Senang rasanya ketika melihat film mempunyai sequel yang menyelesaikan petualangan para karakternya di layar lebar, terutama untuk film yang diangkat dari novel. Setelah Narnia, Divergent, dan Percy Jackson, Hollywood sepertinya bukan tempat yang ramah bagi film dengan genre young-adult fantasy yang membutuhkan beberapa film untuk ditamatkan. Salah satu film adaptasi novel young-adult yang berhasil menamatkan franchise filmnya adalah film Maze Runner: The Death Cure. Bisa dibilang film ini menjadi penutup yang baik bagi trilogi karya James Dashner tersebut.
Di tengah gempuran film superhero dalam beberapa bulan terakhir (Wonder Woman, Thor: Ragnarok, dan Justice League) serta untuk beberapa bulan setelah ini (Black Panther, Avengers: Infinity War, dan Deadpool 2), film superhero seolah menjadi makanan pokok bagi penggemar film di seluruh dunia. Memang, Maze Runner: The Death Cure bukanlah film superhero, tapi paling tidak bagi saya film ini bisa dibilang juga menampilkan perjuangan heorik dari para karakternya.
Kumpulan pahlawan kita, Thomas, Newt, dan Frypan, berkembang dari sekelompok remaja yang menjadi korban penelitian untuk dijadikan sampel obat menjadi pahlawan distopia yang berusaha untuk menyelamatkan sahabat mereka. Mereka berusaha untuk menyelamatkan Minho, yang di akhir cerita kedua, The Scorch Trials, ditangkap oleh W.C.K.D.
Alur cerita film terakhir Maze Runner ini memberikan final yang cukup menegangkan untuk ditonton selama 2 jam lebih. Mulai dari awal cerita, penonton disuguhi film aksi yang menegangkan. Mulai dari aksi kejar-kejaran, penembakan, sampai kemunculan Newt, yang diperankan oleh Thomas Brodie-Sangter, yang dengan sangat ‘dramatis’ sehingga membuat penonton (khususnya wanita!) terkesima.
Perjuangan Thomas dan teman-teman dari Right Arm membebaskan Minho sampai akhirnya menyelamatkan dunia ditampilkan dengan baik. Ketika menonton film ini, kita bisa menemukan film aksi, zombie thriller, sampai drama remaja. Cukup menarik mengingat biaya produksi film ini ‘hanya’ $62 Juta, terlihat kecil untuk sekelas film blockbuster Hollywood dalam beberapa tahun terakhir.
Adegan demi adegan menunjukan pertempuran dengan W.C.K.D di dunia yang lebih ‘nomal’ dibandingkan dengan dua film sebelumnya. Ketika pada dua film sebelumya kental dengan nuansa ‘Mad Max’ yang penuh dengan pasir dan reruntuhan gedung-gedung, kita bisa melihat gedung-gedung yang masih bagus dan berdiri tegak, meskipun tetap dikelilingi oleh kota-kota yang sudah hancur.
Secara keseluruhan, The Death Cure memberikan visualiasasi novel ketiga James Dashner dengan cukup mengagumkan. Seperti halnya ketika kita melihat Harry Potter dengan ke-tujuh bukunya, Wes Ball selaku sutradara mampu menampilkan perjuangan Thomas dalam membasmi W.C.K.D dengan menarik.
Namun, ada yang cukup mengganjal bagi saya selama menonton film ini. Ada beberapa adegan yang terkesan terlalu dipaksakan dan diperlama. Adegan-adegan tersebut mengingatkan saya pada adegan ketika kapten Tsubasa sedang menggiring bola dari gawang ke gawang yang bisa memakan durasi dua episode. Itu yang saya dapatkan dari The Death Cure, bagaimana ‘perpanjangan waktu’ ini sangat mengganggu akhir yang manis dari trilogi ini.
Tapi, bagi anda penggemar Maze Runner, bisa dibilang The Death Cure menjadi penutup trilogi yang bagus dan cukup mengesankan.