Banyak film aksi dan superhero seringkali direduksi sebagai popcorn movie. Istilah ini melekat pada sebuah film dan dianggap hanya sebagai hiburan semata tanpa membawa tema maupun cerita yang kompleks. Tapi, benarkah gelar popcorn movie memiliki makna negatif?
Awal istilah “popcorn movie”
Pemberian gelar popcorn movie pada sebuah film sering dianggap merendahkan. Padahal istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan film yang lebih mementingkan kesan menghibur. Film jenis ini memiliki cerita yang mudah diikuti tanpa memberatkan penonton dengan plot yang kompleks atau tema yang terlalu rumit.
Cambridge English Dictionary mendefinisikan popcorn movie sebagai film yang sangat populer tetapi tidak serius. Sutradara tak membuat ceritanya sehingga penonton terlalu banyak berpikir. Collins punya definisi yang lebih sederhana: film ini dibuat untuk menyasar penonton umum.

Istilah ini berasal dari gabungan sederhana antara film dan popcorn, makanan ringan yang identik dengan pengalaman menonton di bioskop. Wiktionary mencatat penggunaan istilah tersebut dalam sumber tertulis setidaknya sejak 1994, ketika sebuah ulasan menyebut film Drop Zone sebagai “pure popcorn movie”.
Namun, istilah ini akhirnya tidak merujuk pada satu film atau satu momen saja. Dari tahun ke tahun, penggunaannya berkembang sebagai ungkapan bagi film yang lebih menawarkan cerita menghibur yang ringan dan mudah dinikmati.
Steven Spielberg bahkan menggunakan istilah tersebut dengan cara yang menarik ketika membicarakan Minority Report (2002). Ia menyebut film tersebut sebagai “a gourmet popcorn movie” dan menganggap bahwa film blockbuster tetap bisa menjadi hiburan populer tanpa harus memberikan plot yang berat.
Generalisasi “popcorn movie”
Walaupun semakin banyak yang menggunakan istilah ini, namun tidak ada daftar resmi film yang termasuk popcorn movie. Istilah ini lebih merupakan label informal dari kritikus, media, pembuat film, atau penggemar sinema pada umumnya.
Beberapa film yang sering mendapatkan label tersebut adalah Back to the Future (1985), Jurassic Park (1993), sebagian besar iterasi Star Wars, hingga berbagai film superhero atau blockbuster yang seringkali dirilis pada musim panas a.k.a summer blockbuster.
Jurassic Park, misalnya, pernah disebut sebagai “big-budget popcorn movie” oleh beberapa kritikus. Los Angeles Times juga memasukkan Jurassic Park bersama The Fugitive, The Firm, dan In the Line of Fire dalam pembahasan mengenai film-film popcorn musim panas 1993.
Sementara itu, kritikus Steve Englehart menyebut Mad Max: Fury Road (2015) sebagai contoh nyata dari apa yang dimaksud dengan popcorn movie, terutama karena film tersebut mengandalkan rangkaian aksi, stunt, dan spektakel visual yang sangat intens.
Betsy Sharkey dari Los Angeles Times memberikan definisi yang lebih menarik. Menurutnya, misi utama popcorn movie adalah menghibur. Capaian lainnya yang membuat penonton berpikir atau menangis hanya sebagai pelengkap. ia juga menekankan bahwa film seperti ini tetap membutuhkan karakter yang membuat penonton peduli.
Tidak semua film “dangkal”
Salah besar jika menyamaratakan semua film yang bertujuan menghibur sebagai popcorn movie. Bahkan beberapa film yang hanya menekankan perkelahian atau cerita yang ringan seringkali memiliki gagasan maupun tema yang jauh lebih kompleks.
The Day After Tomorrow (2004) contohnya. Dipasarkan sebagai hiburan blockbuster tentang bencana alam. Namun, Ronald Meich sebagai kreator menyelipkan tema untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap perubahan iklim. Majalah Time bahkan menulis bahwa tema pemanasan global memberikan film tersebut titel “political heft” dibandingkan popcorn movie.
Contoh lainnya ada pada Mad Max. Meski sangat cocok dengan gambaran film aksi blockbuster, sejumlah kritikus melihat Fury Road punya nilai estetika dan politik yang lebih besar. Los Angeles Review of Books, misalnya, membahas bagaimana film tersebut dapat dibaca melalui representasi gender dan mengangkat isu tentang perempuan.
Bahkan Back to the Future, yang sering dianggap sebagai film hiburan receh, pernah dipuji sebagai film yang jauh lebih kompleks. Ulasan Montreal Film Journal menyebutnya sebagai “bona fide masterpiece” dan menyoroti bagaimana film tersebut menyentuh hubungan orang tua-anak, identitas, serta perjalanan waktu.
Pada akhirnya, popcorn movie bukan berarti film yang buruk, bodoh, atau tidak memiliki makna. Istilah ini lebih tepat digunakan untuk menggambarkan prioritas sebuah film terhadap hiburan, aksesibilitas, dan memberikan pengalaman menonton yang menyenangkan. Bisa jadi hiburan yang ringan tapi masih punya kedalaman cerita yang luas ketika dikulik lebih dalam.

