Review Film Doctor Sleep (2019): Rekreasi The Shining, Tak Seseram Film Pertama

Kehadiran berbagai adegan dan karakter The Shining, bikin kangen film lamanya

cover film Doctor Sleep

Berpuluh-puluh tahun setelah The Shining (1980), di era reboot dan eksplorasi masa lalu, film Doctor Sleep menghadirkan inkarnasi yang menyenangkan dari pendahulunya. Didukung oleh plot yang padat dan casting yang pas, film ini pun tak lupa menjadi ajang rekreasi bagi penggemar The Shining dan Kubrick dengan referensi dan kunjungan ke berbagai adegan ikonik.

31 tahun setelah kejadian di Hotel Overlook, Danny Torrance (Ewan McGregor) yang tumbuh besar menjadi seorang alkoholik dan berkelana sepanjang Amerika. Akhirnya dia sampai di kota Frazier dan bertemu Billy Freeman. Dia akhirnya bekerja di sebuah rumah sakit. Berteman dengan kucing Azzie yang menjadi pertanda seseorang akan mati, dan mendapat julukan “Dokter Tidur”.

Ewan McGregor dan Kyliegh Curren review film doctor sleep
via Warner Bros.

8 tahun kemudian, dia bertemu Abra (Kyliegh Curran) yang juga memiliki kekuatan telepati yang dijuluki “The Shining”, sama seperti yang dimiliki Danny. Abra menjelaskan bahwa dia melihat sekelompok orang membunuh The Shining lainnya. Bersama Abra, Danny pun menghadapi kelompok tersebut, True Knot, yang dipimpin oleh Rose the Hat (Rebecca Ferguson).

Kelanjutan novel, bukan film

The Shining memang dibuat berdasarkan novel karya Stephen King. Tapi film ini – meskipun sangat populer – memiliki masalahnya sendiri. King tidak menyukai versi adaptasi Kubrick dan membuat versinya sendiri dalam bentuk serial TV di ABC pada 1997. Dan beberapa tahun lalu, dia menulis sekuel novelnya, bertindak seolah-olah film versi Kubrick tidak ada. Maka lahirlah Doctor Sleep.

scene ikonik The Shining
via Warner Bros.

Pada film pertama, ketika Danny bertemu dengan seorang koki yang juga memiliki kekuatan telepati, menandakan banyak orang yang mendapatkan kekuatan atau disebut dengan The Shining. Dan kelompok True Knot merupakan antagonis yang memburu dan membunuh pengguna kekuatan tersebut.

Sejak awal, Mike Flanagan yang menjadi sutradara menjelaskan kembali mitologi ‘The Shining’ ketika menceritakan apa yang terjadi pada Danny kecil. Sembari memperkenalkan Rose the Hat dan kelompok True Knot-nya ketika memangsa seorang anak kecil pemilik kekuatan telepati. Serta Abra yang saat itu berusia 5 tahun yang diperankan dengan sangat apik oleh Kyliegh Curran.

Rebecca Fergusson sebagai Rose the Hat
via Warner Bros.

Fokus pada Danny yang diperankan oleh Ewan McGregor, film ini memang menghasilkan horror yang menegangkan. Walaupun bisa dibilang belum mampu mengalahkan ketakutan yang dihadirkan oleh prekuel film versi Kubrick, tapi layaknya film thriller supernatural yang berubah menjadi kisah superhero pada babak ketiga.

Rekreasi dunia The Shining Kubrick

Meskipun jelas-jelas King tak menyukai adaptasi Kubrick, tak bisa dipungkiri adaptasi film tersebut telah jadi film klasik yang menyeramkan untuk ditonton hingga saat ini. Dengan berbagai adegan ikonik film pertama, Flanagan membawa penonton kembali mengingat maha karya Kubrick itu pada awal serta sebagian besar babak ketiga film.

scene The Shining dalam Doctor Sleep
via Warner Bros.

Sebelum film Doctor Sleep dibuat, banyak penggemar yang skeptis dengan kehadiran film kedua. Tapi Flanagan yang merangkap sutradara dan penulis mampu menghadirkan cerita yang segar, serta horor dan thriller yang menyenangkan untuk ditonton.

Perbedaannya? Ketika dunia Kubrick merupakan studi klaustrofobia yang tertutup dalam ruang hotel Overlook beserta paranoid dan kegilaannya, Flanagan menghasilkan drama multi karakter yang luas, berpindah-pindah, ekspansif, dan suram mengikuti fenomena sosial di era ini; ketergantungan, masalah mental, serta tuntutan untuk menjadi sama.

Ada beberapa referensi terhadap karya-karya Stephen King sebelumnya, seperti anak hilang, suasana yang kelam era 80-an, serta kucing (sangat disayangkan Azzie tak mendapatkan screentime yang banyak) seperti pada It 1 dan 2 hingga Pet Sematary (2019).

adegan dalam film Doctor Sleep
via Warner Bros.

Selain itu, pemilihan warna serta gambar-gambar simetris terlihat di sepanjang cerita. Kudos untuk Michael Fimognari yang mampu memberikan scene-scene menawan, layaknya sinematografi film pertama rancangan John Alcott. Ada saat-saat dimana Flanagan membuat ulang gambar dan adegan dari film The Shining untuk memperkaya cerita.

Bukan tandingan horor Kubrick

Membuat sebuah sekuel dengan sutradara dan banyak karakter baru bukanlah tugas mudah. Sekuel dengan sutradara baru kadang dianggap keluar dari sisi asli ketika film dibuat berbeda. Atau disebut peniru dan tak punya ciri khas ketika mengulang skemanya. Dan Doctor Sleep cukup beruntung karena Flanagan mampu menghadirkan plot yang segar namun mempertahankan penampilan suksesornya.

Satu-satunya kekurangan yang mungkin dirasakan pada film kedua adalah horor yang tak terlalu menyeramkan. Dimana salah satu sosok hantu ikonik malah dijadikan bahan lelucon. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan kreasi Kubrick ketika mengarahkan imajinasi King; menegangkan hingga di akhir cerita.

Ewan McGregor dalam film Doctor Sleep
via Warner Bros.

Bagi penggemar film pertama, film ini tak menakutkan. Mungkin Flanagan mengerti bahwa mencoba untuk mengalahkan Kubrick dan Jack Nicholson dalam memberikan horor yang menyeramkan untuk penonton bukanlah tugas mudah. Karena itu, bisa dirasakan bagaimana cerita yang dihadirkan mengedepankan kesan suram dari atmosfer dan ketegangan yang diberikan.

Mungkin dikenal sebagai film yang lebih heartwarming dibandingkan karya Kubrick, namun menjelaskan lebih banyak tentang karakter di dalamnya. Cerita yang solid, thriller menyenangkan, dan berbagai referensi terhadap scene ikonik edisi pertama, film Doctor Sleep memang bukan tandingan dalam menghadirkan horor pada penonton. Tapi bagi yang ingin mencari sekuel yang segar, film ini patut diperhitungkan.

Rating: 8/10

Genre: Horor, Thriller

Sutradara: Mike Flanagan

Penulis: Mike Flanagan

Pemeran: Ewan McGregor, Rebecca Ferguson, Kyliegh Curran

Review Film
  • 8/10
    Film bagus. Wajib tonton. - 8/10
8/10

Summary

Mungkin dikenal sebagai film yang lebih heartwarming dibandingkan karya Kubrick, namun menjelaskan lebih banyak tentang karakter di dalamnya. Cerita yang solid, thriller menyenangkan, dan berbagai referensi terhadap scene ikonik film pertama, Doctor Sleep memang bukan tandingan dalam menghadirkan horor pada penonton. Tapi bagi yang ingin mencari sekuel yang segar, film ini patut diperhitungkan.

Sending
User Review
0/10 ( votes)

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.