Review film The Power of the Dog ini berisi spoiler!
Film The Power of the Dog yang bisa ditonton di Netflix ini diambil dari novel dengan judul yang sama. Menggaet Benedict Cumberbatch dan Kirsten Dunst, film ini disutradarai oleh Jane Campion yang mendapatkan berbagai penghargaan berkat penceritaannya yang gamblang mengenai toxic masculinity di era koboi.
Berlatar tahun 1925 di Montana, film in menceritakan tentang dua saudara kaya pemilik peternakan, Phil (Benedict Cumberbatch) dan George Burbank (Jesse Plemons). George tertarik dengan seorang wanita pemilik penginapan Rose (Kirsten Dunst) dan akhirnya menikahinya.

Rose mampu menyekolahkan anaknya, Peter (Kodi Smit-McPhee) untuk sekolah kedokteran. Sedangkan di rumahnya, Phil merasa terganggu dengan Rose dan menganggapnya memanipulasi George hanya untuk mendapatkan uangnya. Phil pun sering mengejek Rose, hingga membuat Rose stress dan mulai minum alkohol.
Perlahan Peter mulai dekat dengan Phil karena ia ingin belajar tentang merawat kuda. Namun perubahan hubungan mereka inilah menjadi akhir cerita Phil. Kematian Phil ironis sekali karena disebabkan oleh sifat toxic masculinity miliknya dan oleh hal yang sangat ia hindari.
Toxic masculinity di era Western
Film ini mengusung genre Neo-Western, yaitu mengadopsi penceritaan dari ranah Western, mulai dari latar dan visual, tapi menambah nilai-nilai baru maupun tema baru yang berbeda dibandingkan film Western biasa pada umumnya.
Yang paling berbeda dan membuat film ini menjadi salah satu film terbaik 2021 adalah bagaimana Jane Campion sebagai sutradara mengangkat isu toxic masculinity yang jarang ditemukan pada film Western lainnya.

Jane memperlihatkan bagaimana Phil mencoba untuk menjadi sosok koboi yang tangguh, kuat, dan menjadi simbol maskulinitas di peternakan tersebut. Cumberbatch menggambarkan Phil sebagai sosok maskulin, mulai dari mengebiri sapi tanpa memakai sarung tangan, menolak untuk mandi, hingga tak peduli dengan luka yang dialaminya.
Phil merepresentasikan laki-laki Western yang macho dan maskulin yang kuno. Ia merasa hubungannya dengan George terancam dengan kehadiran Rose dan Peter. Mereka berdua merupakan antitesis dari karakter Phil; Rose dari gender yang tak ia sukai dan Peter sebagai sosok laki-laki yang feminim.

Phil menjadi pusat dari elemen naratif dan tema dari film ini. Kepribadiannya berbenturan dengan karakter Rose dan Peter. Menghadirkan dinamika karakter yang unik dan menarik dalam kisah toksik yang pedih.
Meski film ini berhasil menampilkan elemen tematik yang menarik, namun The Power of the Dog belum bisa menciptakan perubahan alur cerita yang mulus. Akhir yang dramatis jadi terkesan terjadi out of nowhere.
Mendayu dan mengagumkan
Pace yang lambat serta kisah drama yang terlalu flat menjadikan film ini bukan selera semua orang. Konflik yang ditawarkan tak begitu jelas mengikat. Terbagi-bagi menjadi pecahan-pecahan fragmen yang memperlihatkan progresi plot mendayu-dayu.

Pergerakan narasi lebih terasa di penghujung cerita. Ketika Phil mulai berbagi dengan Peter dan menjelaskan kepada penonton apa yang terjadi pada Phil; kedekatannya dengan Bronco Henry dan bagaimana ia mulai menerima Peter di kehidupannya.
Kudos kepada Dr. Strange, Benedict Cumberbatch yang berhasil membawakan Phil yang terasing tapi berusaha mendominasi di peternakan. Walaupun karakternya yang penyendiri dan penuh dalam pikirannya sendiri sudah lebih dulu terlihat ketika ia memerankan Sherlock Holmes dalam serial Sherlock (2010-2017).

Begitu pula dengan sinematografi serta soundtrack yang menyatu dengan cerita, mendukung kisah Western yang memesona. Meski sebenarnya berlatar Selandia Baru, tapi Campion berhasil menangkap lanskap perbatasan Barat Amerika yang luas dan memberikan skena yang menenangkan ketika menonton film ini.
Dibawakan secara implisit
Film ini diangkat dari novel berjudul sama karya Thomas Savage. Sayangnya versi novel tak begitu laris di pasaran hingga akhirnya diterbitkan kembali pada tahun 2001, menjadikannya sebagai salah satu novel klasik Amerika. Padahal novel ini mendapatkan respons positif dari kritikus ketika pertama kali diterbitkan pada tahun 1967.
Tak sedikit pula yang mengaitkan film ini dengan Brokeback Mountain (2005) yang diperankan oleh mendiang Heath Ledger dan Jake Gyllenhaal. Sama-sama membahas tentang maskulinitas koboy dan homoseksualitas, tapi film The Power of the Dog menyajikan hal ini secara implisit, atau tak terlalu jelas.

Begitu pula dengan ending yang mungkin tak terlalu jelas mengungkap motif Peter pada saat ingin membunuh Phil. Tapi di bagian akhir Campion memperlihatkan bagaimana Peter tersenyum melihat Rose dan George tanpa harus memikirkan ejekan dan hinaan dari Phil.
Akhir yang ironi, mengingat Phil meninggal karena Anthrax yang selalu ia hindari. Terlebih lagi, ia terbunuh oleh Peter yang selama ini ia anggap terlalu lemah untuk melakukan hal-hal yang berbau kelaki-lakian ketika ia mulai membuka diri untuk menerima Peter dan sisi femininitasnya.

Film The Power of the Dog mampu membawa sudut pandang baru dari maskulinitas yang sering terlihat pada genre Western. Didukung sinematografi yang mengagumkan dan soundtrack yang menunjang cerita, penonton harus bersabar dengan pace yang lambat tapi sepadan dengan narasi dan tema yang ditawarkan.
Genre: Western, Drama
Sutradara: Jane Campion
Penulis: Jane Campion
Pemeran: Benedict Cumberbatch, Jesse Plemons, Kodi Smit-McPhee, Kirsten Dunst

