Nest Step Studios Bawa 4 Film Pendek karya 4 Sutradara Indonesia di Festival Film Cannes 2026

Bertempat di Institut Francais Indonesia (IFI) Thamrin, Jakarta Pusat, Next Step Studio mengumumkan deretan sutradara sekaligus judul film pendek yang akan diputar pada Festival Film Cannes 2026 yang akan diselenggarakan dari tanggal 12 hingga 23 Mei 2026.

Empat film pendek Indonesia

Empat sutradara muda Tanah Air bersama dengan empat sutradara anyar Asia Tenggara. Reza Rahadian berkolaborasi dengan suytadara Filipina dengan film berjudul Annisa, Reza Fahriyansyah dengan sutradara Ananth Subramaniam dari Malaysia dengan film berjudul Holy Crowd, Khozy Rizal menggandeng Lam Li Shuen dari Singapura dengan Mothers are Mothering, dan Shelby Ko dengan Sein Lyan Tun dari Myanmar dengan Original Wound.

Turut hadir dalam press conference tersebut deretan pemain dari masing-masing film, yaitu Prilly Latuconsina, Arswendy Bening Swara, Yusuf Mahardia, Yudi Ahmad Tajudin yang membintangi Holy Crowd, tentang sebuah desa yang mengalami kejadian supranatural ketika karakter Prilly terbangun dari kematian.

press conference Next Step Studio
via Mariviu

Agnes Naomi dan Omara Esteghlal mewakili film Original Wound, tentang kakak beradik yang ingin keluar dari penjara bernama rumah. Happy Salma mewakili film Mothers are Mothering karya Khozy tentang arisan ibu-ibu yang nyentrik.

Film Annisa dari Reza Rahadian mengisahkan tentang kisah seorang anak remaja buta, diperankan langsung oleh Annisa yang ia temui di lokasi syuting. Reza menyebutkan bahwa Annisa yang bermimpi untuk mengikuti proses syuting menginspirasinya dalam membuat film pendek tersebut.

Kolaborasi Indonesia dan Asia Tenggara

Masing-masing film merupakan hasil dari kolaborasi antar sutradara. Mengembangkan ide bersama, namun menghadirkan cerita yang bisa diterima secara universal. Termasuk menggunakan lokasi syuting di Jakarta melalui program Filming in Jakarta.

Pemilihan sutradara ini, sebut Yulia Evina Bhara selaku produser, bertujuan untuk menyandingkan sutradara Indonesia dengan sutradara Asia Tenggara. Sementara film yang dikembangkan merupakan hasil kolaborasi dengan cerita yang unik.

Fabien Panone dalam pembukaan Next Step Studio
via Mariviu

Selain itu, sutradara yang dipilih sudah memiliki rekam jejak artistik yang memukau, baik dakam karya film pendek maupun film panjang. Pemilihan dilakukan dengan mengambil sutradara yang baru saja menyelesaikan film panjang pertama atau kedua mereka.

Keempat film tersebut nantinya akan diputar dalam program La Semaine de la Critique Cannes. Yulia menyebutkan bahwa proses ini telah berlangsung selama dua tahun hingga akhirnya Director’s Fortnight Cannes menunjuk Indonesia sebagai negara asal pembuat film antalogi ini.

Selain diputar di Festival Film Cannes 2026, belum ada informasi resmi mengenai rilisan bioskop dari keempat film tersebut. Namun Yulia menyebutkan bahwa mereka berniat untuk membawa film ini supaya bisa diputar di bioskop Tanah Air. Kita tunggu saja!

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 922

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *