Penjualan tiket presale alias advance ticket sales (ATS) untuk Harusnya Horor ludes terjual. Debut penyutradaraan Reza “Arap” Oktavian ini rencananya mengadakan special screening di 14 kota mulai dari Jakarta, Depok, Bekasi, Bali, hingga Pontianak.
Sinopsis Harusnya Horor
Harusnya Horor yang diproduksi Ess Jay Pictures menandai debut penyutradaraan film panjang pertama Reza Arap. Arap mengajak anggota geng-nya sekaligus menjadi debut akting layar lebar 9 anggota dari konten kreator AAAClan.
Selain menjadi sutradara, Arap juga berperan sebagai karakter utama. Karakter yang dikenal dengan nama Mas ini adalah sosok hantu yang kembali ke dunia. Ia ditugaskan menakut-nakuti 100.000 orang dalam waktu 30 hari. Jika berhasil, ia bisa meninggal dengan tenang dan menonton anime yang disukainya.
Karakter hantu Arap bertemu dengan beberapa konten kreator yang masih kesulitan mencari views dan dilanda masalah keuangan. Mereka akhirnya membantu dan menjadikan Arap sebagai “talent” sekaligus berharap konten tersebut bisa mendulang banyak penonton.
Debut penyutradaraan perdana Reza Arap
Reza Arap sebelumnya bermain sebagai aktor pendukung di film #Modus (2016) dan Kupu-Kupu Kertas (2024). Dua kali menjadi sutradara YouTube Rewind serta music video (MV) dari Weird Genius, Harusnya Horor menandai debut penyutradaraan film perdananya.
“Ini debut penyutradaraan saya, dan saya menganggapnya ini seperti kuliah saat syuting, tapi langsung skripsi,” ujar Reza Arap soal pengalaman pertamanya memimpin produksi film. Ia mengaku hari pertama syuting jadi momen paling berkesan karena harus memimpin kru dalam jumlah besar meski tanpa latar belakang formal sebagai sutradara.
Arap turut berperan bersama Sembilan anggota Geng Marapthon yang untuk pertama kalinya tampil di layar lebar, yakni Tierison (Jot), Garry Ang, Yukatheo, Aldy Renaldy (Aloy), Bravyson, Niko Junius, Ariyanto (Ibot), dan Teguh Prakoso (Tepe). Mereka yang baru pertama kali terlibat proyek film ini disebut mengikuti kelas akting dan pendampingan intensif sebelum syuting dimulai.
Film ini juga dibintangi Ronny P Tjandra, bintang muda Malka Rafasya, dan penampilan spesial Yoshua Marcellos (Celloz). Ini menjadi persembahan terakhir dari mendiang Lula Lahfah sebelum meninggal dunia pada Januari 2026 lalu.
Konsep Unik di Balik Formula Horor Lokal
Reza Arap menggandeng sutradara sekaligus penulis skenario berpengalaman, Rahabi Mandra, yang menulis naskah bersama Syahrun Ramadhan. Keduanya didapuk untuk membantu merapikan konsep absurd ini menjadi skenario yang matang.
Yang membuat Harusnya Horor tampil beda dari film horor Indonesia kebanyakan adalah premisnya yang justru menempatkan hantu sebagai pihak yang lebih takut duluan. Dari trailernya, film ini terlihat seperti horor B-movie dengan semangat “low budget” tanpa efek khusus dengan anggaran mahal.
Menurut PRFM News, poster resmi film ini bahkan sempat mengalami revisi setelah penambahan karakter TP terkait salah satu adegan yang disebut-sebut sebagai bagian termahal dalam keseluruhan proses produksi.
Di balik nuansa komedinya, kehadiran mendiang Lula Lahfah juga jadi bagian yang paling dikenang tim produksi. Menurut siaran pers resmi Ess Jay Pictures, Lula digambarkan tidak pernah mengeluh dalam kondisi apa pun sepanjang produksi dan selalu membawakan makanan untuk seluruh kru serta pemain lainnya.
Dengan konsep yang berbeda, film ini tentunya didukung oleh popularitas Arap dan Geng Maraphton. Tak heran jika momen Advanced Ticket Sale (ATS) untuk special screening di 14 kota di Indonesia langsung ludes 2 minggu sebelum penayangan resminya di bioskop.
Film Harusnya Horor rencananya tayang di bioskop Tanah Air mulai 20 Agustus 2026. Dengan basis penggemar yang besar, menarik untuk dilihat apakah film ini bisa menjadi salah satu film terlaris di Indonesia tahun ini. Atau bahkan mengalahkan Agak Laen: Menyala Pantiku! (2025) yang meraup 11 juta penonton?