Review Film Spider-Man: Across the Spider-Verse (2023): Surganya Penggemar Spider-Man

Film Spider-Man: Across the Spider-Verse merupakan satu dari sedikit film yang mampu melampaui ekspektasi film pertama yang bisa dibilang sebagai salah satu adaptasi komik terbaik. Seru, mengharukan, menyenangkan, dan tentu saja banyak (literally banyak!) Spider-Man.

Sinopsis film Spider-Man: Across the Spider-Verse

Setahun setelah mengalahkan Kingpin, Miles Morales (Shameik Moore) kembali menjalani hari-harinya sebagai Spider-Man. Jenuh dengan hubungan keluarga yang rumit dengan ibu dan ayahnya, Gwen Stacy (Hailey Steinfeld) tiba-tiba muncul di kamarnya.

Miles Morales dan Gwen Stacy
via Sony Pictures

Gwen bercerita bahwa ia dalam beberapa bulan direkrut oleh Spider-Society, sebuah kelompok yang dipimpin oleh Miguel O’Hara/Spider-Man 2099 (Oscar Isaac). Mereka bertugas untuk menemukan dan mengatasi anomali yang terjadi di berbagai dimensi.

Kedatangan Gwen ke dimensi Miles awalnya bertujuan untuk menangkap Spot, penjahat yang hadir karena tabrakan portal interdimensi yang terjadi ketika Miles dan yang lainnya mengalahkan Kingpin. Kekuatan Spot yang membuatnya mampu berpindah dimensi menjadi ancaman bagi keberlangsungan dunia.

Hadir dengan nuansa baru

Popularitas sekaligus raihan hasil positif yang didapatkan oleh Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) membuat ekspektasi untuk film kedua semakin tinggi. Tapi Sony membuktikan bahwa Across the Spider-Verse bisa menghadirkan cerita yang ga kalah menyenangkan.

Miguel O'Hara dan Miles Morales
via Sony Pictures

Masih menggunakan format sama di berbagai sekuel: berikan pertaruhan yang lebih besar. Jika film pertama fokus pada kisah Miles mengalahkan Kingpin yang ingin mengacaukan multidimensi, film kedua berpusat pada ketidakseimbangan dimensi yang bisa merusak keseluruhan semesta.

Tapi ketika ditelusuri lebih dalam, film ini masih mengangkat tema yang sama: keluarga. Bagaimana seorang anak yang tumbuh untuk “mengepakkan sayapnya sendiri” serta arc tentang hubungan ayah dan anak pada karakter Gwen, Miles, Peter, bahkan Miguel.

Dan seperti sebelumnya, film ini adalah sebuah pengalaman sinematik yang menyenangkan. Sony menggunakan medium animasi untuk mendukung cerita sekaligus meningkatkan eksistensi setiap Spider-People yang ada di film ini.

Miles Morales Spider-Man
via Sony Pictures

Visual serta corak warna merupakan faktor pendukung yang membuat film ini semakin juara. Ada enam dimensi dengan style visual yang berbeda menjadi penanda keunikan sekaligus ciri khas setiap area. Bahkan setiap frame bisa jadi poster!!!

Masing-masing Spider-Man hadir dengan karakteristiknya tersendiri. Bukan hanya gaya bicara dan kepribadian, tapi juga penggambaran dan penampilannya. Satu yang paling menawan tentu saja Spider-Punk dengan coretan khas Sex Pistols, bank punk rock fenomenal asal Inggris di era 70-an.

Surganya penggemar Spider-Man

Popularitas Spider-Man membuat karakter ini memiliki spin-off karakter yang lumayan massif. Jika film pertama ada Spider-Man Noir, Spider-Ham, hingga Peni Parker, film ini mendatangkan berbagai Spider-Man yang pernah dipublikasikan oleh Sony dalam berbagai bentuk adaptasi.

Penonton dibawa menyelami puluhan Spider-Man yang dari beragam bentuk dan tampilan. Tak bisa dipungkiri, cameo di dalam film ini bertebaran. Tapi bukan hanya Spider-Man, ada banyak karakter lain yang muncul dan tentunya menjadi easter eggs bagi penggemar Manusia Laba-Laba ini.

review film Spider-Man: Across the Spider-Verse
via Sony Pictures

Meski kehadirannya hanya beberapa detik, tapi beberapa cameo tentu jadi daya tarik tersendiri bagi film ini. Apalagi Sony sendiri mengumumkan bahwa masih ada banyak keseruan yang disimpan untuk film ketiga, atau Spider-Man: Beyond the Spider-Verse yang rencananya dirilis tahun depan.

Yap, masalahnya (sekaligus kabar baiknya) kisah Miles, Gwen dan Peter tak terhenti di sini. Sedikit kekurangan yang mungkin dirasakan, mengingat ceritanya harus dibagi menjadi dua film dan tidak selesai dalam sekali tonton saja.

Across the Spider-Verse membuktikan bahwa tidak ada yang salah dengan film superhero. “Superhero fatigue” atau kebosanan terhadap film pahlawan super tak akan dialami oleh film dengan cerita yang padat dan pengalaman menonton yang menyenangkan.

review Spider-Man: Across the Spider-Verse
via Sony Pictures

Dan film Spider-Man: Across the Spider-Verse punya banyak hal yang membuatnya lebih memesona dibandingkan adaptasi lainnya: karakter bejibun buat nostalgia, cerita yang menyentuh, dan tentu saja penggunaan medium animasi yang dieksekusi dengan sangat baik.

Genre: Animasi

Sutradara: Joaquim Dos Santos, Kemp Powers, Justin K. Thompson

Penulis Naskah:  Phil Lord, Christopher Miller, Dave Callaham

Pemeran: Shameik Moore, Hailee Steinfeld, Oscar Isaac

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 923

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *