Review Film The Darkest Minds (2018) – Film Adaptasi Novel Young Adult yang Asyik

Jika diingat-ingat lagi, ada banyak film adaptasi novel young adult yang telah beredar, mulai dari seri The Hunger Games, Divergent, Maze Runner, hingga I am Number Four. Ada yang membekas dan bertahan hingga akhir lalu ada yang terlupakan dan gagal dalam seleksi alam. Setelah beberapa tahun Hollywood tidak membuat film serupa, tiba-tiba di tahun 2018 film The Darkest Minds muncul membawa cerita remaja dengan kekuatan super di sebuah distopia, seperti dibuat untuk mengikuti tren film superhero. Jangan harap akan disajikan pertarungan kekuatan super yang megah karena film ini adalah adaptasi novel distopia young adult yang cenderung masih mirip dengan senior-seniornya namun termasuk salah satu yang bagus dan juga menghibur.

Diadaptasi dari novel distopia young adult berjudul sama karya Alexandra Bracken, para “pahlawan super” mendapatkan kekuatan mereka bukan dari mutasi genetika a la X-Men, tapi dari sebuah virus yang membunuh hampir semua anak umur di bawah 18 tahun. Mereka yang berhasil bertahan hidup akan dianugerahi satu dari lima kekuatan yang dibagi berdasarkan warna pupil mereka ketika menjadi “mutant”. Hijau memiliki kecerdasan luar biasa. Kuning mampu memanipulasi energi listrik. Biru bisa melakukan telekinesis. Anak-anak yang memiliki tiga macam kekuatan ini ditangkap oleh pemerintah alias orang dewasa dan dikurung di dalam sebuah kamp konsentrasi. Sedangkan dua warna lagi, merah dan oranye, dianggap  paling berbahaya sehingga mereka akan langsung dibunuh di tempat, katanya.

film adaptasi novel young adult terbaik
Ruby dalam kamp konsentrasi Via Advocate

Tentu saja, seperti novel distopia young adult lainnya, tokoh utama kita, Ruby (Amandla Stenberg), dianugerahi kekuatan yang paling istimewa, yaitu oranye (bukan spoiler). Ruby kemudian berusaha keluar dari kamp konsentrasi dan bersama teman-temannya ia pergi mencari sebuah tempat utopia bagi semua anak-anak, sambil bersembunyi dari serangan pemerintah dan pemburu bayaran.

Sebenarnya film The Darkest Minds memiliki potensi untuk menjadi sebuah film “superhero yang bagus. Namun tampaknya sang sutradara, Jennifer Yuh Nelson, ingin mengadaptasi novelnya menjadi tipikal film remaja. The Darkest Minds, memiliki pola sama dengan film-film seperti The Hunger Games, Maze Runner dan seterusnya, yaitu perjuangan anak muda melawan tirani orang dewasa dalam sebuah distopia yang dibumbui dengan alunan musik kekinian yang diputar bertubi-tubi (untung aja enak didengar) lengkap dengan romansa cheesy khasnya. Mungkin novelnya, yang kebetulan belum pernah saya baca, memang sangat juvenile.

review film the darkest minds
Ruby dan Liam Via IMDB

Namun ada yang istimewa dari film ini. Awalnya agak skeptis tentang bagaimana sang sutradara akan mengenalkan kekuatan super yang ada karena ini sering menjadi blunder. Beberapa film X-Men dan serialnya terlihat fokus hanya untuk “pamer” dalam memperkenalkan ragam kekuatan yang ada. Sedangkan film The Darkest Minds berhasil menampilkannya dengan halus hanya untuk momen-momen krusial, lucu dan romantis. Hanya sebagian kecil saja dari penggunaan kekuatan super yang terlihat cheesy dan lebay.

Diperankan oleh wajah muda, hubungan empat protagonis, Ruby, Liam (Harris Dickinson), Chubs (Skylan Brooks) dan Zu (Miya Chech) terasa sangat manis dengan balutan sebuah road trip berkekuatan super a la Logan. Dalam perjalanan menuju utopia yang didambakan, mereka mengenal satu sama lain. Tentu saja perjalanan mereka tidak akan berjalan mulus. Ada masalah kepercayaan yang terjadi, hubungan romantis Ruby dan Liam dengan aturan tidak boleh menyentuh seperti Rogue dan Bobby di X-Men, dan serangan pemburu hadiah yang diperankan oleh sang Brienne Tarth, Gwendoline Christie.

Film yang memiliki tribute (entah sengaja atau tidak) untuk adegan “I don’t feel so good”-nya Infinity War ini memiliki beberapa adegan bertempo lambat. Untungnya dialog yang asyik dan kisah romantis Ruby dan Liam yang manis membuat tidak semua adegan itu terasa membosankan. Walaupun asyik, film ini memiliki beberapa plot hole yang mungkin membuat kamu menggaruk-garuk kepala, seperti motif sang villain dalam melakukan [spoiler!] dan [spoiler!]. Satu lagi yang mengganjal dari film The Darkest Minds adalah adegan aksi pertarungan kekuatan super yang terasa lambat dan relatif biasa saja. Jadi jangan bandingkan dengan film superhero yang tersohor.

“Representation Matters”

Film The Darkest Minds juga mengusung representasi kaum minoritas yang memang sedang booming. Para protagonis diperankan oleh aktor dari beragam ras. Lebih hebatnya lagi, tokoh utama dan sutradaranya adalah wanita. Sangat menarik memang. Tapi anehnya, pada saat bersamaan film ini juga terasa seperti melakukan stereotip ras.

the darkest minds film cast
Chubs, Zu, Ruby dan Liam Via IMDB

Warna kuning untuk kekuatan Zu yang merupakan orang asia mengingatkan kepada kontroversi pemeran ranger kuning di serial Mighty Morvin Power Rangers. Pada saat itu, pemilihan orang asia sebagai pemeran ranger kuning dianggap rasis karena menegaskan stereotip warna kuning untuk kulit orang asia.

Selain itu, Ruby dan Chubs yang berkulit hitam juga ditampilkan sebagai karakter yang memiliki masa lalu kelam dan memiliki otak yang encer. Lalu Liam yang berkulit putih menjadi pria paling keren di grupnya. Sedangkan Zu yang punya ras asia, tidak berbicara sama sekali. Ya, terdengar seperti stereotip masing-masing ras di banyak film. Untungnya setiap karakter benar-benar ditampilkan sederajat dan seperti sahabat sekaligus keluarga, tanpa ada diskriminasi.

Ketakutan orang dewasa akan potensi anak muda

Film ini sangat ingin menolak diskriminasi minoritas dan menjunjung tinggi persamaan hak. Warna yang mewakili masing-masing kekuatan mencerminkan perbedaan warna kulit dan ras. Namun jika dilihat lebih dalam lagi, setiap warna kekuatan ini tidak hanya mewakili perbedaan yang ada di dunia tapi juga mencerminkan peranan setiap manusia di dalam masyarakat.

Liam film the darkest minds
Liam Via IMDB

Hijau dengan kecerdasan super melambangkan para ilmuan dan penemu. Kuning yang bisa memanipulasi listrik adalah simbol dari sumber energi. Biru yang bisa telekinesis merupakan simbol dari para pekerja dengan mobilitasnya. Kemudian, dari semua warna kekuatan, yang paling berbahaya adalah merah dan oranye. Merah seperti merepresentasikan kekuatan militer. Memang sangat berbahaya. Namun lebih berbahaya lagi kemampuan yang bisa mengendalikan semuanya, yaitu kekuatan manipulatif yang dimiliki oleh warna oranye.

Oranye yang sangat langka berada di puncak tatanan masyarakat mewakili kemampuan para pemimpin yang bisa memanipulasi otak dan pikiran manusia. Sejarah menunjukkan bahwa kemampuan menanamkan ideologi yang bisa menggerakkan manusia adalah kekuatan paling besar dari semua kekuatan yang ada di dunia. Alasan yang cukup bagi para orang dewasa untuk memburu dan melenyapkan semua anak pemilik kekuatan oranye.

Film The Darkest Minds membalut setiap peranan masyarakat tersebut ke dalam warna dan kekuatan super a la superhero agar menjadi lebih menarik dan digandrungi para pembaca dan penonton. Kekuatan luar biasa yang hanya dimiliki para anak-anak ini mencerminkan potensi semua anak muda. Bagi para orang dewasa yang takut akan potensi tersebut akan mengatur yang bisa diatur dan memusnahkan yang bisa mengganggu dan membahayakan pemerintahan yang telah mereka buat.

Jika punya rencana untuk nonton film The Darkest Minds, jangan terlalu membandingkannya dengan film franchise superhero yang sudah pasti jauh lebih superior. Pastikan ekpektasi memang untuk menonton film remaja yang diadaptasi dari novel distopia young adult. Semoga dengan begitu kamu bisa menikmati film ini sebagaimana saya menikmatinya.

Rating: 3/5


Genre: Sci-Fi, Thriller

Sutradara: Jennifer Yuh Nelson

Penulis: Chad Hodge (screenplay), Alexandra Bracken (novel)

Cast: Amandla StenbergMandy MooreBradley WhitfordHarris DickinsonGwendoline ChristieMiya CechSkylan BrooksPatrick Gibson

Durasi: 104 menit

Avatar photo
Haris Syukri

Sedang belajar mengedit tulisan di Mariviu.

Articles: 182

No comments yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *