Film Shazam: Fury of the Gods menghadirkan kembali superhero lawak DC dalam sekuel yang dibuat lebih konyol, penuh aksi, tanpa harus membawa banyak karakter baru untuk melanjutkan kisah dari karakter utama, Freddy Freeman dan Billy Batson.
Sinopsis Film Shazam: Fury of the Gods
Billy Batson (Asher Angel) dan anak-anak lain di penampungan menikmati keseharian mereka sebagai superhero baru. Termasuk Freddy (Jack Dylan Grazer) yang selalu mencari berita kriminal terbaru dan menggunakan kekuatannya untuk menumpas kejahatan.
Di sekolah, Freddy bertemu dengan anak baru bernama Anne (Rachel Zegler). Ia pun berusaha membuat Anne tertarik dengan mengatakan bahwa ia kenal dengan kelompok superhero Shazam.
Ternyata Anne merupakan seorang dewa, anak Atlas yang aslinya bernama Anthea. Ia bersama dua saudarinya, Hespera (Helen Mirren) dan Kalypso (Lucy Liu), mencoba mengambil sihir Shazam untuk mengembalikan dunia mereka yang berantakan.
Konyol tapi tetap menyenangkan
David F. Sandberg kembali hadir dengan deretan aktor di film pertama, termasuk Freddy dan Billy dan keluarga Shazam. Kali ini menggali lebih dalam tentang bagaimana Billy harus bertindak sebagai superhero baru dan pemimpin di antara saudara-saudaranya.
Shazam masih menyenangkan dengan mengambil cerita yang tak begitu serius. Menjadikannya sebagai antitesis dari film lainnya di semesta DC yang lebih gelap dan dewasa. Tapi tak menjauhkannya dari segala keseruan di film pertamanya.
Film kedua kembali hadir dengan kekonyolan yang bertubi-tubi. Sampai-sampai jokes self-depreciating yang menawan, tapi sebagian terkesan cringe. Termasuk rangkaian jokes meta, sampai menyinggung semesta sebelah. Nice move!
Pace dari keseluruhan film berdurasi lebih dari 2 jam ini cukup cair. Tak terlalu padat dan masih disisipi banyak jokes one-liner yang membuatnya semakin ringan untuk diikuti. Tak begitu kuat di peralihan babak kedua dan ketiga, tapi memberikan babak akhir yang terasa memuaskan.
Plot dan ceritanya bukan tanpa masalah. Terkadang terlalu receh dan mengabaikan banyak karakter pendukung. Terlebih beberapa plot hole dan detail yang kurang teliti membuyarkan kerapian film ini.
Fokus untuk menghibur
Fury of the Gods mungkin bukan film aksi superhero aksi penuh adegan sinematik atau punya tugas besar melanjutkan keberlangsungan semesta DC. Tapi film ini fokus membawakan kisah pahlawan super yang menyenangkan.
Tak terbebani oleh perkenalan karakter baru atau premis berat. Sandberg menuntun penonton merangkul kembali kisah Billy, Freddy, dan keluarganya dalam dunia mereka sendiri. Tak ada kewajiban khusus menonton puluhan film sebelumnya.
Karakter di film pertama mendapatkan arc yang dinamis. Meski memang sebagian besar fokus pada Billy dan Freddy, sedikit tentang Mary, sementara tiga anak lainnya bagaikan tak terekspos.
Sandberg mampu membangun narasi tentang keluarga dan kisah traumatis seorang anak yang selalu ditinggalkan orang yang dimilikinya. Dibarengi beberapa adegan emosional, tapi tak terlalu menguasai keseluruhan tone yang diberikan.
Mungkin cukup disayangkan jika kejutan dari cameo sudah lebih dulu dibocorkan sendiri oleh Warner Bros. yang cukup mengejutkan. Sedikit mengurangi keseruan yang diberikan. Cuma bisa jadi pembeda dengan Marvel dan cameo-cameonya.
Setidaknya film ini dibekali dengan dua post credit sebagai penggoda. Mengungkap bagaimana Shazam bertindak di dalam pengembangan semesta DC terbaru di bawah arahan James Gunn.
Film Shazam: Fury of the Gods menghadirkan cerita menyenangkan tentang superhero dengan segala kekonyolannya, serta didukung adegan penuh aksi dan emosional sebagai tontonan lepas tanpa pertaruhan besar dibaliknya.
Genre: Komedi, Aksi
Sutradara: David F. Sandberg
Penulis Naskah: Henrey Gayden, Chris Morgan
Pemeran: Zachary Levi, Jack Dylan Grazer, Asher Angel