Merdeka adalah hak semua bangsa. Dan selain dokumenter, ada banyak film yang memperlihatkan perjuangan dalam meraih kemerdekaan yang tak mudah didapatkan. Di tengah perjuangan kembali meraih rasa merdeka yang mungkin terlupa, berikut film dengan penggambaran paling realitis tentang perjuangan rakyat Indonesia dalam meraih kemerdekaannya.
Tjoet Nja’ Dhien (1988)
Sutradara: Eros Djarot
Pemeran: Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Piet Burnama, Rudy Wowor
Durasi: 108 menit
Nonton di: Netflix, Bioskop Online
Salah satu film kemerdekaan yang masih belum banyak dibicarakan. Baik dari segi teknis hingga pencapaiannya, film ini terasa megah. Christine Hakim memerankan Cut Nyak Dhien, pahlawan nasional asal Aceh yang meneruskan perlawanan terhadap Belanda usai suaminya, Teuku Umar, gugur di medan perang. Ceritanya fokus pada enam tahun terakhir perjuangannya hingga akhirnya ia dikhianati.

Akting Christine Hakim yang otentik dipadukan dengan penggambaran sejarah perang gerilya di Aceh yang terasa realistis. Film ini tanpa kesan meromantisasi peran, memperlihatkan Cut Nyak Dhien di kondisi terlemahnya; tua, buta, dan sakit-sakitann. Totalitasnya membuat film ini memborong 8 Piala Citra di FFI 1988 hingga jadi film Indonesia pertama di Cannes Film Festival.
Merah Putih (2009)
Sutradara: Yadi Sugandi
Pemeran: Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Darius Sinathrya, Teuku Rifnu Wikana
Durasi: 108 menit
Nonton di: Vidio
Meski banyak tak tak suka (atau belum menonton) film ini, namun Merah Putih punya penggambaran yang realistis tentang perjuangan meraih kemerdekaan. Film ini menghadirkan lima kadet dari latar belakang suku, agama, dan kelas sosial berbeda yang bersatu di Sekolah Tentara Rakyat setelah pusat pelatihan mereka diserang mendadak pasukan Belanda saat Agresi Militer I tahun 1947.
Eksekusinya menawan karena proses syuting menggunakan senjata asli, bukan replika. Naskahnya sendiri berangkat dari kisah nyata Margono Djojohadikusumo, Ketua Dewan Pertimbangan Agung pertama Republik Indonesia. Ada pula adegan tentang perselisihan internal dari para pejuang, menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan juga diwarnai gesekan ideologi di dalam negeri sendiri.
Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015)
Sutradara: Garin Nugroho
Pemeran: Reza Rahadian, Putri Ayudya, Christine Hakim, Chelsea Islan
Durasi: 161 menit
Nonton di: Netflix, Vidio
Garin Nugroho kembali ke ranah sejarah dengan menghidupkan kembali Haji Oemar Said Tjokroaminoto melalui sosok Reza Rahadian. Ia adalah bangsawan Jawa yang melepas status kebangsawanannya untuk memahami penderitaan rakyat kecil, lalu mendirikan Sarekat Islam, organisasi bumiputra pertama. Sosoknya punya pengaruh besar sekaligus menjadi mentor bagi banyak tokoh pergerakan nasional termasuk Soekarno muda.
Garin menggarap film ini dengan menggunakan riset visual dan tata artistic yang detail terhadap perjuangan di era pergerakan nasional era 1912-1921. Ceritanya mengedepankan sosok Tjokroaminoto yang memilih jauh organisasi dan pendidikan politik ketimbang konflik bersenjata. Pergerakannya membumi dan terus berkembang sebelum revolusi fisik meletus pada 1945.
Jenderal Soedirman (2015)
Sutradara: Viva Westi
Pemeran: Adipati Dolken, Ibnu Jamil, Mathias Muchus, Baim Wong
Durasi: 126 menit
Nonton di: Netflix, Vidio
Di tahun yang sama, Viva Resti turut menulis sekaligus menyutradarai film biografi perjuangan lainnya. Film ini menangkap tujuh bulan perang gerilya Jenderal Soedirman melawan Agresi Militer Belanda II. Perjuangan sambil ditandu karena penyakit paru-paru parah yang dideritanya, di tengah situasi Soekarno-Hatta yang ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka.
Terlihat betapa kerasnya perjuangan Sudirman yang otentik, meski film ini tak luput dari dramatisasi. Viva konsisten menempatkan sang jenderal sebagai pusat cerita tanpa mendistorsi kontribusi tokoh-tokoh lain. Meski beberapa kritikus sempat mengkritik penggambaran tokoh pendukung, namun hal tersebut tak mendistorsi sisi akurasi historisnya.
Kadet 1947 (2021)
Sutradara: Rahabi Mandra, Aldo Swastia
Pemeran: Bisma Karisma, Kevin Julio, Omara Esteghlal, Marthino Lio
Durasi: 111 menit
Nonton di: Netflix
Ceritanya terinspirasi dari peristiwa nyata Agresi Militer Belanda I tahun 1947. Film ini mengikuti sekelompok kadet sekolah penerbangan Angkatan Udara Maguwo, Yogyakarta, yang berjuang mempersiapkan misi pemboman udara pertama Indonesia. Semua dilakukan meski minim pengalaman terbang dan sumber daya militer yang sangat terbatas.
Kepada media, produser Celerina Judisari menyebutkan bahwa film ini merupakan hasil riset sejarah. Eksekusinya juga menawan, dengan menghadirkan intrik sekaligus adegan gerilya taktis yang kompleks. Bukannya mengagungkan aksi dan ledakan, film ini mengulas tentang rasa takut, keraguan, dan tekanan psikologis yang dialami oleh kadet muda sebelum menjalani misinya.

