Siap Produksi, Ini Fakta Lengkap Film Epik Perang Jawa Garapan Angga Dwimas Sasongko

Visinema Pictures resmi mengumumkan proyek film paling ambisius dalam sejarah studio tersebut: Perang Jawa. Menggandeng Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara, ini merupakan sebuah drama epik sejarah yang mengangkat perlawanan Pangeran Diponegoro melawan kolonial Belanda.

Sinopsis Perang Jawa

Proyek ini pertama kali diumumkan pada 21 Juli 2025, tepat 200 tahun sejak pecahnya Perang Jawa pada 20 Juli 1825. Sebagai Founder dan CEO Visinema, Angga sendiri langsung turun tangan untuk menggarap film epik ini.

Angga menegaskan sejak awal bahwa Perang Jawa bukanlah biopik yang menceritakan seluruh perjalanan hidup Pangeran Diponegoro. “Ini bukan film biopik tapi tentang satu peristiwa besar dan ada satu tokoh besar di dalamnya serta apa yang dilakukan,” ujar Angga saat konferensi pers di kawasan Senayan, Jakarta.

lukisan Bestorming van Pleret tentang Perang Jawa
via Wikipedia

Perang Jawa, atau dikenal dengan Perang Diponegoro, berlangsung dari 1825 hingga 1830 di Pulau Jawa pada masa penjajahan Hindia Belanda. Perang ini tercatat sebagai salah satu perlawanan terbesar terhadap kekuasaan kolonial Belanda. Pertarung terjadi antara pasukan Diponegoro menghadapi pasukan Belanda pimpinan Jenderal Hendrik Merkus de Kock.

Pemicu konflik ini adalah kebijakan pemerintah kolonial yang membangun jalan tanpa izin di atas tanah leluhur Diponegoro di Yogyakarta. Hal ini memicu kemarahan besar yang berujung pada salah satu perang paling berdarah sekaligus paling menentukan dalam sejarah Asia Tenggara.

Bukan Biopik, tapi kisah Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro sendiri bernama asli Raden Mas Ontowiryo. Beliau merupakan putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono III dan dikenal sukses menyulitkan pasukan Belanda lewat taktik gerilya yang memanfaatkan medan pegunungan dan hutan Jawa.

Yang membuat proyek ini istimewa dari sisi riset adalah keterlibatan Peter Carey sebagai konsultan sejarah utama. Carey merupakan sejarawan dunia yang telah mendedikasikan sekitar empat dekade hidupnya meneliti naskah Babad Diponegoro serta penulis buku The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855.

lukisan Raden Saleh Penangkapan Diponegoro
via Wikipedia

Dengan panduan sejarawan Peter, film ini juga akan menampilkan sisi kemanusiaan Diponegoro, termasuk kisah cinta dan perspektif hidupnya, bukan sekadar adegan pertempuran dan aksi semata.

Selain Angga sebagai sutradara, film ini diproduseri oleh Taufan Adryan yang sebelumnya juga memproduseri 13 Bom di Jakarta (2023). Naskah film ditulis oleh Ifan Ismail, penulis peraih Piala Citra untuk film Habibie & Ainun (2013).

Film perang epic

Angga menyebutkan bahwa proyek ini merupakan film paling ambisius dari Visinema. Apalagi produksinya melibatkan akurasi sejarah dan gaya kolosal yang epik. Ia menyebutkan bahwa film ini punya skala dan intensitas sinematik sekala film epil global dengan film Tjoet Nja’ Dhien karya Eros Djarot sebagai inspirasinya.

“Kami ingin menjadikan Cut Nyak Dien inspirasi untuk bisa membuat sebuah film yang enggak hanya sekadar bicara soal skala produksi atau jumlah penonton atau hiburan, tapi bagaimana sebuah film bisa punya ‘impact’ dan inspirasi yang melampaui zaman dan masanya,” kata Angga kepada media.

Hingga pengumuman resmi dilakukan, tim produksi belum menentukan siapa pun untuk mengisi jajaran pemeran, termasuk untuk peran Pangeran Diponegoro sendiri. Angga menjelaskan tim masih berfokus penuh menuntaskan naskah skenario lebih dulu.

Baru-baru ini, Angga membagikan postingan di akun Instagram pribadinya (@anggasasongko) draft pertama cerita. Proses syuting sendiri direncanakan mulai pada 2027 dengan target rilis pada 2028. Ia tak ingin pembuatan film dilakukan terburu-buru karena ia dan Visinema ingin menyajikan cerita dengan kualitas terbaik.

Perang Jawa diumumkan tak lama usai kesuksesan Jumbo, film Visinema yang mencetak rekor penonton terbanyak untuk film animasi sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Visinema juga mengumumkan proyek terpisah berjudul Ratu Malaka (Queen of Malacca) di Festival Film Cannes 2025, film bergenre thriller aksi-kriminal yang memadukan latar dunia kejahatan urban dengan mitos spiritual dan direncanakan produksi pada 2026.

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 920

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *