Review Film The Kid Who Would be King (2019) – Modernisasi Mitologi Kesatria Meja Bundar

An evil army to fight. A demon to slay. A world to save.

The Kid Who Would be King

Apa mungkin sebuah mitologi kuno ternyata merupakan kenyataan dan akan terulang kembali di era modern? Pertanyaan inilah yang menjadi pondasi dasar dari film epik karya terbaru Joe Cornish (Attack the Block), yaitu film The Kid Who Would be King. Sebuah kisah yang mengangkat kembali mitologi kuno di daerah Britania Raya, mitos Kesatria Meja Bundar yang dipimpin oleh seorang raja bernama King Arthur.

Butuh delapan tahun bagi Joe Cornish untuk kembali menyutradarai sebuah film setelah terakhir kali mengarahkan film British keren Attack the Block. Penantian panjang para penggemar pun dibayar dengan cukup memuaskan lewat film teranyarnya ini.

ulasan bahasa indonesia film the kid who would be king

Film The Kid Who Would be King berkisah tentang Alexander Elliot (Ashbourne Serkis), seorang anak cupu berbadan sedikit gemuk, tipikal murid korban bullying di sekolah, mengalami perubahan takdir ketika mencabut sebuah pedang yang tertancap pada reruntuhan tiang bangunan proyek. Pedang dengan pola medieval kuno ini kemudian diketahui merupakan Excalibur, pedang legendaris King Arthur.

Alex bersama Bedder (Dean Chaumoo) kemudian harus menjadikan musuhnya, Lance (Tom Taylor) dan Kaye (Rhianna Doris) menjadi sekutu mereka, serta ditemani seorang enchanter legendaris bernama Merlin (Angus Imrie & Patrick Stewart), mereka bertarung demi menyelamatkan Negaranya dari ancaman kehancuran dan perbudakan oleh penyihir jahat Morgana, diperankan oleh Rebecca Ferguson (Mission: Impossible – Fallout), yang memiliki control terhadap pasukan iblis dan bisa mengubah dirinya sendiri menjadi seekor naga.

Lengkap sudah unsur-unsur penting dari sebuah kisah epik; sekelompok kesatria, sihir, undead army, dan naga penyembur api, menjadikan film ini sangat epik, menegangkan dan sekaligus menghibur di saat bersamaan.

ulasan film the kid who would be king
Alex dan pedang Excalibur, Via IMDB

Film The Kid Who Would be King memiliki penokohan karakter yang baik dengan adanya pengembangan karakter terutama pada diri Alex, konflik internal di antara Kesatria Meja Bundar generasi modern yang tentu saja dipicu oleh Lance yang merupakan seorang bully.

Hal menarik lainnya adalah adanya keberagaman pada pemilihan karakter. Keberagaman yang dimaksud di sini adalah keberagaman ras dan gender yang tergambar pada sosok Kaye yang merupakan seorang gadis kulit hitam, juga pada sosok Bedder yang jika dilihat dari wajahnya memiliki darah India.

Keberagaman karakter ini menjadi menarik mengingat di awal film disebutkan bahwa morgana dan pasukan iblis akan menguasai dunia ketika hati manusia terbelah dan menjadi invidualis. Keempat kesatria kita hadir menjadi simbol persatuan ras dan gender demi mencegah terjadinya bencana yang disebabkan oleh terbelahnya hati manusia.

review bahasa indonesia film the kid who would be king
Kesatria meja bundar yang beragam, Via IMDB

Plot dari film ini disajikan dengan menarik dan tidak membosankan meskipun kisah yang dibawakannya adalah penceritaan ulang kisah kuno yang mungkin sudah banyak diketahui orang dalam berbagai adaptasi.

Pertarungan yang dibuat sedikit sulit menjadi masuk akal mengingat para kesatria meja bundar kita ini adalah anak-anak sekolah yang tentunya memiliki kekuatan tidak seberapa dan hanya bisa menang dengan mengandalkan kerjasama tim.

Perjalanan yang dilakukan oleh Alex dan teman-teman menambah kemenarikan film ini karena penonton akan disuguhkan momen-momen latihan, pengejaran, kebersamaan, dan tentu sedikit kesedihan dalam perjalanan mereka.

Epik dan sarat nilai

Film The Kid Who Would be King sangat cocok ditonton bersama keluarga lengkap karena film ini tidak hanya memberikan ketegangan pertarungan, namun juga nilai-nilai positif yang bisa diajarkan pada anak. Pengajaran paling penting adalah perlunya untuk berusaha membuat musuhmu menjadi teman, atau setidaknya sekutu yang berguna.

review film the kid who would be king indonesia
Merlin dan Alex, Via IMDB

Nilai yang juga tidak kalah penting adalah pentingnya menghargai orang yang kita cintai – baik itu orang tua, teman, dan anak – jika ingin misi kita di dunia ini berjalan lancar.

Satu lagi nilai yang ditanamkan melalui nasehat Merlin di akhir film adalah, tidak semua pertempuran membutuhkan bantuan pedang dan baju zirah, yang penting adalah kita tahu apa yang sebenarnya sedang kita perjuangkan dan cari cara memperjuangkannya.

The Kid Who Would be King bisa segera dinikmati di Indonesia pada 23 Januari 2019. Untuk menutup review ini, berikut sedikit petuah dari Merlin sang Wise Old Man.

“Pada diri setiap anak terdapat jiwa bijaksana orang dewasa, dan pada diri setiap orang tua terdapat jiwa konyol-kekanakan seorang anak-anak.” – Merlin

Rating: 4/5


Genre: Adventure, Family, Fantasy

Sutradara: Joe Cornish

Penulis: Joe Cornish

Bintang: Rebecca FergusonTom TaylorPatrick Stewart

Review Overview
  • Rating Film
4

Kesimpulan

Film The Kid Who Would be King ini sangat cocok ditonton bersama keluarga lengkap karena film ini tidak hanya memberikan ketegangan pertarungan, namun juga nilai-nilai positif yang bisa diajarkan pada anak.

Sending
User Review
( votes)

Mahasiswa pascasarjana Kajian Wilayah Amerika di salah satu universitas di Indonesia. Mulai menyelami buku-buku sejak SMP diawali dari novel Lupus dan kemudian kuliah S1 di jurusan Sastra. Aktif meresensi buku melalui Instagram dan Youtube.