film romantis terbaik dunia tahun 2023 versi Letterboxd. JCSFF sejajar dengan Past Lives (2023) dan All of Us Strangers (2023), capaian yang mengukuhkan posisinya sebagai film Indonesia dengan rating tertinggi di platform tersebut.