Film Pinocchio karya Guillermo del Toro merupakan iterasi baru dari bocah kayu yang polos dan sedikit nakal, dengan transformasi serta adaptasi baru untuk menghasilkan layer yang lebih dalam tentang kehilangan dan hubungan antara ayah dan anak.
Sinopsis film Pinocchio
Geppetto (David Bradley) dan anaknya, Carlo (Gregory Mann) hidup bahagia di sebuah desa kecil di Italia. Namun Carlo terbunuh ketika sebuah bom jatuh di gereja. Kehilangan Carlo membuat Geppetto kehilangan semangat dan menjadi alkoholik.

Saat mabuk, ia memotong pohon pinus yang ditinggali oleh jangkrik bernama Sebastian (Ewan McGregor) menjadi sebuah boneka kayu. Dimana Peri Kayu memasukkan nyawa pada boneka tersebut dan memberinya nama Pinocchio.
Keunikan Pinocchio sebagai boneka yang hidup pun mendapat perhatian dari pemilik sirkus yang kebetulan lewat, Count Volpe (Christoph Waltz) yang mengajak Pinocchio untuk ikut dalam sirkus miliknya.
Didukung visual apik
Guillermo del Toro membawa adaptasi terbaru dari boneka kayu yang populer seantero jagad. Menampilkan gaya klasik, namun kali ini dengan latar Perang Dunia I, lengkap dengan tema tentang penyesalan dan duka mendalam yang memenuhi keseluruhan cerita.
Namun film ini masih tetap memperkenalkan penonton pada Pinocchio, boneka kayu yang kembali hidup untuk menemani sang ‘ayah’. Berbagai kisah inti masih dipertahankan, tapi beberapa di-upgrade untuk menambahkan kedalaman cerita.

Sangat jelas bagaimana del Toro mengambil sudut pandang Geppetto yang kehilangan sang anak serta pengembangan karakter Pinocchio. Di mana baru 10 menit berjalan, film ini langsung menampilkan kekuatan del Toro mengembangkan narasi yang kuat tentang hubungan antara Carlo dan Geppetto.
Tema tentang hubungan ayah dan anak sangat jelas terlihat. Bukan hanya dari interaksi Pinocchio dan Geppetto, tapi karakter baru Podesta (Ron Perlman) dan Candlewick (Finn Wolfhard). Keduanya menampilkan kisah tentang sang anak yang ingin mendapatkan pengakuan dari ayahnya.
Visual apik tersaji sepanjang cerita berjalan. Peri hutan dan kehadiran monster laut dengan gaya yang unik dan khas, layaknya karakter buatan del Toro dalam Pan’s Labyrinth (2006) memiliki daya tariknya tersendiri.

Bahkan akan lebih menyenangkan apabila Netflix merilis film ini di layar teater. Dengan kekayaan visual sampai dengan lantunan musik latar yang menawan, pengalaman menonton film Pinocchio akan lebih menegangkan.
Referensi dari kisah Carlo Collodi
Pinocchio merupakan salah satu dongeng yang telah banyak diadaptasi menjadi berbagai versi, dari novel, serial TV, drama radio hingga pementasan teater. Namun yang paling terkenal tentu saja edisi animasi karya Disney keluaran tahun 1940.
Walau sudah sering diadaptasi, sebagian besar masih merujuk pada versi Disney yang lebih hangat dan menyentuh. Tapi garapan yang lebih gelap sesuai dengan referensi karya asli milik Carlo Collodi menghadirkan pesonanya tersendiri.

Pembawaan Guillermo yang memadukan kisah bocah kayu yang polos dan sedikit nakal dengan penuh pesan mendalam. Ditambah dengan tema Perang Dunia menjadikan iterasi terbaru Pinocchio yang lebih kelam daripada adaptasi terbaru live-action Disney yang dirilis pada bulan September lalu.
Cerita yang lebih berat dan penuh dengan nuansa klasik karya penulis aslinya memberikan suasana yang jauh berbeda dibandingkan adaptasi lain yang lebih banyak merujuk pada edisi animasi Disney yang lebih ringan dan cerah.
Bukan hanya berlatarkan dongeng seperti kebanyakan versi adaptasinya, plot film ini mengambil latar berkembangkan ideologi Fasis dan pemerintahan otoriter Benito Mussolini di Italia di sekitar tahun 1930-an.

Mungkin kekurangannya adalah terlalu banyak narasi yang diceritakan, sehingga ada beberapa sub-plot yang menarik tapi kurang tergali lebih dalam. Misalnya saja tentang Candlewick dan ayahnya yang fasis. Tapi secara keseluruhan, film ini mampu menghadirkan kisah Pinocchio yang emosional.
Film Pinocchio mengandalkan kekuatan del Toro membangun dunia si boneka kayu dengan apik, menggabungkan tema kehilangan dengan hubungan yang erat antara ayah dan anak dalam balutan kisah di daratan Italia pada masa Perang Dunia.
Genre: Animasi
Sutradara: Guillermo del Toro, Mark Gustafson
Penulis Naskah: Guillermo del Toro, Patrick McHale
Pengisi Suara: Ewan McGregor, David Bradley, Gregory Mann

