Empat Musim Pertiwi beberapa waktu lalu diumumkan sebagai perwakilan Indonesia untuk Best International Feature pada ajang Academy Awards tahun depan. Ceritanya membahas tentang banyak hal yang dirasakan oleh perempuan, termasuk rasa sakit dan trauma kolektif yang jarang disampaikan film Indonesia lainnya.
Sinopsis Empat Musim Pertiwi
Dalam trailer yang dirilis beberapa waktu lalu, Empat Musim Pertiwi menghadirkan cerita tentang Pertiwi yang kembali ke kampung halamannya. Diperankan oleh Putri Marino, ia kembali setelah 20 tahun mendekam di penjara akibat membunuh orang-orang yang memerkosanya.
Ditemani lanskap Bromo yang memesona, kepulangan Pertiwi disambut dengan berbagai cerita. Ada yang gembira menyambutnya, ada pula yang tak menyukai kedatangan kembali Pertiwi di desa mereka.
Penonton akan diajak menyelami musim-musim Pertiwi dan apa saja yang dialaminya dalam kepulangannya. Sebagian besar mengisahkan ketidakadilan yang dialami oleh Pertiwi, sejak masa muda sampai rasa sakit yang ia rasakan ketika pulang.
“Dengan mengikuti Pertiwi, kita bisa sedikit melihat bagaimana bahkan dengan kerapuhan, seseorang juga bisa menemukan kekuatan-kekuatan atau bahkan menjadi kekuatan juga untuk orang lain,” terang Kamila dalam pernyataan resminya.
Menghadirkan keindahan Bromo dalam berbagai genre
Dikenal juga dengan nama Four Season of Java untuk versi internasionalnya, film ini menghadirkan pengalaman sinematik yang berbeda dari kebanyakan sinema Indonesia lainnya.

Jika Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) menampilkan lanskap Sumba, Kamila membawa keindahan Bromo dalam film ini. Tak jauh berbeda dengan Marlina yang menjunjung tinggi ranah Western, Kamila juga menyematkan rasa cowboy dengan kearifan lokal Jawa Timur.
Menariknya, Kamila juga menggabungkan berbagai genre. Yang paling jelas tentu saja drama, tapi ada juga nuansa suspense thriller, misteri, sampai dengan selipan gaya fiksi ilmiah yang menghiasi ceritanya.
Ditulis dan disutraradari oleh Kamila, ia menyampaikan jeritan hati wanita yang tumbuh besar sembari terus menyimpan rasa sakit yang pernah ia rasakan. Melalui Pertiwi, Kamila mengulas trauma kolektif yang mungkin banyak dirasakan oleh wanita di seluruh dunia.

Jangan harap ceritanya bakal menyenangkan. Karena ada banyak cerita yang akan disampaikan membuat film ini punya daya tariknya tersendiri. Setiap wanita di film ini bergumul dengan masalah mereka sendiri. Termasuk bagian akhirnya yang mungkin belum bisa dicerna dengan mudah oleh banyak orang.
Empat Musim Pertiwi sebelumnya sudah diputar secara terbatas. Sedangkan pemutaran resminya di bioskop Indonesia tayang mulai 8 Oktober 2026 mendatang, bertepatan dengan penayangannya di Busan International Film Festival (BIFF) 2026.

