Dibalik Suksesnya Animasi, Animator di Jepang Kurang Dibayar dan Overworked

Masih ada yang berniat menjadi animator di Jepang?

gambar ilustrasi animator

Industri anime bisa dibilang menjadi salah satu daya tarik Jepang. Selain serial TV atau layar lebar, industri ini juga merambah mainan dan game. Sayangnya, nasib kurang baik harus dialami animator di Jepang. Sebuah video dari Asian Boss menunjukkan polemik animator yang bekerja terlalu keras namun bergaji rendah.

Asian Boss mewawancarai animator pemula bernama Ayame Nakamura. Ia hanya memiliki enam bulan pengalaman bekerja di bidang anime, tetapi sudah menangani judul-judul besar seperti Vinland Saga dan Boruto. Ia mengakui bahwa industri kekurangan animator meskipun ada banyak peluang, bahkan untuk orang asing.

Berbicara tentang proses produksi, Nakamura menjelaskan tenggat waktu dan jadwal yang ketat. Inilah yang menyebabkan animator bekerja terlalu banyak. Namun sayangnya, gaji yang tak terlalu besar membuat Tokyo menjadi kota yang sangat mahal untuk ditinggali. Bahkan ia mengakui siswa sekolah menengah yang bekerja paruh waktu menghasilkan lebih banyak uang.

Nakamura ketika diwawancarai Asian Boss tentang bagaimana kerja sebagai animator
via Asian Boss

Video tersebut juga berbicara dengan Jun Sugawara, pekerja sebuah organisasi nirlaba yang disebut Animator Support. Salah satu proyek mereka adalah menjalankan asrama dengan sewa murah untuk animator bergaji rendah. Beberapa animator memiliki keterampilan bagus, namun tidak mendapatkan kompensasi yang layak untuk pekerjaan yang mereka lakukan.

Masalah lama animator di Jepang

Dilansir dari Vox, masalah kesejahteraan animator di Jepang sudah menjadi bagian dari gelapnya industri animasi di Negeri Sakura tersebut. Singo Adachi, seorang animator dan desainer karakter untuk Sword Art Online mengatakan industri animasi Jepang sangat kekurangan animator. Dengan hampir 200 serial TV anime setiap tahunnya, tidak ada cukup animator.

Sebagai gantinya, pihak studio mengandalkan kumpulan besar freelance yang pada dasarnya tidak mendapatkan bayaran yang cukup. Di entri level, ada animator in-between. Mereka adalah orang-orang yang membuat gambar yang muncul di storyboard di antara adegan yang dibuat oleh key animator, level menengah yang menggambar bagian penting di setiap adegan.

animator di Jepang Shingo Adachi

Animator in-between menghasilkan sektar 200 yen per gambar (sekitar Rp26.031). Satu gambar membutuhkan waktu satu jam untuk diselesaikan. Belum lagi detail dan ketelitian yang dibutuhkan pada setiap gambar, seperti makanan, arsitektur, dan lanskap, yang membuat empat atau lima kali lebih lama.

“Bahkan jika kamu naik jabatan dan menjadi animator kunci, kamu tidak akan mendapatkan [uang] banyak,” kata Adachi. “Dan bahkan jika karirmu sangat sukses, seperti Attack on Titan, kamu tidak akan mendapatkannya. … Ini masalah struktural dalam industri anime. Tidak ada mimpi [dalam pekerjaan sebagai animator].”

Mengenai alasan animator dibayar rendah, Nakamura mengatakan ada banya faktor. Salah satunya anggaran untuk anime rendah, karena sebagian besar angaran masuk pada perusahaan periklanan. Industri animasi tergantung pada tenaga kerja murah, dan disediakan oleh animator yang rela dan berkeinginan untuk masuk ke industri.

animator anime The Disastrous Life of Saiki K tidak digaji
via C.J. Studio

Tak jarang, dibalik industri anime yang semakin berkembang, studio animasi di Jepang malah mendapatkan citra buruk. Pekerja dari A-1 Pictures (Sword Art Online) dilaporkan bunuh diri karena terlalu banyak bekerja. Awal April lalu, seorang asisten produksi menggugat Madhouse karena memberikan jam kerja terlalu lama.

Tidak hanya animator di Jepang, masalah animasi pun diterima oleh mangaka yang karyanya tidak dibayar ketika diadaptasi menjadi anime. Contoh yang paling terkenal seperti Shuuichi Asou dengan The Disastrous Life of Saiki K. Ia akhirnya dibayar hanya setelah dia mengumumkan kontrak yang ia terima kepada media.

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.