Review Film Jojo Rabbit (2019): Satir Holocaust Lucu yang Membuka Mata

review film jojo rabbit indonesia

Film Jojo Rabbit adalah karya teranyar sutradara Taika Waititi yang menghantarkannya mendapatkan berbagai penghargaan termasuk piala Oscars 2020 untuk kategori naskah adaptasi terbaik. Layaknya film-film Taika Waititi, kamu bisa berharap untuk menyaksikan komedi receh nan nyeleneh khas sutradara dari New Zealand itu.

Berbeda dari Thor: Ragnarok atau Hunt for Wilderpeople, di Jojo Rabbit Taika lebih bisa menempatkan timing komedinya dengan baik mengingat film ini mengangkat isu sensitif tentang Nazi dan Holocaust.

Sinopsis film Jojo Rabbit

Bercerita tentang Jojo Bletzer, bocah 10 tahun fanatik Nazi. Saking fanatiknya, ia menciptakan Adolf (Taika Waititi), teman khayalannya yang merupakan perwujudan imajinasinya tentang sosok Hitler. Sejak kecil Jojo sudah terobsesi agar bisa menjadi sahabat sekaligus ajudan Hitler. Tapi, pertemuan Jojo dengan Elsa, seorang gadis yahudi perlahan membuka matanya.

Timing komedi yang lebih tepat

Film Taika selalu mengocok perut dari awal sampai akhir. Sebut saja Thor: Ragnarok yang selalu menyisipkan lelucon di setiap adegannya. Tak sedikit penonton menganggap film Taika terlalu receh, membuat adegan yang seharusnya dramatis malah menjadi lucu.

Jojo Rabbit sedikit berbeda. Walau masih didominasi lelucon receh yang mengocok perut, film ini bisa menampilkan adegan-adegan dramatisnya dengan serius tanpa sisipan lelucon di dalamnya.

Hasilnya, Roman Griffin Davis yang memerankan Jojo dan Scarlett Johansson yang memerankan Rosie, ibu Jojo, bisa memaksimalkan akting mereka di adegan dramatis dan masuk berbagai nominasi ajang penghargaan.

Ya, walau ini adalah film Holocaust satir nan lucu, para bintangnya tetap tampil memukau. Mereka lucu di adegan komedi tapi tetap serius di adegan dramatis.

review film Jojo Rabbit indonesia
Via IMDb

Tak hanya Scarlet dan Roman saja yang tampil bagus. Sam Rockwell dan Thomasin Mckenzie yang memerankan Captain K si Nazi dan Elsa si gadis Yahudi juga berakting sangat bagus. Tak sekali, mereka bisa menyampaikan cerita hanya dengan ekspresi atau tatapan mata mereka.

Walau begitu, ada juga beberapa karakter yang kehadiran mereka memang lebih untuk kepentingan komedi saja, seperti Finkel yang diperankan Alfie Allen (John Wick, Game of Thrones), Fraulein Rahm yang diperankan Rebel Wilson (Cats), dan Yorki yang diperankan Archi Yates yang sukses jadi scene stealer di setiap kehadirannya.

Lucu tapi berisi

Memang film Jojo Rabbit adalah film komedi satir. Tapi jangan salah. Setiap lelucon atau adegan lucu yang hadir tidak hanya berguna untuk membuat penonton tertawa saja. Layaknya satir, ada pesan yang terselip di setiap lelucon-leluconnya, yaitu pesan anti kebencian.

Yang sering menjadi objek lelucon adalah Nazi. Taika seperti ingin menunjukkan kalau obsesi Nazi mendominasi dunia dan merasa lebih baik dari kelompok lain adalah suatu hal yang konyol.

Di film ini, Nazi lebih sering menghabiskan waktu untuk menyampaikan salam Heil Hitler. Mereka memaksakan diri untuk menciptakan peralatan canggih padahal konyol seperti baju perang dari kertas.

Anak-anak dan remaja dicuci otaknya agar percaya dengan propaganda Nazi dan yang percaya dengan propaganda itu ditampilkan seperti orang bodoh.

jojo rabbit movie review
Via IMDb

Jojo Rabbit seperti ingin memperlihatkan kalau Nazi membuat propaganda menjelek-jelekkan kelompok yang berbeda dari mereka tanpa menyadari kalau mereka sendiri juga konyol dan tidak jauh berbeda dari kelompok yang mereka benci.

Lelucon-lelucon tentang Nazi ini disampaikan dengan mulus dalam adegan yang tidak terlihat seperti potongan-potongan sketsa lucu seperti film-film komedi kebanyakan. Dan hebatnya, semua lelucon itu mendukung tema film ini yaitu anti kebencian.

Kontroversi film Jojo Rabbit

Walau menyenangkan, film Jojo Rabbit tidak lepas dari pro dan kontra. Tak sedikit kritikus dan penonton yang menyayangkan keputusan Taika untuk menampilkan Nazi yang lucu di film ini. Mulai dari tentara Nazi hingga Gestapo yang di film-film Holocaust selalu memberikan kesan berbahaya dan kejam dibuat nyeleneh di film ini.

Nazi memang digambarkan dengan lucu, tapi seperti yang saya sebutkan tadi, ketika adegan dramatis, Jojo Rabbit bisa menyampaikan bahaya paham Nazi dengan serius. Seperti adegan kedatangan Gestapo (Stephen Merchant) ke rumah Jojo yang sukses menjadi roller coaster emosi, lucu-lucu menegangkan.

Penggambaran Nazi yang agak ramah ini tidak lepas dari sudut pandang tokoh utamanya. Jojo sebagai anak 10 tahun fanatik Nazi yang mengidolakan Adolf Hitler tentu melihat Nazi bukan sebagai sesuatu yang sangat berbahaya, tidak sampai ia sadar.

Film Jojo Rabbit juga tetap mampu memberikan kesadaran pentingnya mengetahui tentang Holocaust agar sejarah kelam itu tak terulang kembali.

review film Jojo Rabbit
Via IMDb

Elsa yang merupakan gadis Yahudi digambarkan sangat takut untuk keluar rumah dan terpaksa mengunci dirinya di dalam dinding karena takut dengan perburuan yang dilakukan Nazi dan pengikutnya.

Walau sukses menyampaikan pesan anti kebencian, yang jadi masalah dari film Jojo Rabbit sepertinya adalah masih ada orang-orang yang tidak tahu tentang Perang Dunia Kedua atau Nazi, contohnya saja anak-anak.

Tanpa pengawasan orang tua, seteleh menonton ini anak-anak bisa saja menganggap Nazi tidak terlalu menyeramkan dan mengucapkan salam Heil Hitler ke semua orang yang mereka temui.

Kesimpulan

Film Jojo Rabbit adalah sebuah hiburan yang sangat lucu, menyenangkan, menyentuh, dan juga membuka mata. Film ini ingin menyampaikan bahwa kita tidak boleh merasa lebih baik dari orang lain dan membenci yang berbeda dari kita karena semua manusia sama. Jojo Bletzer yang awalnya fanatik Nazi perlahan belajar mencintai dan menerima perbedaan dari Elsa, orang yang sangat ia benci, karena Jojo mau membuka mata dan hatinya.

Rating: 8/10

Genre: Comedy, Drama, War

Sutradara: Taika Waititi

Penulis: Taika Waititi (naskah), Christine Leunens (novel)

Bintang: Roman Griffin DavisThomasin McKenzieScarlett Johansson

Review Overview
  • 8.5/10
    Film Bagus Banget! - 8.5/10
8/10

Summary

Film Holocaust Satir ini menyampaikan pesan anti kebencian bahwa semua manusia sama dan harusnya bisa menerima perbedaan lewat adegan-adegan lucu yang menyenangkan tanpa mengurangi sisi dramatisnya.

Sending
User Review
0/10 ( votes)

Sedang belajar mengedit tulisan di Mariviu.