Review Serial She-Hulk: Attorney at Law Episode 1 (2022)

She-Hulk: Attorney at Law episode 1 membuka kisah superhero terbaru MCU dengan pelan tapi tetap menyenangkan. Dibuat lebih membumi dengan membawa kesan komedi situasi ‘wanita karir dan permasalahannya’ sebagai warna baru yang berbeda dari serial Marvel sebelumnya.

Sinopsis serial She-Hulk episode 1

Dibuka dengan Jen Walter (Tatiana Maslany), seorang pengacara di sebuah firma hukum sedang bersiap-siap untuk mengikuti persidangan. Tapi sebelum itu, ia menjelaskan apa yang terjadi kepada dirinya hingga akhirnya ia mendapatkan kekuatan super yang dimiliki oleh sepupunya, Bruce Banner (Mark Ruffalo).

Bruce Banner dan Jennifer Walter
via Disney+

Kala itu ia sedang berkendara bersama Bruce. Tiba-tiba sebuah pesawat alien menghadang dan membuat Jen membanting setir. Keduanya luka parah, membuat darah Bruce yang sudah mendapatkan radiasi gamma masuk ke dalam tubuh Jen.

Hingga akhirnya Jen berubah menjadi makhluk yang mirip dengan Hulk. Bruce pun membawa Jen ke pulau rahasia dimana ia mendirikan laboratorium bersama Tony Stark. Disana ia mengajari Jen semua hal tentang pengalamannya berubah menjadi Hulk.

Bukan sekadar ‘film orisinil’

Yang membuat She-Hulk terlihat menjanjikan adalah bagaimana serial ini tidak dibuka dengan latar belakang superhero yang berlarut-larut. Walaupun memperkenalkan karakter baru di Marvel Cinematic Universe (MCU), tak butuh waktu 5 sampai 6 episode bagi Jen untuk mendapatkan kekuatannya.

Di tengah kejemuan dari film maupun serial tentang superhero, Kat Coiro yang menjadi sutradara di episode pertama ini langsung memperkenalkan Jen, hubungannya dengan Bruce Banner, sekaligus sekilas tentang bagaimana ia mendapatkan kekuatannya.

Tatiana Maslany sebagai Jen Walter
via Disney+

Jessica Gao yang merangkap kreator sekaligus penulis menghadirkan serial yang sangat ringan, terlebih untuk episode pertama. Jauh dari embel-embel serial superhero yang membuatnya harus berhadapan dengan penjahat super. Bahkan Jen sendiri mengungkapkan bahwa ia tidak ingin menjadi superhero.

She-Hulk dibuka dengan menegaskan perbedaan antara Hulk dari Bruce Banner dan Jennifer Walter. Bagaimana Jen mampu memiliki pengetahuan yang lebih baik dan lebih leluasa mengendalikan tubuhnya ketika berubah. Dibandingkan dengan Bruce yang membutuhkan ‘penelitian 15 tahun’.

Perkenalannya dan latar belakang kekuatannya dibuat sesingkat mungkin, semakin efektif untuk menghadirkan lebih banyak plot dan narasi setelahnya. Terasa pula dengan bit-bit komedi datang silih berganti, cocok untuk durasi hanya setengah jam.

Chemistry antara Maslany dan Mark terasa sangat mengasyikan untuk dinikmati. Baik perbincangan sampai dengan pertengkaran penuh CGI, keduanya mampu menghadirkan ‘hubungan kakak adik’ yang menyenangkan untuk dilihat.

Bruce Banner dalam serial She-Hulk episode 1
via Disney+

Kemampuan Jen untuk menembus the fourth wall dan berbicara dengan penonton layaknya Deadpool memang menjadi daya tarik tersendiri. Mengingat ia merupakan superhero kedua yang melakukan hal tersebut setelah Wanda Maximoff di Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

Dan jangan lupakan bahwa setiap episode ditutup dengan adegan post-credit sebagai ciri khas tontonan superhero Marvel. Di episode pertama, meski tak begitu signifikan untuk cerita secara keseluruhan, menggali lebih dalam tentang bit ‘Apakah Captain America masih perawan’.

Tema perempuan yang lebih membumi

Dibandingkan dengan Ms. Marvel yang sama-sama memperkenalkan superhero wanita terbaru dari MCU, She-Hulk terlihat lebih dewasa dan menghadirkan keresahan-keresahan yang sering dialami oleh perempuan di seluruh dunia.

Terutama tentang bagaimana ia harus lebih sering menjaga amarahnya dari catcalling di jalanan maupun berhadapan dengan pekerja laki-laki lain yang memandang remeh dirinya sendiri. Semua disampaikan dalam satu bit yang representatif, memancing kritikan terhadap kejadian-kejadian yang pernah dialami oleh wanita.

Tatiana Maslany dalam serial She-Hulk episode 1
via Disney+

“Aku pandai mengendalikan amarah. Aku melakukannya hampir setiap hari. Jika tidak, aku akan disebut ‘emosional’ atau ‘susah dimengerti, atau mungkin benar-benar dibunuh”

Jenifer Walter.

Dibandingkan dengan iterasi MCU lainnya, She-Hulk sangat jelas ingin memperlihatkan susahnya ‘petualangan’ wanita di kesehariannya. Dibuat lebih membumi dan tak terlalu kompleks layaknya film maupun serial dengan bintang perempuan lainnya dari MCU.

Akan ada banyak cameo yang diprediksi bermunculan di episode selanjutnya, dari Wong (Benedict Wond) hingga Matt Murdock (Charlie Cox) yang sudah digoda pada trailer. Tapi di episode perdana, Kat menampilkan referensi mengenai Avengers dan apa yang sebenarnya terjadi pada Bruce Banner paska peristiwa Endgame.

Namun selain ringan dan menyenangkan, pembukaan serial ini terasa masih low profile dan kurang menggebrak. Meskipun begitu, episode perdana She-Hulk terlihat sangat menjanjikan untuk membawa gaya sekaligus warna baru bagi semesta Marvel yang sudah semakin penuh sesak.

Tatiana Maslany sebagai She-Hulk
via Disney+

She-Hulk episode 1 langsung membuka gaya baru dari perkenalan superhero Marvel dengan cara yang unik dan berbeda dibandingkan serial Marvel lainnya. Cukup pelan di awalnya, sepertinya masih banyak narasi menarik yang bisa dibawakan oleh Gao dan Maslany dalam mengembangkan superhero wanita terbaru MCU ini.

Genre: Komedi, Drama

Sutradara: Kat Coiro

Penulis Naskah: Jessica Gao

Pemeran: Tatiana Maslany, Mark Ruffalo

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 928

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *