Review Film Dilan 1991 – Pemersatu Umat Baper dengan Kisah SMA

Dibuat lebih baper hingga akhir cerita

ulasan film dilan 1991

Setelah pertama kali hadir di bioskop Indonesia tahun lalu, film Dilan 1991 menjadi sekuel yang dinantikan oleh penonton Indonesia. Tidak hanya bagi pembaca novel karangan Pidi Baiq ini, namun juga penonton yang haus dengan gombalan Dilan serta kehangatan kisah cinta remaja SMA. Dan selama lebih dari dua jam penayangan film ini, penonton akan dibawa jatuh bangun dalam kisah cinta ala anak muda.

Sama seperti karya novelnya, Dilan merupakan salah satu film yang cocok untuk dinikmati ketika hujan, mengenang perasaan serta masa-masa sekolah yang indah. Nuansa tersebut kembali dibawa dengan menghadirkan cerita pasangan anak sekolah yang ‘umum’ terjadi. Dan dibuat layaknya film pertama, plot dan cerita yang padat serta naskah yang dramatis menjadi kekuatan Dilan 1991.

Cerita SMA ala Dilan 1991

Sebagai film yang diambil berdasarkan novel, cerita dibuat hampir sama dengan versi tulisannya. Tentu saja, bagi mereka yang sudah membaca versi novel sudah bisa menebak apa yang terjadi di akhir cerita. Namun bagi yang ingin menonton versi layar lebar dari novel yang sudah mendapatkan cetak ulang ke-34 ini, kisah cinta yang menarik dari Dilan dan Milea memberikan perasaan hangat dan mengungkit kenangan masa lalu.

Tema yang diangkat pun menarik untuk diceritakan. Cerita SMA. Ah, siapa yang bisa lupa dengan kisah cinta di SMA? Masa-masa pdkt, jadian, hingga akhirnya harus putus di tengah jalan karena berbeda pandangan. Bahkan mungkin jika tidak berakhir bahagia, siapa yang bisa lupa dengan perasaan mengagumi tanpa memiliki yang sering didengungkan oleh remaja-remaja labil saat ini.

Cerita masa SMA memang menjadi magnet tersendiri bagi penontonnya. Sebut saja Ada Apa dengan Cinta atau Catatan Akhir Sekolah, semuanya mengeksplorasi perasaan hangat yang ditinggalkan ketika beranjak dewasa. Semua orang bisa dengan mudah masuk ke dalam cerita dan berandai-andai mengalami kisah cinta yang sama dengan Dilan dan Milea.

Mungkin inilah yang membuat Dilan – versi film maupun buku yang ditulis oleh Pidi Baiq – menjadi lebih mudah diterima. Penonton yang sudah berumur bisa mengenang kembali masa-masa SMA. Mulai dari saling berkirim kabar melalui surat hingga memberanikan diri menelepon di malam hari. Pun begitu juga dengan mereka yang masih remaja saat ini; mulai merasakan benih-benih suka serta menghubungkan hubungan percintaan Dilan dan Milea seperti yang sedang dirasakan saat ini.

BACA JUGA  Review Film The Secret Life of Pets 2 (2019) - Lebih Segar dan Penuh Petualangan
Masih masalah yang sama

Membuat film berdasarkan novel memang memiliki keterbatasan tersendiri. Salah satunya alur cerita yang sudah lebih dahulu diketahui oleh pembacanya. Bak pisau bermata dua, membuat film dengan cerita yang sama akan mengurangi kenikmatan menonton, sedangkan mengubah alur cerita untuk memberikan kejutan pada penonton akan membuat sebagian pembaca marah. Karena itu, Pidi Baiq dan Fajar Bustomi memilih cara aman, yaitu membuat film ini sedekat mungkin dengan cerita aslinya.

Meskipun dibuat lebih romantis dengan alur yang dinamis, masalah yang sama yang terjadi pada film pertama kembali hadir. Iqbal Ramadhan yang memiliki wajah ‘baby face’ memang dengan mudah memerankan scene-scene romantis. Tetapi kurang mampu menunjukan ketegasan Dilan sebagai anggota geng motor.

Sedangkan Milea yang awalnya dikenal sebagai anak Jakarta yang supel dan berani, berubah menjadi ‘cewek-cewek sekolah kebanyakan.’ Meskipun pada film kedua, karakter Milea sudah mendapatkan ketegasannya, walaupun tak lepas dari karakteristik tak berdaya, tetapi lebih dibuat ‘wanita’. Apa karena jatuh cinta membuat semua insan menjadi lemah dan tak berdaya?

Secara keseluruhan, Dilan 1991 dengan sukses menghadirkan budak-budak cinta (bucin) kembali ke permukaan dengan semua rayuan gombal dan kisah cinta yang hangat dari Dilan dan Milea. Tak bisa dipungkiri bahwa Pidi Baiq masih juara membuat untaian kata menjadi gombalan quotable nan enak dijadikan meme.

Jangan buru-buru keluar dan menagis setelah menonton film ini. Berbeda dengan film pertamanya, film Dilan 1991 memiliki post credit scene yang mengungkapkan sekilas tentang Dilan, menimbulkan perasaan geregetan setelah melihat akhir film. Hati-hati baper tingkat dewa hadir setelah menonton film ini. Dan jangan lupa, disarankan tidak nonton sendirian jika tak ingin tertawa dan sendu di bioskop melihat yang lain berpasangan.

BACA JUGA  Rekomendasi Film Post-Apocalypse Berdasarkan Penyebabnya

Rating: 3.8/5


Genre: Drama, Romance

Sutradara: Pidi BaiqFajar Bustomi

Penulis: Pidi Baiq (story & script writer), Titien Wattimena (script writer)

Bintang: Iqbaal Dhiafakhri RamadhanVanesha PrescillaIra Wibowo

Review Overview
  • Rating Film
3.8

Kesimpulan

Dilan 1991 masih berhasil menyajikan formula drama romantis penuh rayuan gombal dan kisah cinta yang hangat dari dua anak SMA. Tak bisa dipungkiri bahwa Pidi Baiq masih juara membuat untaian kata menjadi gombalan quotable nan enak dijadikan meme.

Sending
User Review
3 (3 votes)
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.