Review Buku The Castle in the Pyrenees (Jostein Gaarder) – Debat Filosofis Rasional-Spiritual

sampul depan The Castle in the Pyrenees

The Castle in the Pyrenees merupakan judul sebuah lukisan karya Rene Magritte yang bertema surealis, namun tulisan ini tidak akan membahas mengenai lukisan surealis yang terkenal itu. Jostein Gaarder memilih judul lukisan tersebut menjadi judul salah satu bukunya yang terbit pertama kali pada tahun 2008. Buku Gaarder ini memiliki desain sampul yang menarik dengan suasana calm dan sedikit bersifat fantasi.

Novel ini berkisah tentang sepasang kekasih yang berpisah selama 30 tahun dan tidak pernah lagi saling menghubungi. Mereka secara kebetulan kembali bertemu setelah 30 tahun di sebuah hotel tua yang merupakan tempat yang mereka kunjungi terakhir kali sebelum kemudian berpisah. Pertemuan yang kebetulan tersebut memancing pembicaraan lebih lanjut di antara mereka melalui pertukaran surat elektronik yang dilakukan di sela-sela rutinitas mereka bersama keluarga masing-masing.

The Castle in the Pyrenees mengusung isu filosofis mengenai ide spiritualitas dan rasionalitas yang keduanya acap kali dipertentangkan oleh berbagai kalangan, terutama kalangan ilmuan. Diskusi menarik ini dimulai pertama kali oleh Solrun, tokoh protagonis wanita dalam novel ini, yang mengirimi email ke Steinn, tokoh protagonis pria yang juga mantan kekasihnya. Email yang dikirim Solrun berisi tidak lebih dari ungkapan kekaguman akan pertemuan kebetulan mereka di hotel tua tersebut dan Solrun tidak ingin menganggap itu kebetulan belaka, dia yakin bahwa ada sebuah kekuatan kosmik yang mengatur semua ini sehingga mereka dipertemukan kembali secara magis di lokasi yang juga memiliki kenangan khusus bagi mereka.

Jostein Gaarder penulis The Castle in the Pyrenees merupakan penulis best seller asal Norwegia

Jostein Gaarder penulis The Castle in the Pyrenees

Diskusi – atau sesekali juga perdebatan – antara Solrun dan Steinn yang mengangkat pertentangan rasional-spiritual ini dibalut dengan kisah misteri yang terjadi pada mereka berdua 30 tahun yang lalu sebelum mereka berpisah, mereka sepakat untuk menyebut kejadian tersebut dengan sebutan itu. Sebuah tragedi tabrak lari yang mereka lakukan di tengah malam di jalan kecil di dekat sebuah hutan di Norwegia. Korban dari tabrak lari tersebut adalah seorang wanita yang mulai menua dengan syal berwarna merah muda terlilit di lehernya.

Hal menarik dari novel ini ialah penyajian cerita yang dihadirkan dengan bentuk kiriman-kiriman email antara Solrun dan Steinn. Sehingga novel ini memiliki dua narator yang menceritakan sebuah kisah kepada kamu. Hal ini menjadikan novel ini cukup membingungkan pada awalnya karena pembeda antara email yang dikirim Solrun dan email yang dikirim Steinn hanya terdapat pada beda jenis font yang digunakan. Dan seperti buku Jemput Terbawa karya Pinto Anugrah, tidak ada tanda pemisah antara kedua narator ini. Pertukaran narator dalam buku ini hanya terjadi dengan sebuah enter menuju paragraf baru.

Hal lain yang unik dari buku ini adalah sudut pandang narasi. Di saat penulis-penulis dunia menggunakan sudut pandang orang ketiga atau orang pertama dalam tulisan mereka, Gaarder mencoba menggunakan sudut pandang orang kedua yang menceritakan semuanya kepada kamu. Sudut pandang ini menjadikan kita, para pembaca, menjelma menjadi sosok Steinn atau Solrun tergantung dari siapakah surat itu ditulis.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, buku ini mengangkat sebuah perdebatan “abadi” yang mempertentangan rasionalitas dengan spiritualitas. Solrun mengusung ideologi spiritual dan ia percaya akan adanya takdir dan juga sebuah kekuatan tak terlihat yang mengatur jalannya semesta ini, sementara Steinn keukeuh dengan pemikirannya yang beranggapan bahwa semesta ini memang sudah berjalan begini adanya dan tidak ada yang namanya kebetulan – Steinn sangat digambarkan sebagai seorang rasionalis yang keras kepala.

Namun, dengan bahasan yang terkesan rumit tersebut – seperti bahasan filsafat lainnya, Gaarder berhasil menyajikan isu tersebut dengan caranya sendiri sehingga menjadi isu yang cukup ringan dan bisa dibaca oleh kalangan awam.

Seperti tujuan dari filsafat, yaitu membuat dorongan untuk merenung, novel ini juga berhasil memberikan efek tersebut pada pembaca, di mana pembaca akan merenung beberapa saat ketika membaca ide yang disampaikan baik oleh Solrun maupun oleh Steinn.

Karya Gaarder yang satu ini tidak memiliki sosok yang mengambil peran sebagai tokoh antagonis, alih alih peran tersebut diambil alih oleh kenyataan. Ya, kedua tokoh protagonist kita sama-sama secara tidak sadar sedang bertarung dengan kenyataan, atau realita hidup, bahwa mereka sudah lama berpisah dan lebih jauh lagi bahkan mereka sudah memiliki keluarga masing masing. Namun pertukaran email yang terjadi antara dua orang yang memiliki “sejarah” ini justru mengangkat nuansa percintaan lama mereka kembali ke permukaan.

Lalu kisah misteri tabrak lari yang menimpa mereka berdua juga tak kalah menarik untuk diikuti karena tetap menonjol di antara rumitnya berdebatan mereka. Dan tentu saja misteri tersebut akan terungkap di akhir cerita.

Bicara ending, kita bisa sepakat bahwa cerita yang bagus adalah cerita yang memiliki plot twist, kan? Nah, novel The Castle in the Pyrenees ini menyuguhkan ending dengan plintiran yang cukup mengejutkan dan dinarasikan oleh Petter, suaminya Solrun. Kenapa harus Petter yang mengambil alih untuk mengakhiri kisah ini? Saya menyarankan kamu baca sendiri buku ini untuk menemukan jawabannya.

Saya sangat merekomendasikan novel The Castle in the Pyrenees ini untuk kamu yang lagi penasaran dengan isu-isu filsafat tapi tidak sanggup membaca buku filsafat yang ribet itu. Karya-karya Gaarder memang terkenal dengan isu filsafat yang dibuat menjadi ringan dan mudah dimengerti oleh banyak kalangan.


Judul        : The Castle in the Pyrenees

Penulis     : Jostein Gaarder

Penerbit   : Mizan Media Utama (Bandung, 2018)

Tebal        : 296 Halaman

Rating
  • Rating Buku
5

Kesimpulan

Novel The Castle in the Pyrenees ini sangat cocok untuk yang lagi tertarik dengan filsafat tapi tidak sanggup membaca buku filsafat yang ribet itu. Di buku ini, isu filsafat yang dimuat lebih ringan dan mudah dimengerti oleh semua orang.

Sending
User Review
5 (1 vote)

Mahasiswa pascasarjana Kajian Wilayah Amerika di salah satu universitas di Indonesia. Mulai menyelami buku-buku sejak SMP diawali dari novel Lupus dan kemudian kuliah S1 di jurusan Sastra. Aktif meresensi buku melalui Instagram dan Youtube.