Review Film Babylon (2023): Grande, Glamor, dan Riuh Sesak

Film Babylon membawa cerita yang megah dan penuh sesak oleh semua tragedi, mimpi dan magis dari masa keemasan Hollywood di tahun 1920-an. Visual menawan dan lantunan jazz yang enerjik disandingkan dengan narasi dalam tempo cepat dan padat.

Sinopsis film Babylon

Manuel “Manny” Torres (Diego Calva) bermimpi untuk masuk ke dunia film Hollywood. Ia bertemu dengan gadis muda enerjik dan atraktif, Nellie LaRoy (Margot Robbie) yang merasa dirinya adalah seorang bintang.

Margot Robbie sebagai Nellie LaRoy dan Diego Calva sebagai Manny Torres
via Paramount Pictures

Nellie akhirnya direkrut untuk membintangi sebuah film, sementara Manny ditemukan oleh Jack Conrad, megabintang film bisu. Manny awalnya dilirik untuk menjadi pesuruh menunjukkan kapabilitasnya dan semakin disegani di Kinoscope Studios. Transisi Hollywood dari film bisu ke film bersuara kemudian menjadi titik balik perubahan nasib ketiganya.

Hectic dan riuh

Chaos dan hectic. Dua kata paling tepat untuk menggambarkan film ini. Karya fenomenal selanjutnya dari Damien Chazelle paska Whiplash (2014) ataupun La La Land (2016). 

Durasi 3 jam bagaikan tak cukup menggambarkan perjalanan tiga karakter utama, dan mungkin banyak karakter pendukung lainnya dalam the Golden Age of Hollywood. Bahkan sudah berlalu 30 menit baru title awal Babylon muncul di depan layar.

Spike Jonze sebagai Otto Von Strassberger, Lukas Haas sebagai George Munn dan Robert Clendenin (belakang) sebagai Assistant Director Otto
via Paramount Pictures

Neelie punya dinamikanya tersendiri sebagai aktor pendatang baru. Sementara Manny harus berjuang dari bawah untuk masuk ke dalam dunia film. Dan Jack menghadapi kerasnya masa transisi dari film bisu ke suara yang begitu cepat.

Belum lagi dengan karakter pendukung Sidney Palmer (Jovan Adepo), musisi berkulit hitam yang mendapatkan spotlight tersendiri. Kehadirannya menggambarkan sub-plot lain yang menarik, tapi tak terekspos dengan baik dan malah memperlebar arah film ini.

Pace cepat, progresi plot yang naik turun, kadang riuh dengan keributan syuting dan pengambilan gambar, tapi tak lupa mengkadirkan momen hening untuk penonton menghela nafas sejenak dari kerumitan plot dan narasi yang disampaikan. 

Brad Pitt sebagai Jack Conrad dan Li Jun Li sebagai Lady Fay Zhu
via Paramount Pictures

Transisi adegan demi adegan dibuat sangat cepat. Meski kadang dibawa ke arah yang tak disangka-sangka. Memberikan kejutan yang membuat penonton selalu waspada dalam duduknya. 

Chazelle selalu piawai menyatukan musik dan cerita. Kali ini membawakan irama jazz dengan tempo cepat, sepadan dengan pace plot yang berpacu cepat dalam segala keributan dunia Hollywood era 1920-an.

Kehebohan Golden Age Hollywood

Untuk sebuah tontonan biasa, karya terbaru Chazelle memang grande dan terlalu kompleks, jika tak bisa dibilang berantakan. Tapi di sisi lain, ia menghadirkan penggambaran sisi kelam Hollywood di masa emasnya.

Jika Fabelmans (2022) menghadirkan bagaimana film dari kacamata sang sutradara, Babylon lebih dalam mengulik dunia perfilman Hollywood dari orang-orang yang berada di dalamnya.

Diego Calva sebagai Manny Torres di film Babylon dari Paramount Pictures
via Paramount Pictures

For better or worst, Babylon adalah representasi paling mengagumkan tentang dunia film di negeri Paman Sam; mimpi-mimpinya dan keterpurukan. Segala kekacauan yang diperlihatkan membuktikan itu semua.

Bagaimana perjalanan karir aktor A-list di masa transisi, bintang muda yang terombang-ambing dalam dunia showbiz yang glamor, serta orang-orang di balik layar yang datang silih berganti dipadatkan dalam kisah 3 jam. Gila memang. 

Kemegahan Hollywood di atas sayangnya disampaikan dalam narasi yang terpotong-potong dan tumpang tindih. Bagaikan sebuah sejarah perfilman yang disesakkan dalam empat representasi karakter utama.

Ada campur aduk perasaan yang ditampilkan pada bagian akhir. Menghadirkan perkembangan Hollywood dari film bisu, hitam putih, berwarna, sampai ke era digital menjadi penghormatan tersendiri bagi sebuah industri yang penuh ‘keajaiban’.

Margot Robbie sebagai Nellie LaRoy dalam film Babylon dari Paramount Pictures
via Paramount Pictures

Dari segi visual dan suara, Babylon adalah satu dari sekian film yang menemukan tempatnya di bioskop. Walau sayang ada banyak adegan yang disensor dan dipotong di bioskop Indonesia, pengalaman menikmati film ini bukanlah di layanan streaming atau di rumah.

Film Babylon muncul sebagai sebuah ode untuk masa keemasan Hollywood dengan segala problematikanya. Candu bagi pengagum film. Tapi mungkin masih belum cukup memikat bagi penonton yang hanya ingin mencari hiburan semata. 

Genre: Drama

Sutradara: Damien Chazelle

Penulis Naskah: Damien Chazelle

Pemeran: Diego Calva, Margot Robbie, Brad Pitt

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 915

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *