Review Spider-Man: Into the Spider Verse (2018) – Adaptasi Terbaik Sepanjang Masa

logo Spider-Man: Into the Spider Verse

Spider-Man: Into the Spider Verse mengambil cerita baru tentang Manusia Laba-Laba. Tidak hanya menceritakan tentang “from big power comes great responsibility”. Dengan film ini, Sony dan Marvel membuka lembaran baru dalam petualangan Spider-Man, yaitu kisah sang suksesor, Miles Morales.

Bagi yang belum tahu, Miles menjadi yang pertama dari Marvel untuk mengambil kostum Spider-Man langsung dari Peter Parker. Dalam cerita komiknya, Peter Parker akhirnya meninggal dan akhirnya ia yang melanjutkan pekerjaan menjadi superhero, khususnya d Brooklyn, New York.

review film Spider-Man: Into the Spider Verse

Miles Morales via Marvel

Muncul pertama kali dalam komik Ultimate Fallout #4 tahun 2011, Miles ditampilkan dengan karakter yang memiliki darah Afro-Latino, yaitu Afrika-Amerika dari ayahnya dan Puerto Riko dari ibunya. Membuatnya memiliki identitas “double” minoritas. Film ini sendiri menceritakan asal mula Miles menjadi Spider-Man, lengkap dengan adegan gigitan laba-laba ikonik yang memberikannya kekuatan super si Manusia Laba-Laba.

Alur yang diberikan tidak begitu berat, namun dengan lugas menggambarkan asal usul Miles hingga akhirnya mendapatkan kekuatan laba-labanya. Tempo yang dinamis dengan cerita yang baru memberikan pengalaman baru bagi penonton. Tak ayal kritikus film di Rotten Romatoes memberikan angka 100% fresh untuk film ini (walaupun sekarang menjadi 98%). Bahkan masih lebih tinggi dari Spider-Man 2 yang mendapatkan nilai 92%.

ulasan film Spider-Man: Into the Spider Verse

via Sony

Film ini menunjukkan cerita yang benar-benar baru: kehidupan remaja yang mungkin sesuai realita masa kini. Inilah yang menjadi kekuatan semua karakter Spider-Man, sebagaimana pernah dijelaskan oleh Stan Lee: “Peter Parker mewakili semua orang.” Miles Morales tak bisa dipungkiri merepresentasikan karakter dan cerita sebagian besar remaja di kota besar: tanggung jawab, keinginan, dan pilihan. Terlepas dari karakter yang berasal dari keluarga minoritas yang semakin menguatkan jati diri Miles.

Salah satu yang menarik dari film ini adalah, mendapatkan keunggulan dari gambar animasinya, Spider-Man: Into the Spider Verse membawa kita ke dalam dunia sinema sekaligus mempertahankan adegan-adegan khas komik. Paket komplit. Hal yang pastinya disenangi oleh para penggemar komik. Gambar dibuat seolah-olah diambil langsung dari buku komik: terasa hidup dan menyedot perhatian.

review Spider-Man: Into the Spider Verse

My very favourite scene! via Sony

Tak hanya itu, musik menjadi salah satu penguat dunia Miles. Nama-nama besar seperti Post Malone, Swae Lee, Drake, Nicki Minaj, Vince Staples hingga XXXTentacion membuat Miles lebih dekat dengan seorang remaja yang tumbuh dan berkembang di Brooklyn, New York. I don’t know, man. You’ll feel like life comes to you when you hear those songs. Dan digabungkan dengan ceritanya? It’s all good!

Paket lengkap film ini tidak hanya tentang remaja yang ingin menjadi pahlawannya sendiri, tetapi lebih jauh lagi: tentang bagaimana mendapatkan tempat, entah di keluarga, lingkungan pertemanan, bahkan masyarakat. Tentang bagaimana Miles ingin menjadi Spider-Man, film ini mengajarkan bahwa kita memiliki kekuatan kita sendiri; memiliki warna kita sendiri. You have your own path, dude!

review Spider-Man: Into the Spider Verse

via Sony

Spider-Man into the Spider Verse: Perkenalan Spider-Verse?

Jika dibandingkan dengan Spider-Man: Homecoming yang disebut cukup murah hati memberikan easter eggs atau referensi terhadap Spider-Man secara keseluruhan, film ini bahkan melebihi pencapaian Homecoming. Mulai dari beberapa scene hingga post-credit, semua memberikan referensi terhadap inkarnasi Spider-Man, referensi terhadap pengarang, hingga adaptasi versi klasik dan Spider-Man dari Sam Raimi.

Hanya satu kekurangan film ini: Spider-Man-nya kurang banyak (karena saking asyiknya). Apa jadinya jika semua Spider-Man diceritakan seperti dalam serial komik Spider-Verse? Tetapi untuk saat ini, pemilihan Spider-Woman, Spider-Man Noir, Spider Ham, dan Sp//der terbilang pas memberikan cerita awal layaknya Avengers pertama. Melihat potensi yang diberikan oleh film ini, masuk akal kenapa Sony sangat enggan melepaskan si Manusia Laba-Laba kembali ke Marvel. Dengan puluhan dimensi dan cerita Spider-Man, setiap karakter memiliki kekuatannya tersendiri. Menarik dilihat langkah Sony untuk Spider-Man Universe mereka selanjutnya.

Secara keseluruhan, Spider-Man: Into the Spider Verse dengan mudah menjadi salah satu film adaptasi Spider-Man terbaik sepanjang masa. Jika bukan menjadi yang terbaik. Mulai dari alur cerita, humor, sinematografi, dan yang terpenting pesan serta representasi keadaan terlihat sangat natural dan menyatu dalam tontonan 116 menit ini. Anda bukanlah penggemar Spider-Man sebelum menonton film ini. Percayalah.

Film Spider-Man: Into the Spider Verse sedang tayang di bioskop seluruh Indonesia.

Rating: 4.7/5


Genre: Family, Animation, Adventure

Sutradara: Bob PersichettiPeter Ramsey

Penulis: Phil Lord

Bintang: Shameik MooreJake JohnsonHailee Steinfeld

Review Overview
  • Rating Film
4.7

Kesimpulan

Alur yang diberikan tidak begitu berat, namun dengan lugas menggambarkan asal usul Miles hingga akhirnya mendapatkan kekuatan laba-labanya. Tempo yang dinamis dengan cerita yang baru memberikan pengalaman baru bagi penonton. Spider-Man: Into the Spider Verse dengan mudah menjadi salah satu film adaptasi Spider-Man terbaik sepanjang masa. Jika bukan menjadi yang terbaik. Mulai dari alur cerita, humor, sinematografi, dan yang terpenting pesan serta representasi keadaan terlihat sangat natural dan menyatu dalam tontonan 116 menit ini.

Sending
User Review
( votes)

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Leave a Reply