Review Film Hellboy (2019): Penuh Aksi dan Darah, Namun Tak Bernyawa

Seringkali lebih banyak darah tak selalu berarti baik.

cover film Hellboy 2019

Film Hellboy reboot bertujuan untuk mengulang kembali kesuksesan karya Guillermo del Toro dalam membawa superhero kegelapan karya Dark Comics ini untuk semakin dikenal. Menggantikan Ron Perlman, David Harbour (Stranger Things) dipercaya memerankan the World Destroyer, serta nama-nama besar lainnya memenuhi deretan pemeran, seperti Milla Jovovich, Ian McShane, dan Sasha Lane.

Masih bercerita tentang sang Pengeran Kegelapan, Hellboy yang dibawa oleh Nazi untuk menjadi senjata pemusnah massal dibesarkan oleh Professor Broom (Ian McShane). Sebagai anggota Biro Penelitian dan Pertahanan Paranormal, ia harus berhadapan dengan The Blood Quuen (Milla Jovovich), penyihir abadi yang sudah dikalahkan Raja Arthur, namun dihidupkan kembali untuk menciptakan kiamat di muka bumi.

Karakter Hellboy yang baru

David Harbour bisa dibilang sebagai aktor yang piawai memainkan setiap peran yang didapatkannya. Sebagaimana perannya sebagai Chief Jim Hopper dalam Stranger Things yang melambungkannya namanya. Dan kali ini, Harbour sukses menjadikan Hellboy sesuai dengan karakternya, terlepas dari karakteristik Ron Perlman yang telah dikenal banyak orang.

David Harbour sebagai Hellboy
via Lionsgate Pictures

Hellboy kali ini hadir dengan karakteristik yang berdarah-darah, tetap meledak-ledak sebagaimana karakteristik asli dalam komiknya, tetapi masih memiliki hati yang rapuh layaknya manusia biasa. Hellboy versi Harbour juga mampu (walaupun tidak banyak) melontarkan berbagai one liner yang menggelitik pada berbagai kesempatan. Tak buruk untuk sebuah film yang (katanya) gelap.

Namun sayangnya, alur dan dialog yang diberikan seakan menjadi penghalang bagi Harbour untuk bersinar. Nasib Harbour bisa dibilang setara dengan Tom Hardy ketika membawakan Eddie Brook dalam Venom tahun lalu. Alur yang terburu-buru dari awal serta dialog dan punch line yang kurang tepat seakan membuat karakter Harbour tenggelam.

Cerita yang tergesa-gesa

Film Hellboy reboot menghadirkan versi baru, berbeda dibandingkan dua film sebelumnya. Namun sayangnya, untuk sebuah film yang menonjolkan warna baru beserta cerita yang lebih segar, Hellboy tidak bisa membawakan petualangan si Man-Beast mengalir tanpa harus memotong dan mempercepat beberapa bagian.

David Harbour berlari dalam film Hellboy
via Lionsgate Pictures

Jika diibaratkan perjalanan pada film Hellboy kali ini seperti berlian yang dibawa oleh seorang pelari di sepanjang kompetisi. Penonton yang ada di pinggir lapangan tidak sempat menggagumi dan menikmati keindahan berlian tersebut karena sang pelari membawanya langsung ke garis finish.

Memang susah membawakan film yang padat, terlebih ketika diselingi kisah awal mula sang pahlawan. Itulah yang mungkin dirasakan Neill Marshal sebagai sutradara. Pertarungan antara petualangan yang penuh dengan jeda untuk mengumpulkan emosi dengan membawa film yang terkurung oleh durasi dimenangkan oleh batasan durasi dan mengorbankan cerita.

Musik yang (terlalu) rock abis

Terkadang jenis musik yang dibawa menunjukan tone dan perasaan yang ingin disampaikan kepada penonton. Seperti pada film Harry Potter yang menunjukan nuansa sihir dan Inggris yang kental, atau defenisi rock nostalgia yang ditampilkan oleh Bumblebee maupun Captain Marvel. Hellboy juga memajang beberapa musik rock dengan hentakan yang keras dari awal hingga akhir.

David Harbour  dan tentara
via Lionsgate Pictures

Alunan musik dan distorsi yang keras memang membuat Hellboy mendapatkan karakternya yang keras dan bersemangat. Tetapi sepertinya tidak semua adegan mendapatkan musik yang pas. Beberapa adegan seakan kehilangan emosinya karena pengaruh lagu yang tidak sesuai.

Pemotongan adegan yang mengganggu

Tidak bisa dipungkiri bahwa banyaknya adegan yang dipotong Lembaga Sensor Film (LSF) pada film ini juga mengurangi kenikmatan menonton dari awal hingga akhir. Adegan yang terpotong-potong menjauhkan penonton dari rasa ngeri sang Hellboy dan menghalangi masuk ke dalam cerita.

Daniel Dae Kim dan Sasha Lane
via Lionsgate Pictures

Entah karena adegan yang dipotong terlalu banyak atau ada adegan yang tidak sepatutnya dihilangkan atau mungkin karena editing yang kurang bersih menjadi tanda tanya pada beberapa adegan dalam film ini. Walaupun tak menutup kemungkinan Hellboy mengalami bad editing (yang mengganggu) sehingga membuatnya tidak lancar dalam penyampaiannya.

Tabrakan tone dan genre

Mungkin yang menjadi masalah terbesar bagi Hellboy adalah ketidakjelasan dan tabrakan yang kurang pas antara berbagai genre dalam film ini. Mulai dari aksi, komedi, horror, hingga gore penuh darah campur aduk menjadi satu – namun bukan kesatuan utuh – yang terbagi dalam beberapa pecahan.

David Harbour
via Lionsgate Pictures

Adegan aksi lumayan menyenangkan dipadukan dengan komedi yang mengalir agak kasar dan sering kali datang tanpa disangka-sangka dibalut dengan sedikit horor dan jump scare tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Neill Marshal. Walaupun adegan gore tidak terlalu bermasalah dengan keseluruhan cerita.

Awalnya Hellboy memang direncanakan memiliki tone yang lebih gelap jika dibandingkan dengan versi Guilermo del Toro. Tapi ‘kegelapan’ yang didapatkan hanya berupa adegan gore dan warna gelap dari awal hingga akhir saja. Penonton bisa merasakan ‘usaha keras’ Marshall mempergelap film ini, walaupun tidak tepat sasaran.

Lebih dewasa, namun kehilangan nyawa

Film reboot yang dibuat berdasarkan film yang sudah ada memang selalu dibanding-bandingkan dengan pendahulunya. Sama seperti Hellboy. Tapi kali ini, Neill Marshall masih belum bisa menyaingi Guillermo del Toro dalam menghadirkan alur yang menarik. Walaupun bagi penggemar cerita aksi, film ini cukup menyenangkan untuk ditonton.

Karakteristik Harbour sebagai Hellboy hadir lebih sadis walaupun belum memorable karena terbentur alur dengan pace cepat. Milla Jovovich yang memerankan The Blood Queen masih belum mampu memberikan karakter yang kuat karena naskah yang lemah, serta kehadiran Daniel Dae Kim sebagai Daimo seakan sia-sia tanpa pengaruh yang signifikan.

Milla Jovovich dalam film Hellboy
via Lionsgate Pictures

Bisa dibilang, Neill Marshall memenuhi janjinya dengan memberikan film Hellboy yang sesuai dengan versi komik yang keras, sedikit horor, dan berdarah-darah. Namun untuk dinikmati secara keseluruhan, selain adegan aksi dan cerita yang baru, alur yang tergesa-gesa jelas mengurangi kenikmatan penonton sepanjang cerita.

Film ini sudah bisa dinikmati di Indonesia pada 10 April 2019, atau dua hari lebih awal dibandingkan pemutaran perdananya di Amerika. Sebagai sama-sama film tentang superhero, Hellboy akan bersaing dengan Shazam! yang lebih dulu hadir ke layar lebar menghindari dominasi yang pasti dari Avengers: Endgame di akhir April nanti.

Rating 2.5/5


Genre: Horror, Thriller

Sutradara:Neil Marshall

Penulis: Andrew Cosby (screenplay), Mike Mignola (Dark Horse Comic)

Bintang:David Harbour, Milla JovovichIan McShane

Review Overview
  • Review Film
2.5

Summary

Bisa dibilang, Neill Marshall memenuhi janjinya dengan memberikan film Hellboy yang sesuai dengan versi komik yang keras, sedikit horor, dan berdarah-darah. Namun untuk dinikmati secara keseluruhan, selain adegan aksi dan cerita yang baru, alur yang tergesa-gesa jelas mengurangi kenikmatan penonton sepanjang cerita.

Sending
User Review
( votes)

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Leave a Reply