Review Film Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022): Sentuhan Horror Sam Raimi

Film Doctor Strange in the Multiverse of Madness memberikan nyawa baru bagi Marvel Cinematic Universe dengan gaya horror 80-an khas Sam Raimi. Didukung visual apik dan tema kehilangan, sayangnya Raimi harus bersusah payah membuat dengan narasi agar tidak terlalu formulatif dan melelahkan.

Sinopsis Film Doctor Strange in the Multiverse of Madness

Dibuka dengan Sorcerer Supreme (Benedict Cumberbatch) dan America Chavez (Xochitl Gomez) dikejar-kejar oleh Gargantos, monster gurita yang ingin menangkap Chavez. Dengan terbunuhnya Sorcerer Supreme, America tanpa sengaja menggunakan kekuatannya untuk membuka portal ke semesta lainnya.

America Chavez, Wong, dan Stephen Strange
via Marvel Studios

Ia masuk ke semesta utama Marvel, Earth-616, tempat dimana Stephen Strange (Benedict Cumberbatch) berada. Strange yang sedang berada di pernikahan Christine (Rachel McAdams) langsung membantu America, hingga akhirnya Wong (Benedict Wong) datang membantu.

Setelah mengalahkan Gargantos, America menyebutkan bahwa makhluk tersebut diutus oleh seorang penyihir. Strange dan Wong membawa America ke Kamar Taj, dan meminta bantuan Wanda (Elizabeth Olsen) untuk membantu menghadapi penyihir tersebut.

Marvel x Sam Raimi

Bahkan sebelum film ini dirilis, kehadiran Sam Raimi sebagai sutradara sudah digadang-gadang mampu memberikan warna baru bagi Marvel di Phase 4 ini. Dan terbukti, layaknya Chloe Zao yang menyulap Eternals (2021) menjadi film aksi rasa drama, Raimi menghadirkan Doctor Strange dengan gayanya sendiri.

Sejak awal credit Marvel muncul di layar, penonton langsung dibawa ke adegan menegangkan selama lebih dari 15 menit pertama film ini berjalan. Sejak saat itu, kesan horor dan aksi datang silih berganti sampai post credit bergulir yang membawa karakter baru.

Benedict Cumberbatch dalam Doctor Strange in the Multiverse of Madness
via Marvel Studios

Bisa dibilang MCU sudah menemukan pakem yang patut diikuti oleh setiap sutradara; bagaimana sebuah kisah superhero yang berada dalam satu franchise besar harus dibawakan. Sehingga tak heran jika sebagian penonton merasa film ini terlalu formulatif dan tak ubahnya dengan film Marvel lainnya.

Satu hal yang patut dipertimbangkan adalah semakin besar skala cerita sangat berdampak pada pada plot yang melelahkan. Kisah antar semesta, karakter baru, serta pengembangan karakter yang ada membuat film ini terasa kompleks, padat dari awal hingga akhir.

Ketika Sam Raimi bermain dengan zombie, penyihir, serta elemen lain dari genre horror, film Doctor Strange terasa lebih hidup. Untuk masalah cerita, film ini bagaikan penyambung narasi dari semesta Marvel yang entah akan mengikat berapa film maupun serial TV lainnya.

Tapi bukan Doctor Strange namanya jika tidak menampilkan visual yang mengagumkan. Apalagi perjalanan melintasi semesta yang mind blowing. Beberapa adegan juga terasa senada dengan episode terakhir di serial What If …? (2021).

Evil Doctor Strange
via Marvel Studios

Visual apik khas film horor era tahun 70-an dan 80-an dibawakan oleh Raimi. Bagaikan menonton film drakula maupun vampir dengan efek yang menyeramkan. Perpaduan transisi gaya jadul membawa pengalaman sinematik yang baru bagi MCU.

Satu hal yang patut mendapatkan perhatian lebih adalah ketika sebuah pertempuran yang melibatkan Doctor Strange dibawakan dengan notasi balok. Yap, benar. Notasi balok dimana setiap ‘damage’ menghasilkan ragam musik klasik hingga rock yang memukau.

Trauma dan kehilangan

Sebagaimana yang bisa terlihat sejak WandaVision (2021), Loki (2021), hingga Moon Knight (2022) yang terbaru, Phase 4 sepertinya fokus menggali lebih dalam mengenai rapuhnya superhero Marvel. Dan tema yang paling sering diangkat, termasuk di Multiverse of Madness adalah kehilangan.

Di sini kedua pemeran utama harus menghadapi kehilangan orang-orang yang mereka cintai; Wanda dengan anak-anaknya dan Stephen dengan pernikahan Cristine. Kehilangan inilah yang menjadi pendorong dari apa yang mereka lakukan dalam film ini.

Wanda dalam film Doctor Strange in the Multiverse of Madness
via Marvel Studios

Bagi Wanda, kehilangan Tommy dan Wiccan membuatnya melakukan segala cara untuk mengembalikan keduanya. Melanjutkan apa yang terjadi di WandaVision, kehilangan memberikan energi baru bagi Wanda yang terasa di sepanjang film.

Olsen berhasil memadukan dua karakter yang bertabrakan; seorang ibu yang melankolis akibat kehilangan sang anak dengan kemarahan seorang penyihir memberikan dimensi baru bagi karakter Wanda. Disini kita bisa lihat betapa kasih ibu mampu mengalahkan siapapun!

Esensi kehilangan juga dirasakan pada Strange, dimana ia harus berhadapan dengan pedihnya ditinggal oleh orang yang paling ia sayangi. Meski pada akhirnya, ia belajar bahwa semua kepergian dan kehilangan tak bisa dihindari.

Christine, Doctor Strange, dan America Chavez
via Marvel Studios

Perjalanan Strange di sepanjang film juga membuktikan bahwa setiap karakter superhero Marvel akan menghadapi tekanan besar untuk menjadi lebih baik (atau lebih kuat). Dan Multiverse of Madness kembali mengungkapkan betapa rapuhnya sisi manusia dari superhero terkuat di alam semesta.

Sesuai ekspektasi?

Mungkin penggemar Marvel akan berbeda dalam menerima bagaimana Raimi menyuguhkan Multiverse of Madness. Tapi suka tidak suka, Marvel sendiri telah memperingatkan bahwa Phase 4 jauh lebih beragam dan bervariasi dibandingkan 23 film sampai dengan Avengers: Endgame (2019).

Multiverse of Madness bisa membagi penonton menjadi dua kubu; mereka yang menyukai gaya baru dari Sam Raimi, atau penonton yang kecewa bahwa film ini jauh berbeda dibanding film Marvel lainnya. Termasuk orang-orang yang mungkin sudah muak dengan plot ‘copy-paste’ yang terlalu sederhana dan mudah dicerna.

Doctor Strange dan America Chavez di Multiverse of Madness
via Marvel Studios

Dibanding Strange dan Wanda, praktis America Chavez tak menawarkan superhero journey yang menarik di kemunculan MCU perdananya. Kehadirannya jauh tertutup, apalagi jika dibandingkan dengan superhero era baru Marvel lainnya semisal Yelena Belova dalam Black Widow (2021) atau Kate Bishop dalam Hawkeye (2021).

Begitu pula dengan ekspektasi yang dibangun tentang karakter-karakter lain yang muncul dalam film ini. Mulai dari kehadiran Tom Cruise sebagai Iron Man sampai dengan penampilan perdana Henry Cavill sebagai Captain Britain digaungkan. Tak semuanya menjadi kenyataan.

Hanya saja, Raimi dan Marvel tetap murah hati memberikan beberapa cameo yang membuat penonton bertepuk tangan. Memang tak semeriah sambutan pada saat Tobey maupun Andrew muncul dalam No Way Home, tapi cukup lah untuk sekadar membuktikan teori-teori yang berkeliaran di sosial media.

Sorcerer Strange dalam Multiverse of Madness
via Marvel Studios

Mungkin satu hal yang perlu kamu persiapkan dari kemunculan cameo tersebut adalah bahwa kehadiran ‘mereka’ hanyalah bersifat sementara. Walaupun tak menutup kemungkinan Marvel akan membawa proyek lainnya, yang jelas tidak dalam waktu dekat.

Sementara itu, film Doctor Strange in the Multiverse of Madness memberikan arah baru bagi Marvel dengan narasi yang jauh lebih megah dan kompleks mengungkap berbagai kemungkinan di semesta baru. Sentuhan Sam Raimi terasa menawan, membawakan kisah multiverse yang sederhana tapi cukup melelahkan.

Genre: Aksi, Horor

Sutradara: Sam Raimi

Penulis Naskah: Michael Waldron

Pemeran: Benedict Cumberbatch, Elizabeth Olsen, Xochitl Gomez, Benedict Wong

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 923

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *