Jakarta Film Week (JFW) 2026 resmi dibuka pada Rabu (21/10) di CGV Grand Indonesia. Festival yang memasuki edisi keenam ini berlangsung hingga 25 Oktober 2026 dengan tema Encounters, dan dibuka lewat pemutaran film Singapura Ah Girl.
Pembukaan Jakarta Film Week 2026
Dilansir dari rilisan resminya, tahun ini ada 157 film dari 59 negara yang tayang di CGV Grand Indonesia, CGV FX Sudirman, Taman Ismail Marzuki, Mercure Jakarta Cikini, Paviliun Raden Saleh, Artotel Curated, dan FX Sudirman. Tahun ini, JFW bahkan menerima lebih dari 1.200 film dari 82 negara pada tahap pendaftaran.
Upacara pembukaan dihadiri Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, perwakilan sejumlah kedutaan besar, para juri, serta filmmaker dan aktor dari dalam maupun luar negeri.
Rano Karno menyebut Jakarta berkomitmen memperkuat ekosistem perfilman dan memperluas akses masyarakat terhadap film. Festival Director Rina Damayanti menyatakan JFW ingin menjadi ruang pertemuan antara cerita, pembuat film, dan penonton.
Acara dibuka dengan sambutan pemerintah dan penyelenggara, lalu dilanjutkan pemutaran film Ah Girl. Film panjang pertama sutradara Ang Geck Geck Priscilla ini mengambil latar Singapura tahun 1994. Mengisahkan Swee Swee (Xuanjing Ong), anak perempuan berusia tujuh tahun yang mencoba memahami dinamika keluarga dan dunia di sekitarnya.
Nantinya, berbagai film populer dan penting sepanjang tahun 2026 akan diputar selama festival berlangsung. Sedangkan adaptasi novel Leila Chudori, Laut Bercerita (2026) dipersiapkan sebagai film penutup Jakarta Film Week tahun ini.
Dihadiri legenda Asia, Sammo Hung
Kehadiran aktor sekaligus sutradara laga legendaris asal Hong Kong, Sammo Hung, menjadi sorotan utama malam itu. Ia hadir lewat JFWNET–Industry Program dan menggelar masterclass bertajuk Encounters of the Martial Mind: A Masterclass with Sammo Hung dengan kapasitas sekitar 500 peserta.
Sammo Hung juga menjadi benang merah program Made in Hong Kong, yang memutar sejumlah film terkait perjalanan kariernya, seperti Encounters of the Spooky Kind (1980), Eastern Condors (1987), dan The Bodyguard (1992).

Selain Hong Kong, tahun ini JFW menambah ragam program untuk berbagai kalangan. Family Time mengajak anak dan keluarga berdialog setelah menonton, Herstory menyoroti pengalaman perempuan lengkap dengan lokakarya, dan Emergency Broadcast membuka diskusi tentang hubungan film dengan realitas politik sehari-hari.
Dari sisi industri, JFWNET–Industry Program menghadirkan Producers Lab, Pitching Forum, Talents Hub, Industry Talks, dan Festival Meeting, serta masterclass bersama sineas Neo Sora dan Jeremie. Aktor Ali Fikry, yang menjadi Festival Ambassador, mengajak penonton membawa pulang ide dan cerita dari festival ini.
Tiket program publik dijual secara on-the-spot (OTS) sesuai ketersediaan, dengan jadwal dan harga yang bisa dicek di jakartafilmweek.com dan akun @jakartafilmweek. Sebagian program pilihan juga tayang daring lewat Vidio.

