Review Film Venom (2018) – Your Friendly Neighborhood Venom

Apa yang terjadi jika sebuah film tidak bisa menemukan jati dirinya? Mungkin hal ini yang bisa kita lihat ketika menonton film Venom terbaru yang diproduksi oleh Sony. Sony masih ragu-ragu untuk memberikan jati diri Venom, apakah akan menghadirkan plot yang gelap seperti pada versi komiknya, atau membuat cerita yang bisa menghibur banyak orang.

Ketika menonton Venom, ada perasaan janggal yang terasa. Berbeda dari tampilan trailer yang membuat bulu kuduk berdiri serta memberi harapan untuk melihat versi gore dari si Symbiote, Venom dalam film ini merupakan versi romantis dan baik hati. Apa karena banyak adegan yang dipotong?

Tom Hardy dalam film Venom
via Sony Pictures

Memang penurunan hingga mencapai rating PG-13 (atau 13 tahun ke atas) membuat banyak adegan yang dilepaskan. Seperti yang dijelaskan oleh Tom Hardy sendiri dalam wawancaranya bersama ComicsExplained menjelaskan 40 menit dari adegan kesukaannya dihapus. Semua scene tentang bagaimana Venom mengendalikan Eddie serta dark comedy dihilangkan dari hasil akhir agar bisa lulus rating remaja.

Karena itu, menonton film Venom seperti berada di dua persimpangan; film komedi superhero ala Marvel seperti Thor dan Spider-Man, atau membuatnya menjadi lebih misterius dan bengis layaknya Venom yang dikenal Marvel Universe.

Selain itu, dengan nama besar Sony yang dikenal sebagai salah satu penghasil film berkualitas Hollywood, CGI Venom terlihat berantakan. Bahkan versi trailer masih mendingan dibandingkan hasil akhir di bioskop. Entah waktu yang masih kurang atau dana untuk grafis yang kurang, beberapa adegan dengan CGI terlihat seperti film superhero tahun 90-an.

film Venom
via Sony Pictures

Salah satu hal baik dalam film Venom adalah bagaimana Tom Hardy bisa menganalisis karakter Eddie Brock dari versi komik untuk diangkat ke layar lebar, meskipun tidak sempurna. Dengan baik, ia mampu membawa dua karakter, Eddie Brook dan Venom, menyatu dalam cerita. Hanya saja, ketidakjelasan arah film ini (antara mau lucu atau serius), membuat karakter Eddie Brook seperti kehilangan arah.

Di akhir cerita, tagline Venom yang menjelaskan bahwa “the world has enough superhero” seperti hilang. Bukannya memberikan karakter villain terbesar Spider-Man atau anti-hero seperti yang diharapkan, Venom terlihat sangat ‘bersahabat’. No spoiler, tapi Venom malah menjadi “the hero that the world needs.”

review Venom dari Sony
via Sony Pictures

Secara keseluruhan, film Venom belum bisa memberikan pijakan yang kuat jika Sony memang ingin mengembangkan “Sony’s Spider-Man Universe” (tanpa Spider-Man). Bahkan Sony mungkin harus mempertimbangkan kembali karakter Venom dalam universe ini. Untuk membuat sekuel atau film lain yang berkaitan dengan semesta superhero, Sony harus mengerti bahwa banyak harapan atas film mereka.

Bagi yang ingin melihat bagaimana cerita Venom menjadi awal semesta Spider-Man Universe dari Sony, film ini bisa ditonton. Tapi jika kalian sebagai penggemar Spider-Man atau Marvel secara keseluruhan, jangan terlalu berharap dengan film ini. Keep your hopes down.

Rating: 2.5/5


Genre: Aksi, Sci-Fi

Sutradara: Ruben Fleischer

Penulis:  Scott RosenbergJeff PinknerKelly MarcelWill Beall

Cast: Tom HardyMichelle WilliamsRiz AhmedWoody HarrelsonJenny Slate

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 853

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *