Di tengah profesi yang dipenuhi oleh para laki-laki, sejarah sutradara wanita Indonesia memang jauh tertinggal pada masa awal industri perfilman Tanah Air. Baru di medio 2000-an bermunculan sutradara wanita dan terus bertumbuh hingga saat ini. Sebagai bentuk apreasi dari Mariviu, berikut beberapa sutradara wanita kebanggaan Tanah Air yang pernah menyabet penghargaan bergengsi.
1. Ida Farida
Di tengah gempuran sutradara laki-laki, nama Ida Farida menyeruak sebagai salah satu sutradara wanita Indonesia pertama. Seorang sutradara dan penulis skenario kenamaan, Ida meniti karirnya dari bawah. Awalnya bekerja sebagai pencatat skrip, perannya meningkat menjadi asisten sutradara, sutradara, lalu menjadi penulis skenario.
Film perdananya berjudul Guruku Cantik Sekali (1979) dibintangi oleh Rano Karno dan lenny Marlina. Sebagai salah satu sutradara wanita yang produktif, Ida menyutradarai 12 film. Salah satunya film Warkop DKI yang berjudul Sabar Dulu Dong (1989). Di tahun yang sama, ia memenangkan penghargaan Skenario Terbaik pada Piala Citra (nama terdahulu Festival Film Indonesia) melalui film Semua Sayang Kamu.
Film lainnya yang disutradarai oleh Ida Farida seperti:
- Busana dalam Mimpi (1980)
- Perawan-Perawan (1981)
- Asmara di Balik Pintu (1984)
- Barang Titipan (1991)
2. Mira Lesmana
Lahir dari keluarga musikus, ia terinspirasi untuk menjadi pembuat film setelah menonton Star Wars Episode IV: A New Hope (1977). Film perdananya sebagai sutradara berjudul Kuldesak (1998) mengantarkannya memenangkan penghargaan Sutradara Penuh Harapan dalam Festival Film Bandung tahun 1999.
Bertindak sebagai produser, Petualangan Sherina (1999) dan Ada Apa dengan Cinta (2002) menjadikannya salah satu nama penting dalam kebangkitan perfilman Indonesia. AADC juga memberikan dua penghargaan Festival Film Bandung, yaitu Film Terpuji dan Skenario Terpuji. Namun ia kalah dari Nia Dinata dengan Arisan! Yang menyabet gelar Film Cerita Panjang Terbaik di FFI 2004.
Mira memang lebih sering terlibat sebagai produser. Dimana Kuldesak menjadi satu-satunya film yang mencatatkan namanya sebagai sutradara. Namun pengaruhnya dalam industri perfilman Indonesia tak perlu diragukan lagi.
3. Nan Achnas
Dengan nama panjang Nan Triveni Achnas, ia merupakan sutradara dan produser Indonesia yang karyanya banyak mendapatkan perhatian di luar negeri. Lahir di Singapura dan besar di Kuala Lumpur, ia bergabung dengan Riri Riza, Mira Lesmana, dan Rizal Mantovani membuat film Kuldesak (1998).
Tiga tahun setelahnya, film Pasir Berbisik (2001) yang disutradarainya wara-wiri di berbagai festival film internasional, seperti Rotterdam International Film Festival hingga Asian Pasific International Film Festival. Ia pun mendapatkan penghargaan Sutradara Terbaik dan Sutradara Muda Paling Berbakat di Asia Pasific Film Festival 2001.
Film terakhirnya sebagai sutradara yaitu The Photograph (2007). Setelah itu, ia lebih sering menjadi produser, termasuk untuk film 3 Doa 3 Cinta (2008), Khalifah (2011), dan The Window (2016).
4. Nia Dinata
Berangkat dari pembuat klip video dan film iklan, Nia Dinata memulai kiprahnya sebagai sutradara ketika menggarap film Ca Bau Kan (2002). Diangkat dari novel berjudul sama karya Remy Sylado, film ini mengantarkan Nia memenangkan Best Promising New Director dalam Asia Pasific Film Festival di tahun yang sama.
Arisan! (2004) yang dirilis dua tahun setelahnya turut menambah jajaran penghargaannya, termasuk Sutradara Terbaik di MTV Indonesia Movie Award serta Skenario Terpuji dan Sutradara Terpuji di Festival Film Bandung. Berbagi Suami (2006) memberikan kemenangan untuk Sutradara Terbaik dan Skenario Asli Terbaik pada Festival Film Jakarta.
Film A World Without (2021) saat ini tercatat sebagai film terakhir Nia menjadi sutradara. Drama berbalut misteri dan thriller ini merupakan film orisinil Netflix kedua yang diproduksi Netflix Indonesia setelah A Perfect Fit (2021).
5. Djenar Mahesa Ayu
Djenar yang kini dikreditkan sebagai Nai Djenar Maisa Ayu sejak 2025 mengawali karirnya sebagai pemeran dalam film Boneka dari Indiana (1990) yang disutradarai oleh Nya Abbas Akup.
Karya pertamanya sebagai sutradara sekaligus penulis yaitu Mereka Bilang, Saya Monyet! (2008). Melalui film ini, Djenar membawa pulang penghargaan Sutradara Pendatang Baru Terbaik dan Penulis Skenario Cerita Adaptasi Terbaik pada gelaran FFI 2009.
Film lainnya yang disutradarainya, yaitu Nay (2015) memenangkan penghargaan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival 2015. Dengan perannya sebagai sutradara terakhir di tahun 2024 melalui film Look at Me Touch Me Kiss Me, ia kini banyak berperan di depan layar. Film terbarunya termasuk Pangku (2026), Suzanna: Santet Dosa di Atas Dosa (2026), dan Sumur Jiwo 1977 (TBA).
6. Gina S. Noer
Dengan nama asli Retna Ginatri S. Noer, ia memulai karirnya sebagai penulis untuk film pendek berjudul Ladies Room. Film panjang pertama yang ditulisnya yaitu debut sutradara Angga Dwimas Sasongko, Foto, Kotak Jendela (2006). Sedangkan debut sutradaranya terjadi ketika ia merilis Dua Garis Biru (2019).
Menariknya, Gina merupakan orang pertama yang mampu menyandingkan penghargaan Skenario Asli Terbaik dan Skenario Adaptasi Terbaik di satu gelaran Festival Film Indonesia. Hal ini terjadi ketika ia menjadi penulis naskah untuk Dua Garis Biru dan Keluarga Cemara yang dirilis pada tahun 2019.
Kini Gina sedang mempersiapkan film biografi Ki Hadjar Dewantara sekaligus menjadi penulis naskahnya. Bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi, film yang turut menyertakan Maudy Ayunda rencananya akan tayang tahun 2026.
7. Kamila Andini
Menjadi sutradara perdana di film Rahasia Dibalik Cita Rasa (2002), Kamila memenangkan penghargaan Piala Citra untuk kategori Cerita Asli Terbaik melalui The Mirror Nevers Lies pada tahun 2011. Tak hanya di Indonesia, film ini mengantarkannya menerima berbagai penghargaan di beragam festival film internasional.
Film Yuni (2021) memberikan beragam penghargaan lainnya, di antaranya Sutradara Terbaik, Skenario Asli Terpilih, dan Film Bioskop Terpilih pada ajang Piala Maya tahun 2022. Film Before, Now & Then (Nana) turut menyabet 11 penghargaan, termasuk Film Cerita Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia 2022.
Tahun 2026 ini, Kamila akan hadir dengan film terbarunya berjudul Empat Musim Pertiwi. Film ini bercerita tentang penyintas kekerasan seksual yang menghadapi stigma dari masyarakat sembari mengatasi trauma yang dialaminya.
8. Mouly Surya
Mouly memulai karir sutradaranya sebagai Asisten Sutradara untuk film Merah itu Cinta (2007) dan D’Bijis (2007). Debut penyutradaraan Mouly langsung berbuah hasil. Dimana film Fiksi. (2008) dengan Mouly dan Joko Anwar sebagai penulis naskah membawa Mouly mendapatkan penghargaan Sutradara Terbaik di FFI 2008.
Namun Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak (2018) menjadikannya sebagai salah satu sutradara kenamaan Tanah Air. Film yang dibintangi Marsha Timothy memenangkan beragam penghargaan internasional. Bahkan Marlina membawa pulang 10 penghargaan di Festival Film Indonesia 2018, termasuk Film Cerita Panjang Terbaik dan Sutradara Terbaik.
Kiprahnya menembus Hollywood dengan perannya sebagai sutradara di film Trigger Warning (2023) yang dibintangi Jessica Alba. Ia pun jadi sutradara Indonesia pertama yang diundang untuk bergabung The Academy of Motion Picture Arts and Sciences pada Juni 2025.
Film lainnya yang disutradarai oleh Mouly Surya seperti:
- yang tidak dibicarakan ketika membicarakan cinta (2013)
- Perang Kota (2025)
- Tukar Takdir (2025)
9. Ucu Agustin
Ucu merupakan seorang jurnalis sekaligus penulis dan pembuat film dokumenter. Film pertamanya, Death in Jakarta atau Kematian di Jakarta (2012), tercipta melalui bantuan dana dari Jakarta International Film Festival.
Kesuksesannya di ranah dokumenter membuatnya disebut sebagai salah satu pembuat film dokumenter Indonesia terbaik. Sejauh Ku Melangkah atau How Far I’ll Go (2019) mendapatkan penghargaan Dokumenter Pendek Terbaik pada Piala Citra yang berlangsung Desember 2019.
10. Lola Amaria
Karirnya bermula ketika ia menjuarai lomba model Wajah Femina 1997. Ia lalu masuk ke dunia entertainment Indonesia dengan membintangi berbagai iklan, termasuk Pantene. Ia bermain dalam sintetron garapan Nan Achnas berjudul Penari.
Lola berperan di berbagai film sebelum akhirnya menyutradarai film pertamanya, Betina (2006). Film ini mendapatkan penghargaan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2006 dan diputar di berbagai festival internasional.
Film Minggu Pagi di Victoria Park (2010) jadi salah satu film garapannya yang mendapatkan banyak nominasi, termasuk FFI. Namun ia menerima penghargaan Film Dokumenter Panjang Terbaik pada FFI 2023 untuk film Eksil (2023). Film ini mengupas tentang kisah para eksil yang tak bisa pulang ke Indonesia paska peristiwa Gerakan 30 September 1965.