Film Land of Bad membuka mata tentang pasukan Amerika dengan dukungan teknisi drone tanpa awak sebagai ‘mata di angkasa’ dengan eksekusi baku hantam dan aksi kelas Hollywood yang menegangkan hingga saat-saat terakhir.
Sinopsis film Land of Bad
JJ “Playboy” Kinney (Liam Hemsworth) merupakan sersan muda yang tak disangka-sangka bergabung dengan kelompok elit Delta Force dalam sebuah misi menyelamatkan seorang agen yang ditahan oleh kartel Rusia di pedalaman Filipina.

Misi ini dibantu oleh Captain Eddie “Reaper” Grimm (Russel Crowe) dari Angkatan Udara Amerika. Ia mendukung misi tersebut secara remote dari pangkalan militer Amerika di Texas sebagai ‘mata’ untuk memberi tahu posisi musuh.
Tak disangka pasukan pemberontak Abu Sayyaf yang dipimpin oleh Hashimi (Robert Rabiah) tiba-tiba datang ke tempat tersebut. Misi yang seharusnya dilakukan dengan diam-diam berubah menjadi pertempuran antar dua pasukan yang membuat Kinney dan Sersan Sweet (Milo Ventimiglia) terpisah.
Sinematografi mumpuni
Membawa premis tentang misi penyelamatan diam-diam yang berujung bencana, sutradara William Eubank menghadirkan sebuah film laga penuh aksi yang menegangkan, bahkan hingga saat-saat terakhir film ini.
Duo keluarga Hemsworth, Luke dan Liam, didukung nama besar lainnya seperti Russell Crowe dan Milo Ventimiglia yang sudah sering wara wiri di deretan film dengan genre yang sama.

Pengalaman sebagai sinematografer juga membuat film ini dipenuhi dengan rangkaian adegan menawan. Termasuk camerawork yang dibikin shaky untuk menyampaikan ketegangan yang dirasakan oleh karakter di dalam film kepada penonton.
Untuk sekadar film aksi, pertarungan dan baku tembaknya terasa sangat nyata. Apalagi ledakan dan koreografi yang membabi buta membawa film ini tak kalah dibandingkan film lain dengan genre sama namun dengan budget yang lebih besar.
Eksekusinya menarik, tapi alur ceritanya masih belum lepas dari plot film perang kebanyakan. Jadi jangan heran jika Land of Bad ga terlalu smooth dalam penyampaiannya, meski masih bisa dibilang menyenangkan untuk sebuah film perang standar.
Kisah tentara JTAC
Film ini awalnya berjudul JTAC (Joint Terminal Attack Controller), atau tentara yang memiliki kualifikasi untuk melakukan serangan melalui udara, seperti menggunakan drone atau pesawat tanpa awak dalam sebuah penyerangan, seperti karakter Kinney.

Selain sebagai sutradara, Eubank juga menulis naskah film ini bersama David Frigerio ketika keduanya sedang melakukan syuting untuk film The Signal (2014). Kolaborasi keduanya yang sudah berlangsung sejak lama menghasilkan sebuah karya dengan cerita yang kompak dan padat.
Aksinya keren, ceritanya menarik, namun film ini masih mengandalkan alur penceritaan yang tak jauh berbeda dengan film tentang misi penyelamatan lainnya, semisal Black Hawk Down (2001) atau Extraction (2020), yang mana karakter utama harus menghadapi kejadian tak disangka-sangka yang membuat misi penyelamatan semakin berbahaya.
Selain heroisme khas film perang Amerika; kuat, tak tergoyahkan, dan mampu mengalahkan musuh yang lebih banyak, tergambar pula egoisme dan patriotisme tentara Paman Sam dengan segala teknologi canggihnya.

Kisah Kinney sebagai tentara rookie jauh lebih menarik dibandingkan Grimm sebagai ‘polisi moral’ di kesatuan ketentaraan. Padahal eksistensi Grimm dalam film ini adalah untuk menyindir para tentara yang menyepelekan tugas mereka, walaupun tugas mereka menyangkut nyawa orang banyak.
Film Land of Bad memberikan pengalaman menonton kisah penyergapan berujung malapetaka yang mendebarkan bagi penggemar film genre perang. Ringan, menegangkan, penuh aksi, tapi ya sampai segitu saja.
Genre: Thriller
Sutradara: William Eubank
Penulis Naskah: William Eubank, David Frigerio
Pemain: Liam Hemsworth, Russell Crowe

