Film Women from Rote Island akhirnya tayang di bioskop Tanah Air setelah mendapatkan beragam penghargaan di festival film internasional sekaligus meraih titel Cerita Film Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2023.
Sinopsis film Women from Rote Island
Orpa (Linda Adoe) menunggu anaknya, Martha (Irma Rihi) lebih dari seminggu sebelum menguburkan sang suami. Kembali setelah menjadi pekerja ilegal dari Malaysia, Martha datang dengan trauma berat dan lebih banyak diam ketika berada di rumah.
Ketika sedang bermain di hutan, ia diajak oleh pemuda kampungnya ke tempat sepi. Saat akan diperkosa, trauma kekerasan seksual yang pernah dialaminya kembali teringat.
Martha kemudian mengejar pelaku dan membakar rumah tempat si pelaku bersembunyi. Lalu sang pemilik rumah meminta ganti rugi dan penyelesaian secara adat. Keputusan ini membuat Martha mendapat hukuman berat.
Isu perempuan di Indonesia Timur
Jeremias Nyangoen terkenal sebagai sutradara dan penulis naskah yang fokus menghadirkan cerita dari Indonesia Timur. Lewat Women from Rote Island, ia menghadirkan sekelumit kisah perempuan dan kekerasan seksual di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.
Selain memasang lanskap pulau Rote yang memanjakan mata, Jeremias membawa penonton masuk ke dalam cerita Martha, Orpa, dan masyarakat setempat melalui deretan one take dan long shot. Sebagai cara sang sutradara mengisahkan keseharian karakternya dengan cara yang lebih intim.
Alur serta penggambaran yang natural dari film ini membuatnya lebih terasa seperti dokumenter ketimbang film fiksi. Didukung dialog yang mengalir mulus dan camerawork jempolan yang memang menjadi ciri khas film-film Jeremias.
Cerita orisinil yang jarang diangkat oleh sinema mainstream Tanah Air ini dibawakan dengan laju yang lambat. Namun progresi plot dan pengambilan gambar yang dinamis mencegah kebosanan melanda.
Tak heran film ini mendapatkan penghargaan Skenario Asli Terbaik di Festival Film Indonesia 2023; ceritanya yang mengalun syahdu merepresentasikan kehidupan dan kemalangan menjadi wanita di daerah terpencil jauh dari spotlight media dan negara.
Dua karakter utama, Linda dan Irma tampil mengagumkan. Linda memperlihatkan ketangguhan seorang ibu yang siap melakukan apa saja untuk anaknya, serta Irma yang memerankan seorang penyintas kekerasan seksual sekaligus mengalami masalah lain sebagai seorang anak perempuan di desanya.
Durasi 106 menit tak terasa dengan gambaran unsur kebudayaan NTT, menyelipkan isu sosial hingga kaum minoritas yang membuat film ini jadi salah satu film Tanah Air yang menyuarakan dengan lantang masalah-masalah perempuan dari Indonesia Timur.
Aktor lokal NTT
Sukses dengan Denias, Senandung di Atas Awan (2006), karya terbaru Jeremias ini mengangkat kebudayaan di Pulau Rote dengan mengambil aktor dan aktris lokal. Bahkan Women from Rote Island merupakan film panjang perdana dari tiga karakter utamanya, Linda, Irma, dan Sallum.
Semua aktor di film ini memiliki darah Timur. Jeremias menjelaskan bahwa membawa aktor dari Indonesia Timur, khususnya NTT, merupakan caranya agar memastikan para karakter menyampaikan dialog dan logat dengan pas, termasuk menyuarakan aspirasi dan isu yang jarang tersampaikan dalam film mainstream Tanah Air.
Film ini adalah salah satu contoh karya yang mengajak penonton untuk berpikir sekaligus memperlihatkan dengan dekat apa yang terjadi kepada korban kekerasan seksual dan kejahatan lainnya kepada wanita.
Bahkan satu kasus yang ada di dalam film ini berakhir tanpa kepastian siapa pelakunya. Menggambarkan bahwa tidak semua kejahatan yang terjadi kepada perempuan bisa terselesaikan. Ada yang mengambang dan berlalu tanpa kejelasan.
Film Women from Rote Island adalah sebuah karya yang bukan hanya bertujuan untuk menghibur atau memberikan penggambaran tentang kehidupan, tapi juga bertindak sebagai wadah untuk memanusiakan manusia; memberikan pelajaran tanpa maksud menggurui.
Genre: Drama
Sutradara: Jeremias Nyangoen
Penulis Naskah: Jeremias Nyangoen
Pemain: Merlinda Dessy Adoe, Irma Novita Rihi, Bani Sallum Ratu Ke