Rekomendasi Buku untuk Kamu Pencinta Senja

Emang kamu aja yang bisa indie! Buku juga bisa dong menjadi indie. Seperti namanya, indie – alias independen, buku indie merupakan buku yang diterbitkan oleh penerbit kecil dan independen, atau bahkan diterbitkan secara mandiri oleh penulisnya langsung (self publishing).

Ada berbagai alasan mengapa penulis memilih bukunya diterbitkan oleh penerbit independen atau jalur self publishing ketimbang mengajukan naskah ke penerbit major. Salah satu alasannya adalah penerbit major cenderung memiliki regulasi penerbitan yang cukup ketat baik dari segi teknis maupun dari segi penyaringan konten.

Faktor lainnya adalah naskah yang dibuat sang penulis merupakah naskah yang memiliki pasar berbeda dari pasar penerbit major. Dengan pengaruh faktor-faktor di atas, maka buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit independen cenderung memiliki karakteristik dan kesamaan pada aspek-aspek tertentu, salah satunya target pasar.

Untuk kamu yang memilih indie menjadi jalan hidup (?), agaknya kamu harus baca buku-buku ini untuk melengkapi ke-indie-an mu:

1. Semasa – Teddy W. Kusuma & Maesy Ang

Desain sampul edisi cetakan POST Press via Mojok Store

Buku ini merupakan sebuah cerita tentang Coro dan Sachi, dua sepupu yang bertemu kembali setelah berpisah untuk waktu yang lama. Mereka kemudian mengenang kembali kejadian masa lalu yang membuat mereka sangat dekat, kemudian terciptanya jarak karena beberapa hal, dan berakhir memutuskan untuk memilih jalan masing-masing.

Penulis novel Semasa ini merupakan pengelola utama sebuah toko buku inde yang bernama POST yang terletak di bilangan Jakarta Selatan, lebih tepatnya di Pasar Santa. Buku ini sendiri juga diterbitkan oleh penerbit POST Press, penerbit independen yang juga masih di bawah jaringan POST bookshop.

2. Na Willa (duologi) – Reda Gaudiamo

Na Willa buku satu dan dua via Redagaudiamo.com

Buku ini merupakan buku sastra anak yang bercerita tentang kehidupan dari kacamata Na Willa. Na willa adalah seorang anak yang tinggal di daerah Surabaya yang hari-harinya diisi dengan keceriaan anak-anak pada umumnya. Masa kecil memang sering dipandang sebagai masa-masa tanpa beban bagi orang dewasa, namun tidak untuk Na Willa. Sebagai perwakilan kaum anak-anak, Na Willa seolah ingin menyampaikan bahwa masa kecil juga berat untuk dijalani oleh anak-anak.

Na Willa ini merupakan sebuah duologi yang juga diterbitkan oleh POST Press pada tahun 2018 dan dapat diperoleh di toko buku POST. Kabar terbaru menyatakan bahwa kedua buku Na Willa ini akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk di pasarkan secara internasional. Keren, kan!

3. Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi – Yusi Avianto pareanom

Desain sampul edisi cetakan kedua via Goodreads

Novel indie yang diterbitkan oleh penerbit bernama Banana ini bercerita tentang dua orang bernama Sungu Lembu dan Raden Mandasia yang melakukan perjalanan menuju Kerajaan Gerbang Agung demi misi pribadi masing-masing. Pada perjalanan itulah mereka mengalami banyak kejadian mendebarkan; berhadapan dengan ganasnya laut, melawan maut di gurun, dan terlibat perang besar.

Meskipun buku ini diterbitkan secara independen, namun prestasinya mampu menyaingi buku-buku dari penerbit major. Novel ini mendapatkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2016 untuk kategori prosa. Prestasi yang didapatkan ini membuat pembaca yang masih awam kemudian menaruh perhatian pada penerbitan indie yang biasanya dipandang sebelah mata.

4. Kura-Kura Berjanggut –Azhari Ayub

Sampul Kura-Kura Berjanggut terbitan Banana via Goodreads

Novel yang juga terlahir dari penerbit Banana ini merupakan novel yang berbobot, I mean, literally! Bagaimana tidak, novel ini memiliki bobot yang nyaris 1kg karena ketebalannya mencapai 960 halaman. Di samping itu, tentunya buku indie ini juga berbobot secara isi cerita dan sudah terbukti dengan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2018 yang diberikan pada buku ini untuk kategori prosa.

Buku yang bisa juga berfungsi sebagai bantal darurat ini mencakup banyak cerita di dalamnya, seperti cerita Si Ujud yang ingin membalas dendam pada Sultan Lamuri, pembunuh bayaran yang dikirim oleh perkumpulan Kura-Kura Berjanggut, tentang agama pemuja kerang purba, dan cerita-cerita dengan aroma dongeng lainnya.

Membaca buku indie di sore hari menjelang terbenamnya matahari, duh, kurang indie apa lagi, coba? Setelah membaca, jangan lupa tulari juga buku-buku ini pada sobat indie kamu biar mereka juga bisa melengkapi status indie-nya.

Mahasiswa pascasarjana Kajian Wilayah Amerika di salah satu universitas di Indonesia. Mulai menyelami buku-buku sejak SMP diawali dari novel Lupus dan kemudian kuliah S1 di jurusan Sastra. Aktif meresensi buku melalui Instagram dan Youtube.