Pidi Baiq dan Fajar Bustomi berkolaborasi dalam menghadirkan iterasi terbaru dari film Dilan ITB 1997. Menghadirkan Nazril Irham atau lebih dikenal dengan nama Ariel Noah memerankan edisi terbaru dari Dilan yang kini berada di fase mahasiswa dengan latar reformasi.
Sinopsis film Dilan ITB 1997
Dilan (Ariel Noah) baru saja pulang pertukaran pelajar di Kuba selama 6 bulan. Kini, Indonesia tahun 1997 masih dipimpin oleh Soeharto sebagai presiden, masyarakat Indonesia sedang mempersiapkan pemilihan umum (Pemilu) selanjutnya.
Di tengah kondisi politik yang kisruh, hubungannya dengan Ancika (Niken Anjani) juga diterpa kerikil-kerikil tajam. Ancika menyuruh Dilan yang masih menjadi mahasiswa tingkat akhir untuk segera lulus. Pertemuannya dengan Hana (Della Dartyan) membuat Ancika cemburu.
Di sisi lain, Milea (Raline Shah) terus-terusan menelpon ke rumah. Ketika Dilan akhirnya mengangkat teleponnya, ia yang sedang ke Bandung berharap untuk bertemu. Dilan memutuskan untuk bertanya kepada Ancika apakah ia boleh bertemu dengan Milea.
Kisah Dilan di tahun 1997
Bagian terbaru dari iterasi Dilan karya Pidi Baiq akhirnya dirilis di bioskop Tanah Air. Sama kayak judulnya, cerita Dilan ITB 1997 dimulai ketika Dilan pulang setelah 6 bulan belajar di Kuba. Latarnya hanya berbeda 2 tahun sejak versi Arbani Yasiz dan Zee Asadel, Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 (2024).
Ceritanya lebih banyak dipenuhi oleh drama dengan pace yang pelan. Dilan terlihat lebih serius ketimbang sebelumnya. Namun seringkali celotehannya dipergunakan untuk memecah suasana agar tidak terlalu serius. Walaupun sayangnya sebagian terasa cringe dan tak sesuai dengan karakternya sebagai mahasiswa.
Cerita tentang romansa pun digabungkan dengan adegan-adegan yang merepresentasikan apa yang terjadi di era ‘97. Ketika masa pemerintahan Soeharto mulai memasuki akhir dengan penolakan dan demonstrasi terjadi di mana-mana. Semuanya disampaikan dari sudut pandang Dilan sebagai mahasiswa.
Lalu pemilihan Ariel sebagai anak kuliah pun patut dipertanyakan. Memang tak salah, tapi terasa memaksakan cerita dan timpang dibandingkan dengan versi Arbani. Terpaut dua tahun, namun wajahnya sangat jauh berbeda.
Akan lebih menyenangkan ketika Dilan yang masih berkuliah diperankan oleh aktor berumur 20-30 tahunan. Mengingat umur Ariel yang sudah menginjak 44 tahun, Falcon pun tak menggunakan usaha lebih untuk membuatnya terlihat lebih muda. Mungkin memang ingin memperlihatkan mahasiswa tahun akhir yang udah lama di kampus ya?
Begitu pula karakternya yang sudah berbeda dibandingkan versi Iqbaal Ramadhan. Tapi entah kenapa alur cinta-cintaan dan dialognya masih kayak anak SMA? Seperti misalnya, salah satu masalah antara Dilan dan Ancika terjadi ketika ia mengantarkan Hana pulang ke rumah.
Versi mahasiswa tapi cerita remaja
Novel karya Pidi Baiq ini sudah diadaptasi menjadi berbagai iterasi Dilan. Dua film oleh Iqbaal Ramadhan, versi Arbani Yasiz, dan Dilan kecil yang diperankan oleh Rizwan Fadillah melalui Dilan 1983: Wo Ai Ni (2024).
Kini Pidi dan Fajar Bustomi memperlihatkan Dilan yang sudah dewasa, atau setidaknya tak lagi remaja yang kini menjadi mahasiswa. Tapi eksekusi dari dialog dan penceritaannya masih seakan-akan Dilan masih remaja.
Dilan dengan celotehan dan gombalannya lebih works ketika ia masih SMA. Memperlihatkan bagaimana Dilan dengan otak yang masih belum berkembang melalui cinta monyet dan kehidupan remajanya yang masih mencari jati diri. Namun ketika ia sudah menjadi mahasiswa, kenapa malah stuck di cinta-cintaan remaja.
Tak salah juga jika bikin film ini dibuat dengan gaya full romance. Apalagi digabungkan dengan kritik sosial dan isu politik di masa akhir pemerintahan Soeharto. Tapi karena pace ceritanya terasa pelan dan penuh dengan dead air, jadinya agak dragging.Â
Penggemar Dilan mungkin masih suka, walaupun versi Ariel beda jauh dengan Dilan-nya Iqbaal atau Arbani Yasiz. Cuma jangan terlalu tinggi ekspektasi kalau ceritanya bakal se-memorable yang pertama.