Artikel ini mengalami revisi pada 18.10 WIB, 20 April 2026, dengan menghapus A Distant Call dari daftar film yang pernah diputar di Festival Film Cannes. A Distant Call sebelumnya dipresentasikan di Docs-In-Progress pada Festival de Cannes Marché du Film 2023 sebagai bagian dari proyek yang sedang diproduksi atau work in progress. (Editor)
Cannes Film Festival merupakan salah satu festival film terpopuler dan tertua di dunia ini merupakan ajang prestisius bagi insan perfilman seluruh dunia. Pertama kali dihelat pada tahun 1946, baru pada era 80-an ada film Indonesia yang diputar pada festival film tahunan tersebut. Berikut film panjang maupun pendek Indonesia yang pernah diputar di Festival Film Cannes.
1. Lewat Djam Malam (1954)
- Sutradara: Usmar Ismail
- Penulis Naskah: Asrul Sani
- Pemeran: A.N. Alcaff, Netty Herawati
Film berlatar beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia ini mengisahkan tentang Iskandar, mantan pejuang kemerdekaan yang meninggalkan dinas ketentaraan untuk memulai hidup baru. Ia lalu menyadari korupsi yang merajalela dengan mengatasnamakan perjuangan tentara.
Pertama dirilis pada tahun 1954 dan mendapatkan penghargaan sebagai Film Terbaik di Festival Film Indonesia 1955, film ini akhirnya menerima restorasi oleh Lisabona Rahman dan Lintang Gitomartoyo pada Agustus 2011 sampai 2012 di Laboratorio L’Immagine Ritrovata, Bologna, Italia. Film ini baru diputar di Cannes Classic pada tahun 2012.
2. Tjoet Nja’ Dien (1988)
- Sutradara: Eros Djarot
- Penulis Naskah: Eros Djarot
- Pemeran: Christine Hakim, Piet Burnama, Rudy Wowor, Slamet Rahardjo
Sejak tahun 1920-an dimana penduduk Indonesia diperkenalkan pada gambar bergerak, industri film Indonesia masih dinikmati oleh masyarakat lokal. Baru pada tahun ‘88 film Indonesia masuk ke dalam festival Cannes. Penghargaan tersebut diberikan kepada film legendaris Tjoet Nja’ Dien karya Eros Djarot.
Sesuai dengan judulnya, film ini bercerita tentang kisah perjuangan pahlawan wanita Indonesia, Cut Nyak Dien, yang diperankan dengan menawan oleh maestro aktor Tanah Air, Christine Hakim. Tak tanggung-tanggung, film ini memenangkan penghargaan Film Internasional Terbaik ketika diputar dalam Festival Film Cannes 1989.
3. Daun di Atas Bantal (1998)
- Sutradara: Garin Nugroho
- Penulis Naskah: Garin Nugroho, Armantono
- Pemeran: Christine Hakim, Sugeng, Heru, Kancil
Masih jadi salah satu film terbaik Indonesia, film yang juga dirilis Leaf on a Pillow ini mengisahkan tentang tiga anak jalanan yang bertahan hidup di jalanan Yogyakarta. Film ini dibintangi oleh tiga aktor kecil, Sugeng, Heru, dan Kancil, serta Christine Hakim sebagai penjaga toko yang menjaga ketiga anak tersebut.
Proses syuting mengalami banyak hambatan, termasuk krisis ekonomi di Indonesia yang membuat produksi yang seharusnya selesai pada Oktober 1997 menjadi tertunda. Film ini akhirnya diselesaikan di Australia. Sukses di Indonesia, film ini pun diputar pada kategori Un Certain Regard di Festival Film Cannes 1998.
4. Serambi (2005)
- Sutradara: Garin Nugroho, Tonny Trimarsanto, Lianto Suseno, Viva Westi
- Penulis Naskah: N/A
- Pemeran: N/A
Tsunami di Aceh pada Desember 2004 menyisakan kenangan dan kehilangan mendalam bagi masyarakat yang terdampak. Dan film Serambi karya lima sutradara ternama menangkap perihnya kehidupan masyarakat Aceh pasca salah satu bencana alam paling mematikan di Indonesia sepanjang abad ke-21.
Film ini dirangkum sebagai dokumenter pendek yang menceritakan tentang tiga cerita, pemuda bernama Reza Idria, anak kecil bernama Maisarah Untari, dan pengemudi becak motor bernama Usman yang harus melanjutkan hidup setelah tsunami. Film Serambi masuk ke dalam kategori Un Certain Regard di Festival Film Cannes 2006
5. Kara: Anak Sebatang Pohon (2005)
- Sutradara: Edwin
- Penulis Naskah:
- Pemeran: Clarine Baharrizki, Ladya Cheryl, Ela Garo
Film pendek berdurasi hanya 7 menit ini merupakan karya Edwin yang pada awalnya dibuat sebagai karya akhir saat ia bersekolah di Institut Kesenian Jakarta. Namun film ini berhasil lolos seleksi dan diputar di kategori Directors’ Fortnight dalam Cannes 2005.
Kara bercerita tentang seorang anak yang ingin membalas dendam kepada patung Ronald yang ada di gerai McDonald. Film ini disebut menghadirkan perlawanan terhadap kapitalisme yang berakhir sia-sia.
6. The Fox Exploits the Tiger Might (2015)
- Sutradara: Lucky Kuswandi
- Penulis Naskah: Daud Sumolang
- Pemeran: Atreyu Moniaga, Kemas Fauzan & Surya Saputra
Film pendek karya Lucky Kuswandi ini mengisahkan tentang dua remaja tanggung, Aseng dan David, ang satu pribumi anak jenderal nan angkuh dan memamerkan kekuasaannya, sementara Aseng adalah Tionghoa anak pemilik toko. Keduanya mulai mengenal tentang seksualitas dan relasi kuasa dalam kehidupan sehari-hari mereka.
The Fox Exploits the Tiger Might berlatar pada era Orde Baru, dimana negara dikuasai oleh militer dan terjadi penindasan terhadap etnis Tionghoa. Kritik inilah yang menjadi pondasi dan sebagian tema film. Film berdurasi 24 menit ini diputar pada kategori International Critics Week di Cannes 2015.
7. Prenjak (2016)
- Sutradara: Wregas Bhanuteja
- Penulis Naskah:
- Pemeran: Rosa Winenggar, Yohanes Budyambara, Hosea Hatmaji, Banyu Bening
Dikenal sebagai sutradara Ada Apa dengan Cinta 2 (2016), Penyalin Cahaya (2022), dan Budi Pekerti (2023), Wregas Bhanuteja pernah memproduksi sebuah film pendek berjudul Prenjak yang dianugerahi Leica Cine Discovery Prize di Cannes 2016, sebagai film Indonesia pertama yang memenangkan penghargaan di festival Cannes.
Film ini mengangkat praktek wanita penjual wedang rondhe yang memperbolehkan pria melihat organ intimnya dengan menyalakan korek di tempat gelap, populer di Yogyakarta era 1980 hingga 1990-an. Film ini mengisahkan Diah, karyawan restoran yang mengizinkan Jarwo melihat organ intimnya demi imbalan uang yang besar.
8. Marlina Pembunuh dalam Empat Babak (2017)
- Sutradara: Mouly Surya
- Penulis Naskah: Mouly Surya, Rama Adi
- Pemeran: Marsha Timothy, Yoga Pratama, Egi Fedly, Dea Panendra
Bercerita tentang Marlina, seorang janda yang memenggal kepala pemerkosanya. Ia lalu berjalan melintasi lanskap pegunungan Sumba untuk menyerahkan kepala tersebut kepada polisi dan mencari keadilan pada orang-orang yang melecehkannya.
Terinspirasi dari kisah nyata, film karya Mouly Surya ini mengangkat tema perempuan dalam balutan western dan lanskap Sumba yang megah. Selain menjadi salah satu wakil Indonesia dengan premier perdana di Cannes dalam kategori Directors’ Fortnight , film ini sempat dikirim untuk nominasi Best Foreign Movie di Oscar 2018.
9. Basri & Salma in a Never-Ending Comedy (2023)
- Sutradara: Khozy Rizal
- Penulis Naskah: Khozy Rizal
- Pemeran: Arham Rizky Saputra, Rezky Chiki, Hj. Sugiati, Alghifari Jasin
Kehidupan suami istri pemilik odong-odong yang selalu menghibur anak dan mengasuh anak-anak ini mulai terusik ketika pertanyaan-pertanyaan mengenai “Kapan punya anak?” mengusik mereka. Film ini jadi sebuah kritik sosial tentang pengaruh stigma masyarakat dalam hubungan sebuah keluarga.
Rilis perdana di ​Guanajuato International Film Festival 2023, film dark comedy yang memuat permasalahan keluarga modern, termasuk pertanyaan “kapan punya anak” dikemas dalam durasi 15 menit. Basri & Salma termasuk 1 dari 11 film pendek yang bersaing memperebutkan penghargaan Short Film Palme d’Or di Cannes 2023, dan satu-satunya wakil dari Asia Tenggara.
10. Tiger Stripes (2023)
- Sutradara: Amanda Nell Eu
- Penulis Naskah: Amanda Nell Eu
- Pemeran: Zafreen Zairizal, Deena Ezral, Piqa, Shaheizy Sam
Film kolaborasi Indonesia, Malaysia, dan beberapa negara lainnya ini disutradarai oleh Amanda Nell Eu, bercerita tentang Zaffan, anak 12 tahun yang mengalami perubahan mendadak pada dirinya ketika dia mulai mengalami pubertas.
Film ini memenangkan Critics’ Week Grand Prize di Cannes 2023 dan sudah bisa disaksikan di Netflix. Tiger Stripes sempat ditayangkan di Malaysia setelah melalui berbagai sensor, dimana Amanda mengungkapkan bahwa sensor tersebut membuat film ini kehilangan esensinya.