Serial The Scandal jadi fenomena baru di Netflix. K-Drama dengan nuansa dewasa ini membahas tentang kehidupan wanita di era Joseon. Perempuan hanya dipandang sebagai objek dan keterasingannya di masyarakat membuat mereka harus menjadi ‘villain’ untuk bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Sinopsis The Scandal
Berlatar dinasti Joseon, serial ini pada awalnya mengisahkan tentang Lady Cho dan suaminya. Ia mengetahui bahwa suaminya ingin memiliki selir lagi karena mereka berdua telah lama menikah namun belum memiliki anak.
Untuk menghindari anggapan buruk dari masyarakat, Lady Cho meminta sepupunya, Cho Won (Ji Chang-wook) mendekati Hui-yeon (Nana) dan menggodanya. Cho Won menyanggupi tantangan tersebut karena ia sebenarnya sudah lama menyimpan perasaan terhadap Lady Cho.
Berbagai cara dilakukan Cho Won untuk bisa mendekati Hui-yeon. Tapi Hui-yeon yang merupakan seorang janda selalu menutup diri. Ia beranggapan bahwa ia harus terus menjaga kesuciannya sebagai bukti baktinya kepada suaminya yang telah berpulang.
Keterasingan perempuan di era Joseon
Banyak yang beranggapan bahwa Cho Won adalah playboy yang memperdaya perempuan supaya bisa berhubungan seksual dengannya. Tapi ternyata dia melakukannya supaya bisa mendapatkan pengakuan dari sepupunya, Lady Cho.

Lady Cho juga tak bisa dianggap “real villain” walaupun memang dia yang memanipulasi Cho Won. Cho jadi manipulatif karena dia adalah seorang wanita pintar, tapi dipenuhi dengan rasa frustasi dan dikekang oleh masyarakat era Joseon yang lebih mementingkan laki-laki.
Dan tak heran jika dia menyuruh Cho Won buat menghamili Hui-yeon (Nana). Ini dilakukan supaya dia dan suaminya punya keturunan dan terhindar dari sindiran masyarakat. Orang-orang Joseon memang lebih sering menimpakan kesalahan pasangan yang tak memiliki anak kepada pihak wanita.
Dia pada awalnya tak mau orang-orang tahu suaminya tidak subur. Apabila suaminya memiliki selir lagi dan selirnya tak bisa hamil, orang-orang bisa saja menghina suaminya karena tahu suaminya impoten atau tidak bisa memiliki anak. Jadi memang taruhan ini dibuat semata-mata demi harga diri Lady Cho.

Namun ini tak dijelaskan secara eksplisit di dalam cerita. Tak ada flashback atau dialog yang menjelaskan apakah dia atau suaminya yang tak subur. Tapi di episode 1, dia menutupi hal ini dengan menyebutkan bahwa, “ini salah saya karena kami tak punya anak”. Kenyataan yang menyakitkan ini yang bikin dia menjadi manipulatif.
Hui-yeon jadi pihak yang paling tersiksa oleh permainan Lady Cho dan Cho Won. Sikapnya yang berpegang teguh untuk menghindari godaan laki-laki lain setelah kematian suaminya harus pupus di tengah godaan Cho Won.
Kritikan terhadap masyarakat era Joseon
Baik Hui-yeon dan Lady Cho sama-sama merepresentasikan wanita yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat di era Joseon. Wanita hanya digambarkan sebagai ‘pabrik anak’ dan tak dianggap spesial walaupun memiliki kepintaran melebihi laki-laki.
Lady Cho yang sebenarnya pintar namun tidak bisa dengan bebas menggunakan kepintarannya. Ia juga tak bisa mendapatkan peluang yang sama dengan laki-laki. Sehingga terlihat bagaimana keluarganya selalu memprioritaskan Cho Won hanya karena Cho Won adalah seorang laki-laki.
Bahkan ia harus menekan semua ambisi, keinginan, dan kemarahannya. Ia diminta untuk selalu bertindak lemah lembut dan tidak boleh marah jika ada orang yang menggunjingkannya. Kekuasaannya dikontrol oleh sang suami, sehingga ia mau tak mau menggunakan kepintarannya untuk memanipulasi Cho Won.

Sedangkan Hui-yeon harus menaati peraturan tidak tertulis di masyarakat hanya karena ia merupakan seorang janda. Ia disuruh untuk bertindak dengan lemah lembut dan menjaga kesuciannya. Eksistensinya hanya tergantung pada reputasinya, sehingga ia harus mengekang segala keinginannya.
Serial ini punya pengembangan karakter yang bagus. Lady Cho tak serta merta digambarkan sebagai penjahat, tapi jadi “sympathetic villain” atau orang yang moralnya abu-abu. Hal ini dilakukannya karena tekanan dari masyarakat dan untuk terus menikmati gelar bangsawan yang didapatkannya dari suaminya.
The Scandal mengkritisi masyarakat dimana wanita yang pintar, kaya, atau berkuasa bahkan tidak bisa dengan bebas mengontrol pernikahan, pendidikan, dan masa depannya. Bahkan di satu sisi, mereka juga dikontrol dalam bentuk seksualitas dan dipaksa untuk menyembunyikan hasrat seksual mereka.

