Review Buku Jemput Terbawa (Pinto Anugrah) – Novel Tipis Namun Kompleks

“Laya terpana. Ia hanya terdiam. Ia tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Mulut tukang kaba itu komat-kamit. Terdengar seperti dengung lebah. Laya jadi berdiri terpaku. Lamat-lamat terdengar apa yang sedang diucapkan tukang kaba itu. Mantra. Tidak. Bukan Mantra. Dendang, ya, Dendang.”

“Kisah orang kami kabarkan, dusta orang kami tidak ikut serta! Oi, rang oi!”

Sumatera Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang banyak melahirkan penulis-penulis berskala nasional, salah satunya Pinto Anugrah, seorang penulis asal Nagari Tanah Datar yang novelnya baru saja terbit pada bulan Maret 2018 ini. Jemput Terbawa merupakan judul novel yang diterbitkan oleh Buku Mojok.

Siti Kalaya, seorang pemudi berdarah Minangkabau yang sedari kecil menghabiskan usianya di Jakarta, hendak menapaki sejarah hidupnya yang hilang dengan pergi berkunjung ke kampung halamannya yang bernama Kampung Lembah Pagadih. Sayangnya, nafsu hati yang menggebu-gebu untuk mengenal darah dan sejarahnya di Minangkabau itu justru membawa tragedi pahit pada kehidupan Laya.

Pinto Anugerah, pengarang buku Jemput Terbawa
Pinto Anugrah, penulis Jemput Terbawa

Namun, saya tidak akan menceritakan isi novel ini lebih jauh lagi, berikut ini hal-hal menarik yang dapat kamu temui jika kamu membaca novel Jemput Terbawa:

Pertama, novel Jemput Terbawa ini menggabungkan 4 cerita secara paralel dan saling tumpang tindih secara silih berganti. Keempat cerita tersebut terdiri dari, cerita utama mengenai Laya, cerita masa lalu ibu Laya yang berlatar sejarah pergolakan PRRI, dan dua cerita legenda Minangkabau. Keempat cerita tersebut secara sembunyi-sembunyi memuat benang merah yang sama, yaitu tentang polemik perempuan Minangkabau yang dibenturkan dengan nilai moral.

Kedua, novel ini memiliki gaya penulisan yang tidak biasa, yaitu penyatuan latar waktu masa sekarang dengan latar waktu masa lalu. Jika biasanya kita akan menemukan tanda pemisah seperti (***) atau spasi untuk memisahkan lini masa sekarang dengan lini masa kisah flashback, maka kamu tidak akan menemukan semua itu dalam buku ini. Satu satunya pemisah antara kisah ke kisah berikutnya ialah dengan satu ketuk enter menuju paragraf berikutnya yang tentu saja mambutuhkan kejelian pembaca untuk menyadari terjadinya transisi cerita. Penanda yang bisa membantu kamu menyadari perpindahan ceritanya ialah dengan bergantinya nama tokoh dan latar cerita.

Ketiga, novel Jemput Terbawa ini sangat kental dengan atmosfer adat Minangkabau, mulai dari penamaan tokoh, nama latar tempat, hingga adanya dua cerita legenda yang sudah familiar di telinga orang Minangkabau, yaitu cerita-cerita seputar kisah Bundo Kanduang. Namun dengan atmosfer kedaerahan yang kuat ini, novel Jemput Terbawa tetap mampu menjaga pembaca untuk tetap paham akan apa yang ingin disampaikan oleh Pinto Anugrah karena novel ini dinarasikan dengan cara yang mudah dimengerti.

Keempat, novel Jemput Terbawa menyajikan ending yang membuka kesempatan untuk terjadinya multitafsir. Tokoh Jang Tronot, seorang tukang “kaba” (pendongeng rakyat) yang hadir dalam segala masa dan dimensi menjadikan ending dari cerita ini sangat menarik namun sedikit memilukan. Novel yang diawali dengan munculnya tukang kaba dan juga kemudian diakhiri dengan kehadiran tukang kaba pula, menjadikan novel Jemput Terbawa seolah-olah merupakah sebuah kaba yang disampaikan oleh Pinto Anugrah.

Kelima, novel ini memuat satu karakter yang menarik bagi pembaca, yaitu Jang Tronot si tukang kaba. Jang Tronot dikisahkan dalam ketiga cerita yang ada di novel ini. Dalam ketiga kisah tersebut, Jang Tronot selalu menjadi sebuah solusi alternatif yang dianggap mampu meredam tragedi kehidupan dengan kaba yang diiringi rabab dan saluang tua nya. Sebuah gagasan unik yang beranggapan hiburan rakyat mampu mendistraksikan pikiran masyarakat dari aib dan kejadian-kejadian buruk dalam kehidupan mereka.

Secara Keseluruhan, novel Jemput Terbawa merupakan paket lengkap yang memuat polemik perempuan dan moral yang terjadi baik di masa sekarang, masa lalu, dan bahkan juga di cerita-cerita legenda yang tersebar di tengah masyarakat. Buku ini sangat cocok untuk dibaca oleh kamu yang tertarik dengan cerita berlatar sejarah dan budaya daerah Minangkabau, atau juga buat yang menyukai cerita yang cukup kompleks dan membuat merenung.

Terakhir, jika kamu ingin menonton review buku Jemput Terbawa dalam bentuk video, kamu bisa menontonnya di sini di channel Kanvaskata.


Judul         : Jemput Terbawa (Fiksi-Novel)

Penulis      : Pinto Anugrah

Penerbit    : Buku Mojok (Yogyakarta, Maret 2018)

Tebal         : 206 Halaman

Avatar photo
Haris Quds

A culture enthusiast and a book reviewer. Studied American Studies in University of Indonesia.

Articles: 46

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *