Bukan Pixar namanya jika tidak bisa menghadirkan sisi spesial dari sebuah narasi hingga menghasilkan cerita yang baru dan fresh untuk para penggemarnya. Siapa yang bisa lupa dengan petualangan Woody bersama mainan-main milik Andy dalam franchise “Toy Story”, petualangan si Kakek pemarah dengan bocah Pramuka dalam “Up”, atau sisi humanitas sebuah Robot “Wall-E”. Kali ini, untuk kedua kalinya Pixar dan Disney mengungkapkan bagaimana heboh dan rumitnya menjadi sebuah keluarga pahlawan super dalam “The Incredibles 2”.
The Incredibles 2 bukan hanya sekedar film animasi tentang superhero yang banyak memenuhi Hollywood beberapa dekade terakhir. Lebih dari itu, film ini menawarkan betapa susahnya hidup menjadi superhero, apalagi sekeluarga; melihat superhero bukan hanya dalam pertarungan superhero melawan penjahat, tapi juga sisi kehidupan pribadi sentimentil pahlawan super terkenal di kehidupan normal.

Pixar telah lama diakui mampu menampilkan kerumitan cerita yang dibalut dalam alur yang mudah untuk diikuti, mengingat Pixar masih mengkategorikan film ini sebagai sebuah film keluarga. Namun, Pixar tahu betul trik mengambil hati penonton baru dengan tetap mempertahankan kepuasan penggemar The Incredibles yang sekarang sudah beranjak dewasa dibanding pertama kali menonton film ini pada November 2004 silam.
Seperti yang diungkapkan oleh beberapa kritikus dan pengulas film di berbagai media, jarak peluncuran sekuel The Incredibles yang terpaut 14 tahun seperti tidak dirasakan ketika menonton film ini. Langsung melanjutkan bagian yang tertinggal pada film pertamanya, prekuel The Incredibles ini menghadirkan cerita dimana keluarga Mr. Incredible dan Elastigirl berhadapan dengan The Underminer (bagi yang lupa, silahkan lihat kembali The Incedibles pertama).
Di sini, keluarga Incredibles masih dihadapkan dengan larangan pahlawan super yang telah disahkan secara legal di seluruh dunia. Inilah yang akan menjadi inti masalah dari film ini: menyelamatkan dunia sebagai pahlawan super di dunia dimana menjadi pahlawan super merupakan sebuah tindak kejahatan.

Lalu, harapan muncul ketika ada sebuah proyek rahasia yang menginginkan Elastigirl sebagai pahlawan super pembela kebenaran. Pekerjaan ini membuatnya meninggalkan Mr. Incredible alias Bob Parr sebagai pengasuh anak di rumah.
Disinilah cerita menjadi kompleks. Mengurus rumah ternyata tak semudah membabi buta menyerang penjahat, setidaknya bagi Parr, yang harus berurusan dengan hal-hal yang juga dialami oleh seorang bapak rumah tangga: mengurus anak-anak.
Pertukaran ‘pekerjaan’ menjanjikan cerita tersendiri. Terlebih, dengan berbagai isu kesetaraan gender yang semakin meramaikan media-media terkemuka di Amerika dan seluruh dunia. Elastigirl membuktikan kepada penonton bahwa superhero wanita juga bisa kick someone’s ass dan menyelamatkan dunia.

Selain itu, keseruan (atau kerumitan) menjadi seorang bapak rumah tangga membuat Rob Parr harus memutar otak; mengatasi tugas dan PR dari Dash Parr, mengetahui hubungan asmara Violet Parr yang memasuki masa puber, serta yang paling membuat insting seorang ayah Parr diuji adalah mencari cara mengurus bayi Jack-Jack yang sudah mendapatkan kekuatan layaknya Superman, tapi dengan kemampuan menembus ruang serta transformasi ala Hulk.
Mungkin, yang menjadikan The Incredibles 2 layak untuk ditonton adalah kemampuan Brad Bird sebagai penulis naskah, dan juga sutradara, dalam menghadirkan sisi lain dari tokoh pahlawan yang selama ini hanya kita lihat dalam aksi heroisme mereka menyelamatkan dunia dari sosok jahat.
Pahlawan super seperti Batman dan Iron Man mungkin terkenal dengan tindakan mereka yang gagah berani mengorbankan diri mereka demi keselamatan dunia. The Incredibles juga mengambil sisi kepahlawanan dalam hal yang berbeda: meninggalkan dunia kepahlawanan untuk keluarga serta meninggalkan keluarga untuk menyelamatkan dunia.

Premis inilah yang menjadikan The Incredibles 2 terlihat membumi; bahwa sebenarnya alter ego pehlawan super yang dielu-elukan oleh masyarakat juga memiliki masalah mereka sendiri. Premis yang sama yang juga digambarkan oleh Spider-Man: Homecoming. Kedekatan emosional ini yang dikembangkan Bird untuk menghasilkan sebuah kompleksitas film keluarga tentang keluarga superhero yang kompleks.
Bisa dibilang, The Incredibles 2 merupakan sebuah film keluarga yang cocok ditonton mulai dari anak-anak hingga orang tua. Daripada membawa anak Anda menonton Deadpool 2 yang jelas-jelas diperuntukan bagi penonton dewasa, membawa anak-anak pada libur panjang kali ini menonton The Incredibles 2 merupakan cara terbaik memperkenalkan anak Anda bahwa semua manusia biasa atau pahlawan super sama saja, seperti Keluarga Cemara, harta yang paling berharga adalah keluarga.
Sutradara: Brad Bird
Cast: Craig T. Nelson, Holly Hunter, Samuel L. Jackson, Sarah Vowell

