Nama Devi Dja kerap disebut-sebut sebagai perempuan Indonesia pertama yang menembus Hollywood. Julukannya memang mentereng: “Pavlova of the Orient”. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh, gelar “pertama di Hollywood” itu ternyata jauh lebih rumit dari yang selama ini beredar. Gelar lainnya malah lebih menggoda.
Dari Pengamen Jalanan ke Bintang Dardanella
Devi Dja lahir dengan nama Misria Dja pada 1 Agustus 1914. Sumber soal tempat lahirnya sendiri simpang siur: ada yang menyebut Sentul di Sleman, dokumen imigrasi AS mencatat Pandaan di Jawa Timur, sementara formulir naturalisasinya sendiri pada 1953 menyebut Kali Baru, Banyuwangi.
Masa kecilnya dihabiskan berpindah-pindah dan sempat ikut mengamen keliling kampung. Dengan nama panggung Soetidjah, ia dilirik oleh Willy A. Piedro, pemimpin rombongan Opera Dardanella kelahiran Penang berdarah Rusia. Ia bergabung sebagai figuran sejak Desember 1927 dan menikahi Piedro sekitar 1930 ketika ia berumur 16 tahun.
Sepanjang 1930-an, Dardanella berkeliling dunia dan membawa nama Devi Dja semakin dikenal. Rombongan ini tampil di Singapura, lalu mengunjungi Tiongkok, Rangoon, hingga India. Pada Mei 1937, tariannya disaksikan langsung oleh Jawaharlal Nehru. Dari rangkaian tur ke Turki, Paris, Maroko, dan Jerman, julukan “Pavlova of the Orient” melekat pada dirinya.
Berlayar ke Amerika dengan kapal SS Rotterdam pada 1939, Dardanella berlabuh di New York. Di sana mereka berganti nama menjadi “Devi Dja’s Bali and Java Cultural Dancers” dan tampil di berbagai restoran kota itu. Pecahnya Perang Dunia II dan pendudukan Jepang di Indonesia membuat mereka tak bisa pulang. Rombongan ini pun terdampar di Amerika Serikat.
Masuk ke skena Hollywood
Kiprahnya di industri film Hollywood sesungguhnya jauh dari peran utama. Dilansir dari IMDb, namanya muncul di Amerika melalui peran tanpa kredit sebagai Native Girl dalam Road to Singapore (1940). Ia lalu kembali memerankan penari di film Road to Morocco (1942).
Devi baru mendapat kredit atas namanya sendiri di The Picture of Dorian Gray (1945). Di film adaptasi novel karya Oscar Wilde ini dibintangi oleh Hurd Hatfield dan Angela Lansbury. Ia tampil sebagai penari dari “Devi Dja and Her Balinese Dancers”.
Setelah itu, kariernya di layar lebar tetap berkutat di peran-peran kecil. Mulai dari Beyond the Forest (1949), Three Came Home (1950), Cargo to Capetown (1950), hingga Road to Bali (1952). Devi sempat tampil di dua episode serial televisi Terry and the Pirates (1952).
Di luar akting, ia dipercaya sebagai koreografer sekaligus penasihat teknis untuk The Moon and Sixpence (1942). Film ini bercerita tentang Charles Strickland, pialang paham Inggris yang tiba-tiba meninggalkan keluarganya untuk menjadi pelukis. Tugas Devi di film ini adalah untuk memastikan gerak tari Bali-Jawa dalam film otentik.
Menurut catatan biografis di Wikipedia, yang merujuk riset Matthew Cohen soal pertunjukan Jawa dan Bali di panggung internasional, Devi Dja gagal menembus industri film sebagai peran utama karena kemampuan bahasa Inggrisnya yang minim.
WNI Pertama Jadi Warga AS
Pada 1947, Devi Dja bertemu Sutan Sjahrir yang saat itu menjabat perdana menteri dan memimpin delegasi Indonesia ke PBB demi memperjuangkan pengakuan kemerdekaan. Sjahrir-lah yang memperkenalkannya ke publik Amerika sebagai duta budaya Indonesia.
Ia mencatatkan sejarah sebagai perempuan Indonesia pertama yang menjadi warga negara Amerika Serikat pada 1951. Keputusan ini kemungkinan terkait alasan praktis. Devi ingin melindungi dirinya dari risiko deportasi menyusul kedekatannya dengan seorang aktivis buruh Indonesia yang saat itu getol menolak pengiriman pasokan untuk pemerintah kolonial Belanda di Hindia Belanda.
Devi Dja lalu lebih banyak menghabiskan sisa kariernya sebagai pengajar tari. Ia membuka sekolah tari Indonesia sendiri di kawasan Vermont, Los Angeles. Pada 1960, ia berkolaborasi dengan tokoh tari modern Ruth St. Denis untuk mementaskan pertunjukan wayang kulit Bali pertama di Amerika Serikat.
Setelah bercerai dari suami keduanya, seniman asal suku Indian bernama Acee Blue Eagle, Devi Dja pindah ke Los Angeles dan menikah lagi dengan Ali Assan pada 1951. Dari pernikahan ini lahir putrinya, Ratna Assan, yang belakangan justru sukses berakting di Hollywood lewat film Papillon (1973).
Devi Dja meninggal dunia akibat kanker pada 19 Januari 1989 di Los Angeles dalam usia 74 tahun. Kisah hidupnya diabadikan dalam dua buku: Gelombang Hidupku: Dewi Dja dari Dardanella karya Ramadhan Karta Hadimadja, dan Standing Ovations: Devi Dja, Woman of Java karya publisis Hollywood, Leona Mayer Merrin.