Review Film Suzume no Tojimari (2023): Feel-Good Movie tentang Bencana

Film Suzume no Tojimari merupakan masterpiece terbaru dari empunya animasi feel-good (dan lanskap langit yang menawan), Makoto Shinkai. Karya baru yang merepresentasikan kekuatan hati dan perjuangan manusia menghadapi bencana dan menyikapi kehilangan yang dirasakan.

Sinopsis Film Suzume no Tojimari

Suzume (Nanoka Hara), remaja 17 tahun yang tinggal berdua dengan bibinya, Tamaki (Eri Fukatsu). Kematian ibunya akibat gempa dan tsunami di Tohoko membuat Suzume dibawa oleh Tamaki ke Miyazaki, sebuah kota kecil di ujung selatan Jepang.

Suzume Iwako
via Toho

Suzume berpapasan dengan Shouta (Hokuto Matsumura), pelancong yang ternyata merupakan seorang Closer, orang yang menyegel pintu tempat keluarnya monster cacing Mimizu yang bisa menyebabkan gempa bumi. Salah satu pintu tersebut berada di reruntuhan gunung Miyazaki.

Tak sengaja, Suzume melepas patung dewa penjaga Mimizu, yang akhirnya berubah menjadi kucing bernama Daijin. Dan Daijin mengutuk Shouta menjadi sebuah kursi yang bisa berbicara. Suzume akhirnya membantu Shouta untuk mengembalikan wujudnya sekaligus mencegah gempa bumi dengan menyegel Mimizu.

Masterpiece terbaru

Setelah Your Name (2016) dan Weathering with You (2019), Makoto Shinkai kembali hadir dengan sebuah film berlatarkan bencana alam. Kali ini tentang seorang gadis muda yang menyegel makhluk mitologi dan mencegah terjadinya gempa besar di seantero Jepang.

Ceritanya memang tak lebih kompleks dibandingkan dua film terpopuler Makoto sebelumnya. Premisnya sederhana, eksekusi narasi dan penggabungan referensi dunia nyata dengan mitologi khas Negeri Sakura pun diformulasikan dengan sangat runut.

Suzume dalam film Suzume no Tojimari
via Toho

Kisah ini berpusat pada Suzume yang tumbuh tanpa sosok orang tua menjadikannya pribadi yang pemberani dan melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya sendiri. Menarik untuk dilihat arc dan pengembangan karakter mengharukan dari karakter utama di film ini.

Plot dipaparkan dengan menawan dan tempo yang dinamis. Sementara visual menghanyutkan, keseluruhan kisah tentang Suzuma dan Shouta terjadi layaknya sebuah perjalanan panjang di musim panas yang penuh gairah dan menenangkan.

Film ini dibawakan dengan gaya road movie. Disandingkan dengan kepiawaian Makoto untuk menghadirkan lanskap Jepang yang mengagumkan melalui visual yang tersaji dengan apik. Keseluruhan film Makoto memang sudah dipastikan jadi proyek visual berjalan.

film Suzume no Tojimari
via Toho

Tapi mungkin visual yang ditawarkan dalam film ini tak semegah Your Name. Pasalnya ada beberapa adegan di mana animasi 2D dan 3D terasa tak menyatu dengan baik. Namun tentunya tak mengubah bagaimana Makoto mampu memberikan penyegaran nuansa musim panas Jepang dengan sangat apik.

Terinspirasi dari kejadian nyata

Film ini disebut mengambil latar dari gempa 9.0 skala Richter yang melanda Tohoku pada tahun 2011, sama persis dengan setting film ini. Perpaduan antara narasi nyata dan mitologi diolah dengan sangat menawan untuk menjadikan film ini terasa kuat.

Daijin
via Toho

Misalnya saja makhluk Mimizu (translate kasar ‘cacing’) diambil dari mitologi belut besar bernama namasu yang tinggal di bawah tanah dan bisa menyebabkan gempa bumi. Begitu pula batu Daijin dikenal dengan nama kaname-ishi, biasanya diletakkan di kuil untuk mencegah gempa.

Bahkan sebagian latar yang digunakan pada film ini terinspirasi dari daerah-daerah di Jepang. Kota yang terbengkalai, reruntuhan akibat bencana yang sunyi, sampai dengan hiruk pikuk kota Tokyo memberikan sensasi berwisata ke Negara Sakura.

Film tentang bencana dan kehilangan

Makoto membawakan tema tentang bencana dan bagaimana menyikapi kehilangan yang dirasakan. Di mana bencana lama akan terlupakan seiring datangnya bencana baru. Melalui film ini, Makoto mengajak penonton untuk mengenang kembali setiap orang yang pernah merasakan kehilangan.

Makoto merepresentasikan bagaimana ada kenangan yang masih tersimpan di reruntuhan akibat bencana, orang-orang yang meninggal serta keluarga yang ditinggalkan. Untuk mengunci setiap pintu munculnya Mimizu, Suzume merasakan kenangan indah orang-orang yang ada di area tersebut.

Suzume dan Shouta
via Toho

Film ini mengajarkan bahwa salah satu cara untuk selamat adalah dengan berusaha sekeras hati untuk tetap hidup. Termasuk dengan narasi bahwa manusia harus saling membantu untuk bisa bertahan melawan segala bencana yang datang.

Film Suzume no Tojimari merepresentasikan penggambaran Makoto tentang dunia yang indah namun tetap penuh dengan bahaya. Menggabungkan elemen fantasi dan dunia nyata adalah kesuksesan terbesar Makoto Shinkai dalam menelurkan karya ini.

Genre: Animasi

Sutradara: Makoto Shinkai

Penulis Naskah: Makoto Shinkai

Pengisi Suara: Nanoka Hara, Hokuto Matsumura

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 915

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *