Serial orisinal Netflix Teach You a Lesson jadi fenomena terbaru yang menggambarkan kondisi sistem pendidikan Korea yang sedang tak baik-baik saja. Bahkan salah satu episode yang bikin geram ketika menonton ternyata terinspirasi dari salah satu kasus populer yang mengubah Undang-Undang tentang guru dan murid di Negeri Ginseng tersebut.
Ditolak oleh guru Korea Selatan
Baru sehari dirilis di Netflix, drakor Teach You a Lesson langsung menerima penolakan dari kalangan guru di Korea Selatan. Drama yang diadaptasi webtoon dari Get Schooled karya Chae Yongtek dan Han Garam ini menghadirkan sisi gelap dari sistem pendidikan Korea Selatan.
Drama ini memang tak jauh dari kontroversi. Mulai dari versi asli yang dikecam karena menggambarkan siswa multietnis (keturunan Korea-Ethiopia) yang digambarkan sebagai pelaku perundungan yang kejam dengan stereotip fisik dan perilaku berbahaya.

Beberapa waktu lalu, para guru di Korea Selatan juga berunjuk rasa mengecam serial ini. Mereka menyebutkan bahwa serial ini menjunjung tinggi hukuman dan kekerasan fisik sebagai solusi dari berbagai masalah yang terjadi di dalam lingkungan sekolah.
Padahal ceritanya fokus mengulik siswa bermasalah, orang tua yang mengekang dan kasar, serta guru yang tak bermoral. Sebuah lembaga bernama Teachers’ Rights Protection Bureau melakukan intervensi ketika sistem konvensional gagal melindungi korban.
Biro Perlindungan Hak Pendidik (BPHP) dalam terjemahan Indonesia dikelola oleh Na Hwa-jin, mantan pasukan khusus. Ia kehilangan tunangannya, Choi Ga-young (Ha-young) guru yang ditusuk oleh muridnya sendiri. Biro ini disahkan oleh Menteri Pendidikan, Choi Gang-sook. Choi merupakan ayah dari Ga-young. Mereka dibantu oleh mantan bawahan Hwa-jin, Im Han-rim (Jin Ki-joo), dan seorang PNS ahli IT, Bong Geun-dae (P.O).
Terinspirasi dari kisah nyata
10 episode serial ini menghadirkan berbagai cerita tentang perundungan, bukan hanya dari murid ke murid tapi juga dari orang tua murid ke guru. Setiap episode memiliki satu kasus yang diselesaikan dengan cara yang tak biasa.
Dilansir dari akun Twitter @jeongjeonginuna, episode ke-5 drama ini disebut terinspirasi dari kisah nyata yang sempat membuat heboh dunia pendidikan Korea pada bulan Juli 2023. Kasus ini bahkan membuat pemerintah Korea mengubah Undang-Undang dan beberapa sistem menyangkut guru dan murid.

Episode 5 bercerita tentang guru SD yang hampir bunuh diri gara-gara ditekan oleh orang tua murid. Kejadian ini terinspirasi dari kasus kematian guru SD Seoi berusia 20-an pada 18 Juli 2023. Wali kelas 1 SD Seoi, Distrik Seocho ini ditemukan meninggal di sekolah sebelum jam masuk.
Kematiannya menimbulkan spekulasi. Tapi tak lama setelah kejadian tersebut, pihak sekolah mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebutkan korban tidak terlibat sebagai petugas khusus penanganan kekerasan sekolah dan tidak ada kasus kekerasan di sekolah pada tahun tersebut.
Baru pada 21 Juli 2023, Serikat Guru Seoul merilis kesaksian dari guru-guru yang mengenal korban. Disebutkan bahwa korban mendapatkan intimidasi dari sejumlah orang tua murid. Ditambah dengan “Insiden Pensil” ketika seorang siswa menggores dahi temannya dengan pensil. Guru tersebut menerima keluhan dan telepon hingga ke nomor pribadinya oleh orang tua pelaku dan korban.
Perkara terhenti di tengah jalan
Sebulan kemudian, Agustus 2023, ada dugaan salah satu orang tua yang terlibat insiden tersebut adalah seorang aparat penegak umum. Sayangnya polisi yang menemukan bukti yang cukup untuk melanjutkan perkara ini. Tapi ini menimbulkan gelombang protes berskala nasional yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Dan pada 2 September 2023, sekitar 350.000 guru, calon guru, dan warga melakukan aksi skala besar di depan DPR Korea. Dua hari setelahnya, bertepatan dengan 49 hari setelah korban meninggal, banyak guru mengambil cuti atau mengikuti peringatan mengenang korban.

Polisi menutup penyelidikan pada November 2023 tanpa ada banyak kemajuan. Salah satunya karena tim forensik tak mampu membuka iPhone milik korban untuk menyelidiki rekaman percakapan dan pesan pribadi. Namun keluarga korban dan para guru masih terus memperjuangkan kasus ini karena tidak puas dengan hasil penyelidikan.
Tepat 27 Februari 2024, pemerintah Korea mengakui kematian guru SD Seoi sebagai kematian dalam menjalankan tugas. Hingga lahirlah Special Act on the Improvement of Teachers’ Status and Protection of Educational Activities, diantaranya perubahan UU Status Guru, membatasi keluhan langsung dari orang tua, melindungi guru dari gugatan berlebihan, hingga revisi pedoman investigasi kekerasan terhadap anak.

