poster film When the Crawdads Sing
Film, Review

Review Film When the Crawdads Sing (2022): Adaptasi Aman Romantisme Kisah Remaja

Film When the Crawdads Sing karya Olivia Newman mengadaptasi novel misteri pembunuhan populer berjudul sama yang ditulis oleh Delia Owens. Menghadirkan kisah Kya melalui romantisme kehidupan di rawa dengan konflik antar manusia namun terasa tak begitu mulus akibat batasan medium dan durasi.

Sinopsis film When the Crawdads Sing

Catherine Danielle Clark atau Kya (Daisy Edgar Jones) yang hidup sendirian di sebuah paya atau rawa dangkal dituduh sebagai pembunuh Chase Andrews (Harris Dickinson). Ia lalu ditolong oleh seorang pengacara tua, Tom Milton (David Strathairm) yang membelanya. Di mana ia menceritakan masa kecilnya kepada Tom.

Daisy Edgar-Jones dan David Strathairn
via Sony Pictures

Ditinggal oleh seluruh keluarganya, Kya tumbuh sendirian dengan menjual kerang ke toko milik Jumpin (Sterling Macer Jr.). Sedari kecil, ia berkenalan dengan tate (Taylor John Smith) yang merupakan teman abangnya. Ketika mengajari Kya membaca dan menulis, mereka semakin dekat dan akhirnya berpacaran.

Tiba-tiba Tate meninggalkannya. Ia lalu berkenalan dan mulai berpacaran dengan Chase. Demi mendapatkan uang untuk mempertahankan rumahnya, ia lalu mengirimkan gambar hewan yang ia kumpulkan di waktu senggang ke penerbit. Tapi hubungannya dengan Chase semakin renggang.

Romantisme kehidupan

Berbeda dengan versi novel yang menerangkan kehidupan Kya secara runut dari waktu kecil hingga tua, Olivia sebagai sutradara mengantarkan cerita melalui plot maju-mundur. Memulai dari kisah kematian Chase, penangkapan Kya, baru menceritakan tentang kehidupan Kya serta pertemuannya dengan Chase.

Perubahan ini tentunya memberikan warna baru bagi pembaca sumber aslinya. Tapi masalahnya, pergantian antara kisah Kya yang berwarna serta ruang sidang yang terkesan flat mengganggu pace cerita dan narasi. Setidaknya mampu membawa dinamika tersendiri dan mencegah kebosanan dari dua jam film ini berjalan.

kya
via Sony Pictures

Cara penceritaan ini cukup membantu mengingat progresi plot bisa dibilang tak begitu cepat. Di mana cerita mendayu-dayu dan romantisme segala hal yang dialami oleh Kya; kesendirian, hubungannya dengan laki-laki toxic, serta jauh dari kehidupan berada dan hanya mendapatkan uang dari berjualan kerang.

Sebagian besar adegan berada di tepi paya, atau rawa dangkal di mana Kya menghabiskan sebagian besar kehidupannya. Menghadirkan pemandangan paya dan pantai yang fotogenik. Tapi masih terasa kurang cerah dibandingkan film lain yang mengandalkan setting alam. Termasuk CGI yang mengurangi daya magis dari latar film ini.

Terbatas medium dan durasi

Film ini merupakan adaptasi novel best seller karya Delia Owens dengan judul yang sama. Sehingga jelas terasa bagaimana Olivia sebagai sutradara ingin menghadirkan kembali sebuah film yang ditonton layaknya membaca sebuah novel di sore yang terik.

Narasi tentang masa remaja Kya dibuat mendayu-dayu dan heartwarming. Meski secara realita, kehidupannya terasa mengenaskan; penghasilan yang tak memadai, tinggal sendirian di pinggir rawa, dan bahkan tanpa listrik.

Daisy Edgar-Jones
via Sony Pictures

Konflik antara Kya yang dipinggirkan oleh masyarakat lainnya terasa samar-samar, dimana kisah percintaannya lebih melekat dan mudah diterjemahkan ke dalam cerita. Padahal Daisy Edgar Jones terbilang apik menghadirkan karakter Kya yang dinamis dan kompleks.

Mungkin yang membuat film ini tak begitu membekas layaknya versi tulisan adalah medium yang terbatas durasi. Di mana konflik dan tema lainnya seakan tenggelam oleh naskah yang lebih condong pada kisah antara Kya dengan Tate dan Chase. Membiarkan penonton menggali lebih dalam berdasarkan petunjuk-petunjuk yang disisipkan di antara cerita.

5 detik yang mengubah segalanya

Yang membuat film ini menarik, seperti novelnya, adalah bagian akhir yang penuh dengan twist. Adegan berdurasi hanya sekitar lima hingga sepuluh detik tersebut mampu mengubah keseluruhan tone dari cerita Kya.

film When the Crawdads Sing
via Sony Pictures

Dari kisah romansa tentang seorang gadis yang berjuang diri sendirian, penonton diarahkan kembali pada tema drama pembunuhan yang menjadi inti cerita ini. Mengubah tone yang sudah dibangun dengan apik dari awal hingga akhir cerita.

Perubahan tersebut menghadirkan keseruan tersendiri pada film ini. Perubahan di akhir membuat ceritanya menjadi lebih mengena dan menyadarkan bahwa film ini bukanlah hanya kisah romansa biasa.

Sebenarnya alur yang menuju ke plot twist di akhir ditampilkan sekilas pada adegan flashback. Tapi tak begitu jelas sebagaimana disampaikan pada versi aslinya. Mungkin bagi kamu yang sudah membaca bukunya, plot twist tersebut tak begitu mengejutkan.

Daisy Edgar-Jones dan Taylor John Smith
via Sony Pictures

Untuk sebuah adaptasi yang terlepas dari novel, film When the Crawdads Sing membawa kisah perjalanan gadis remaja yang mendayu-dayu dengan segala romansa percintaan dan hubungan antar manusia. Tapi di sisi lain, karya Olivia kehilangan magis yang hanya bisa disampaikan oleh versi aslinya.

Genre: Drama, Misteri

Sutradara: Olivia Newman

Penulis Naskah: Lucy Alibar

Pemeran: Daisy Edgar-Jones, Taylor John Smith, Harris Dickinson

Rekomendasi Film Terbaik
7/10

Summary

Untuk sebuah adaptasi yang terlepas dari novel, film When the Crawdads Sing membawa kisah perjalanan gadis remaja yang mendayu-dayu dengan segala romansa percintaan dan hubungan antar manusia. Tapi di sisi lain, karya Olivia kehilangan magis yang hanya bisa disampaikan oleh versi aslinya.

Leave a Reply