Review Film Terminator: Dark Fate (2019): Harapan Baru Terminator yang ‘Menua’

cover film Terminator: Dark Fate

Film Terminator: Dark Fate melupakan tiga film pendahulunya yang jatuh di pasaran dan menjadi sekuel langsung dari dua film Terminator pertama. Jadi, jangan heran kalau film ini tidak menyambung kisah Terminator 3, Salvation, atau Genisys. Mengandalkan aktor gaek Arnold Schwarzenegger dan Linda Hamilton, serta kemunculan kembali James Cameron di balik layar, waralaba Terminator seperti mendapatkan harapan baru.

Mackenzie Davis dan Natalia Reyes
via Paramount Pictures

Seperti yang dijelaskan dalam plotnya, film Terminator: Dark Fate mengisahkan masa depan yang digambarkan pada Terminator (1984) dan Terminator 2: Judgement Day (1991) tidak terjadi karena Skynet berhasil dikalahkan. Film ini berpusat pada Danielle/Dani Ramos (Natalia Reyes), seorang wanita biasa yang tinggal bersama adik dan ayahnya di Mexico City.

Ketika Terminator Rev-9 (Gabriel Luna) yang diperintahkan untuk membunuh Dani menemukannya, Grace (Mackenzie Davis) datang menyelamatkan. Tak hanya itu, emak-emak bad-ass Sarah Connor (Linda Hamilton) dan T-800/Carl (Arnold Schwarzenegger) pun hadir untuk melawan Rev-9 yang sangat susah dikalahkan.

Film aksi dari awal hingga akhir

Dark Fate masih mengandalkan premis utama dari seri Terminator sebelumnya, dimana Artificial Intelligence (teknologi kecerdasan buatan) berkembang sehingga memiliki pikiran sendiri dan akhirnya menyerang manusia. Dalam film ini, tidak ada Skynet – karena masa depan telah berubah – namun karakter utama menghadapi ancaman dari Legion, A.I. yang bertugas memburu manusia yang masih tersisa.

Gabriel Luna sebagai Rev-9
via Paramount Pictures

Mengingat kehadiran kembali Cameron setelah terakhir terlibat dalam waralaba ini pada T2 memang memberikan harapan baru. Duduk di kursi eksekutif produser, Dark Fate yang diarahkan oleh Tim Miller sukses menyajikan thriller kelas atas. Budget yang cukup tinggi (tentu saja ditambah deretan aktor dan aktris papan atas) berbanding lurus dengan aksi yang diberikan.

Nama besar Tim Miller sebagai sutradara film aksi memang bukan soal. Sukses membawa Deadpool (2016) dan – khususnya – Deadpool 2 (2018) sebagai film dengan rating dewasa termahal sebelum dikalahkan Joker (2019) beberapa waktu lalu, penonton akan dibekap dengan suasana mencekam dari kejar-kejaran dan pertarungan yang sangat intens.

Sekuel yang pantas untuk T2

Film Terminator: Dark Fate menandai instalasi keenam dari seluruh waralaba yang melambungkan nama Schwazenegger sebagai aktor film aksi Hollywood. Tapi setelah T2, film-film selanjutnya tak begitu mengena. Dan baru di Dark Fate, terlihat secercah harapan untuk kelanjutan seri ini.

pemeran film Terminator: Dark Fate
via Paramount Pictures

Meskipun masih menggunakan tema lama, seperti pertentangan antara manusia dan mesin serta pandangan mengenai takdir merupakan pengulangan dari konsep yang telah dieksplorasi oleh film sebelumnya. Tapi perbedaanya, eksekusi yang lebih matang, cerita yang lebih padat, ditambah plot yang menarik

Ada banyak callback dan referensi terhadap film sebelumnya. Seperti ungkapan “I’ll be back” yang diperbarui (dua kali, tapi dalam bentuk yang berbeda), serta keseruan kejar-kejaran yang mendebarkan layaknya pada dua film pertamanya. Namun ada hal baru yang ditampilkan, seperti pertarungan di pesawat dan salah satu seting di kamp penahanan perbatasan Amerika yang kemungkinan besar mengandung unsur politis.

Linda Hamilton kembali memerankan Sarah Connor
via Paramount Pictures

Yang mengesankan dari Dark Fate adalah bagaimana elemen klasik dalam seri ini dibuat lebih segar dan baru. Contohnya karakter Sarah Connor yang dibuat bad-ass menggunakan berbagai senjata – mulai dari AK-47 hingga bazooka – menembaki Rev-9. Dan tentu saja kehadiran T-800 Schwazenegger yang menjadi nyawa dari semua seri Terminator.

Perpaduan karakter lama dan baru pun menjadi sorotan. Kehadiran karakter baru, seperti Dani dan Grace memberikan warna berbeda untuk melanjutkan waralaba ini kedepannya. Gab Luna pun tampil mengesankan meskipun latar Rev-9 hanya menjadi versi upgrade dari T-1000 milik Robert Patrick pada T2.

Premis dan cerita hampir serupa

Beberapa adegan aksi yang baru (seperti di pesawat terbang atau di bawah sungai) memenuhi syarat untuk keseruan menonton film ini. Tapi, kohesi dan narasi yang tak lebih padu dibandingkan dua film pertama adalah kekurangan besar, terlebih dengan premis yang hampir sama. Sebagian besar aksi disuguhkan dengan tampilan wah dan disampaikan dengan gaya serba canggih, namun lemah dalam kedalaman cerita. Lack of intimacy.

Mackenzie Davis dalam film Terminator: Dark Fate
via Paramount Pictures

Selain itu, ada beberapa hal yang membuat keasyikan menonton berkurang. Salah satunya beberapa adegan yang lebih dahulu dijabarkan pada trailer. sayangnya, beberapa adegan mengesankan sudah lebih dahulu dibeberkan pada penonton lewat trailer.

Bagi yang telah melihat trailernya, sepanjang film pun tak dijelaskan mengapa T-800 bisa menua secara organik meskipun dia memiliki badan robot. Kurangnya detail dan penjelasan dari beberapa adegan dan aksi membuat film ini lebih banyak menghasilkan pertanyaan tanpa jawaban. Termasuk adegan yang sedikit membingungkan (walaupun masih menyenangkan untuk ditonton) dari pertarungan di dalam pesawat.

Arnold Schwazenegger dan Linda Hamilton memegang senjata
via Paramount Pictures

Secara keseluruhan, premis dan tema yang tak jauh berbeda membuat film Terminator: Dark Fate bisa bernasib seperti tiga film terakhir dari waralaba ini. Namun eksekusi matang jelas-jelas menjadi daya tarik. Cocok disebut sebagai film ketiga terbaik, setelah Terminator dan T2. Tapi jika memang Dark Fate adalah seri pertama dari trilogi yang akan datang, ada banyak hal yang harus ditingkatkan.

Rating: 7/10

Genre: Thriller, Aksi

Sutradara: Tim Miller

Penulis: David S. Goyer, Justin Rhodes, Billy Ray

Pemain: Linda HamiltonArnold SchwarzeneggerMackenzie Davis

Review Film
  • 7/10
    Film Bagus dan Recommended - 7/10
7/10

Summary

Secara keseluruhan, premis dan tema yang tak jauh berbeda membuat film Terminator: Dark Fate bisa bernasib seperti tiga film terakhir dari waralaba ini. Namun eksekusi matang jelas-jelas menjadi daya tarik. Cocok disebut sebagai film ketiga terbaik, setelah Terminator dan T2. Tapi jika memang Dark Fate adalah seri pertama dari trilogi yang akan datang, ada banyak hal yang harus ditingkatkan.

Sending
User Review
5 (1 vote)

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.