Dari puluhan tahun umur sinema Tanah Air, ada berbagai rekomendasi film aksi Indonesia yang pas buat kamu tonton. Mulai dari film legendaris tentang zaman penjajahan sampai dengan film dengan genre fiksi ilmiah yang kental, berikut rekomendasi film action Indonesia dari Mariviu.
1. Si Pitung (1970)
- Pemeran: Nawi Ismail
- Sutradara: Dicky Zulkarnaen, Paula Rumokoy, Sandy Suwardi
- Durasi: 131 menit
Banyak yang bilang si Pitung merupakan tokoh fiksi. Tapi tak mengurangi betapa populernya tokoh legendaris dari masyarakat Betawi ini. Bahkan film tentang perlawanan Pitung yang dikenal dengan silat Betawi ini sudah lebih dulu diadaptasi ke layar lebar pada tahun 1970.
Film si Pitung yang pertama merupakan arahan Nawi Ismail dengan menggandeng aktor legendaris Dicky Zulkarnaen. Ceritanya berpusat pada si Pitung yang berlajar silat dan menolong si miskin dari penjajahan Belanda dan perjuangan masyarakat melawan tuan tanah. Dicky juga memerankan karakter Pitung dalam beberapa film setelahnya
2. Ken Arok – Ken Dedes (1983)
- Pemeran: George Rudy, Eva Arnaz, Advent Bangun
- Sutradara: Djun Saptohadi
- Durasi: 105 menit
Dipenuhi dengan aktor-aktor legendaris Tanah Air, cerita Ken Arok dan Ken Dedes sudah difilmkan pada tahun 1983. Film ini dibintangi oleh George Rudy sebagai Ken Arok dan Eva Arnaz yang juga populer sebagai aktor di film-film Warkop sebagai Ken Dedes, serta Advent Bangun sebagai Tunggul Ametung.
Ken Arok dan Ken Dedes diadaptasi dari kisah Paraton, atau Kawawin Kenhangrok. Buku ini merupakan bagian dari Sastra Jawa Pertengahan berupa manuskrip 32 halaman yang terdiri dari 1.126 baris. Ceritanya merupakan rangkuman dari sejarah raja-raja Singasari dan Majapahit, dimulai dari cerita bagaimana Ken Arok menjadi raja Singasari pada tahun 1222.
Sementara versi film fokus pada perjalanan Ken Arok yang ditinggalkan oleh oleh tuanga dan dibesarkan oleh para penjahat. Ia tumbuh sebagai pemuda yang bengal dan masuk ke dalam kemiliteran, dimana ia jatuh cinta pada bupati Akuwe, Tunggul Ametung, bernama Ken Dedes.
3. Satria Bergitar (1984)
- Pemeran: Rhoma Irama, Ricca Rachim, Mathias Muchus
- Sutradara: Nurhadie Irawan
- Durasi: 162 menit
Rhoma Irama yang terkenal sebagai Raja Dangdut sebenarnya sudah memulai karir akting dan penyanyinya sebelum film ini. Namun Satria Bergitar merupakan salah satu film aksi Indonesia legendaris yang membuat Rhoma menjadi aktor kenamaan Tanah Air.
Dalam film ini, Rhoma memerankan sebagai pengembara berkuda yang membawa gitar. Setelah mengalahkan pasukan musuh dan memenangkan pertempuran, ia berhasil mengajak Raja Wasit dan anaknya, Putri Tirza masuk Islam. Rhoma lalu menyamar sebagai musisi untuk menyelamatkan Putri Tirza yang ditangkap oleh Abu Garin, rival Raja Wasit.
Sama seperti film Rhoma Irama lainnya, film ini menyandingkan genre drama, aksi, serta musik dangdut yang dinyanyikan langsung oleh Rhoma. Film Satria Bergita merupakan film Indonesia pertama yang menggunakan sistem suara Dolby Stereo ketika dirilis perdana pada tahun 1984.
4. Saur Sepuh (1989)
- Pemeran: Fendy Pradana, Murti Sari Dewi, Elly Ermawati
- Sutradara: Imam Tantowi
- Durasi: 90 menit
Film aksi Indonesia lainnya, Saur Sepuh, merupakan karya orisinil dari Niki Kosasih yang populer di masyarakat Tanah Air ketika dirilis sebagai radio drama pada era awal 80-an. Keseluruhan ceritanya mengisahkan tentang perjalanan ksatria bernama Brama Kumbara yang nantinya menjadi raja Madangkara, di area bagian selatan pulau Jawa.
Kesuksesan di radio membuat Kanta Indah Film tertarik untuk mengadaptasi Saur Sepuh ke layar lebar. Ada lima film yang dirilis dalam rentang waktu 1983 sampai 1992. Sejak di film ketika, ceritanya berpusat pada alur Laksmini sebagai tokoh utama, ksatria wanita yang orang tuanya dibunuh oleh Brama Kumbara.
5. Merantau (2009)
- Pemeran: Iko Uwais, Alex Abbad, Sisca Jessica
- Sutradara: Gareth Evans
- Durasi: 135 menit
Sebelum The Raid dan menjadi bintang laga yang disegani di Hollywood, Iko Uwais pertama kali muncul sebagai tokoh utama pada film Merantau. Di film ini, Iko berperan sebagai Yuda, pesilat dari Sumatera Barat yang merantau ke kota besar dan bertemu dengan dua bersaudara yang menjadi korban perdagangan manusia.
Film ini menjadi kolaborasi pertama Iko dengan sutradara asal Irlandia, Gareth Evans sebelum The Raid. Evans sendiri tertarik dengan seni bela diri Pencak Silat setelah mengeluarkan dokumenter bertajuk Mystic Arts of Indonesia: Pencak Silat (2008).
Menggunakan kesenian Silat khas Minangkabau, Merantau menjadi salah satu film aksi Indonesia yang melejit berkat koreografi aksi yang menawan. Namun hal tersebut tak menutupi kesan negatif yang menyebutkan bahwa film ini terinspirasi oleh film Thailand, Ong Bak.
6. The Raid (2011)
- Sutradara: Gareth Evans
- Pemeran: Iko Uwais, Joe Taslim, Yayan Ruhian, Cecep Arif Rahman
- Durasi: 102 menit
Mungkin tak ada yang bisa membantah jika The Raid disebut sebagai film aksi Indonesia terbaik saat ini. Mulai dari plot yang kompak, akting yang believable, serta dipertajam dengan koreografi dan camerawork menawan dari aktor aksi populer Tanah Air, semisal Iko Uwais, Joe Taslim, Yayan Ruhian, sampai Cecep Arif Rahman.
Premis yang ditawarkan sangat sederhana, dimana keseluruhan film hanya mengungkapkan bagaimana sekelompok polisi melakukan penyergapan di sebuah apertemen kosong untuk menangkat sekelompok penjahat. Tapi rangkaian aksi dari awal sampai akhir di film ini terasa fresh dan sempurna.
Film inilah yang melambung Iko, Yayan, dan Joe Taslim sebagai aktor laga kenamaan Tanah Air. Tak heran jika ada banyak film aksi setelahnya yang mengungkapkan The Raid dan The Raid 2 sebagai referensi film mereka, termasuk Monkey Man (2024), karya terbaru Dev Patel.
7. 3: Alif, Lam, Mim (2015)
- Pemeran: Cornelio Sunny, Abimana Aryasatya, Agus Kuncoro
- Sutradara: Anggy Umbara
- Durasi: 123 menit
Masuk ke dalam salah satu film Indonesia paling kontroversial, film karya Anggi Umbara ini mengupas nuansa politik bersanding dengan genre aksi. Bahkan film 3 dilarang diputar di televisi nasional hingga saat ini.
Film ini mengisahkan tentang tiga sahabat yang terjebak antara konflik identitas di Indonesia masa depan. Konflik tersebut melibatkan kaum nasionalis dengan kaum agamis, dimana ada dalang yang mencoba untuk mengadu domba kedua kelompok untuk menghancurkan Indonesia.
Narasi dalam film ini melibatkan banyak pihak, termasuk pihak kepolisian dan kaum agama. Bahkan ceritanya sering dikaitkan dengan berbagai peristiwa politik di Indonesia. Film ini dijejali dengan adegan penuh grafis komputer, termasuk adegan aksinya yang menjanjikan.
8. Headshot (2017)
- Pemeran: Iko Uwais, Chelsea Islan, Julie Estelle
- Sutradara: The Mo Brothers
- Durasi: 112 menit
The Mo Brothers, Timo Thanjanto dan Kimo Stamboel, berkolaborasi dengan Iko Uwais menghadirkan cerita dengan plot yang menarik serta adegan aksi yang memesona. Film ini dijejali adegan panuh darah, kekerasan, dan memanjakan mata dari setiap aksinya.
Headshot bercerita tentang karakter Iko yang tidak tahu identitasnya sendiri. Ditemukan oleh seorang dokter bernama Alin yang diperankan oleh Chelsea Islan dan diberi nama Ishmael. Namun seiring cerita berjalan, ia mulai menyadari bahwa dia harus berhadapan dengan raja obat-obatan terlarang dan gangnya.
9. The Night Comes for Us (2018)
- Pemeran: Joe Taslim, Iko Uwais, Zack Lee
- Sutradara: Timo Tjahjanto
- Durasi: 121 menit
Timo Tjahjanto dan Iko Uwais kembali berkolaborasi dalam film yang langsung tayang di Netflix ini. Pertama kali dirilis dalam bentuk naskah dan diadaptasi ke dalam novel grafis, Iko berperan sebagai Arian yang bisa dibilang menjadi boss utama dalam film ini. Sementara Joe Taslin merupakan utama yang memiliki kedekatan personal dengan karakter Arian.
Sama seperti film-film Timo lainnya, TNCFU menawarkan aksi yang brutal dan penuh darah, apalagi third act yang membabi buta jadi daya tarik tersendiri pada film ini. Disebut sebagai salah satu film aksi Indonesia terbaik, Timo mengandalkan berbagai property yang dijadikan sebagai senjata untuk menghasilkan adegan yang memesona.
10. Gundala (2019)
- Pemeran: Abimana Aryasatya, Tara Basro, Bront Palarae
- Sutradara: Joko Anwar
- Durasi: 123 menit
Gundala digadang-gadang sebagai awal dari Bumi Langit Cinematic Universe, layaknya Iron Man (2009) bagi MCU. Walaupun film ini mendapatkan respons yang positif dari penonton di bioskop, namun film lainnya bagi BCU kurang meyakinkan, membuat keberlangsungan BCU terasa meredup.
Gundala sendiri merupakan karakter komik karya Harya Suraminata yang pertama kali dirilis pada tahun 1969 dan mendapatkan adaptasi film pertamanya pada tahun 1981. Sementara Joko Anwar yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara film horor berada di sebagai otak utama film ini.
Dalam versi terbarunya, Gundala bercerita tentang Sancaka, seorang anak yang mendapatkan kekuatan Gundala setelah terkena petir. Dia menggunakan kekuatannya untuk menumpas kejahatan, termasuk menghadapi mafia bernama Pengkor, seorang anggota pemerintahan yang korup.
11. Foxtrot Six (2019)
- Pemeran: Oka Antara, Chicco Jerikho, Rio Dewanto
- Sutradara: Randy Korompis
- Durasi: 114 menit
Jarang-jarang film Indonesia mengunakan genre fiksi ilmiah, terlebih film dengan genre aksi. Salah satunya ada Foxtrot Six dengan budget produksi mendapai Rp70 triliun, membuatnya sebagai salah satu film termahal Indonesia ketika baru pertama kali dirilis tahun 2019.
Film ini berlatar tahun 2030 dimana Indonesia berada di ambang kehancuran ketika pemimpin tiran berkuasa. Ceritanya fokus pada kisah Angga, mantan angkatan bersenjata yang direkrut oleh pasukan pemberontak untuk menggulingkan pemerintahan tiran.
Menjadi debut sutradara Randy Korompis, film ini dipenuhi dengan nama-nama beken dari aktor A-list Indonesia. Untuk sebuah film aksi, ceritanya terasa diburu-buru. Namun film ini menyediakan film yang kompleks dengan adegan aksi yang brutal dan koreografi menawan.
12. Preman (2021)
- Pemeran: Khiva Iskak, Muzakki Ramdhan, Kiki Narendra
- Sutradara: Randolph Zaini
- Durasi: 92 menit
Dikenal juga dengan nama Preman: Silent Fury, film ini pertama kali tayang di Seattle International Film Festival 2021. Mendapatkan respons positif dari reviewer, film yang memenangkan dua kategori Film Festival Indonesia 2021 pada kategori Efek Visual and Best Penata Rias Terbaik ini sayangnya belum tayang di bioskop Tanah Air.
Film ini mengisahkan tentang Sandi, seorang penjahat tuli yang bekerja untuk sebuah gang yang menyamar sebagai organisasi non-profit dipimpin oleh Guru. Ia melarikan diri bersama anaknya ketika sang anak menyaksikan Guru membunuh seseorang,
Film ini mendapatkan pujian berkat plot yang fresh dan mengangkat isu sosial mengenai keadilan dan orang-orang kelas bawah yang ditindas oleh mafia. Film ini juga menghadirkan kisah tentang orang-orang dengan disabilitas serta hubungan sentimental antara ayah dan anak.
13. Qodrat (2022)
- Pemeran: Vino G. Bastian, Marsha Timothy, Keanu Azka
- Sutradara: Charles Ghozali
- Durasi: 102 minute
Ada kala dimana sinema Indonesia dipenuhi dengan film horor esek-esek. Paha, dada, paha, dada. Tapi beberapa tahun belakangan, kualitas horor Indonesia mulai merona. Dan kehadiran Qodrat menjadi bagian dari perubahan terbaru horor dengan aksi yang menawarkan pengalaman menonton terbaru.
Di film ini, Vino G. Bastian berperan sebagai Ustad Qodrat. Ia merasa depresi setelah kegagalannya menyelamatkan anaknya ketika dirasuki oleh sosok setan bernama Assuala. Ketika kembali ke pondok pesantren, ia harus berhadapan dengan iblis yang merasuki anak lainnya yang memiliki nama sama dengan anaknya.
Setelah sebelumnya menjadi sutradara untuk Pemukiman Setan (2023), Charles Ghozali kembali ke kursi sutradara. Tak terlalu bertumpu pada sisi horor dengan segala jump scare-nya, film ini juga menawarkan sinematografi bergaya aksi yang menawan ketimbang film horor lainnya.