Book for Your Shelf: Bilangan Fu – Laku Kritik terhadap Modernisme, Monoteisme, dan Militerisme

review novel bilangan fu

“Orang di negeri ini lebih memilih ketenangan daripada kebenaran”

-Ayu Utami, Bilangan Fu

Sandi Yuda, seorang pemanjat tebing dan modernis yang suka melecehkan takhayul pedesaan menjadi saksi dari berbagai kejadian aneh seperti hilangnya jasad dari kuburan, klub manusia aneh, dan pembunuhan guru ngaji. Bersama sahabat barunya, Parang Jati yang merupakan mahasiswa Geologi, Yuda berusaha mencerna apa yang sesungguhnya sedang terjadi di desa Watugunung. Di sela-sela kejadian aneh itu, Yuda mendapat serangkaian mimpi aneh tentang sebuah bilangan bernama Bilangan Fu.

Ayu Utami menyelipkan budaya Jawa pada novel ini dengan cara yang unik, seperti judul buku dan nama penulis yang terdapat pada sampul buku ini merupakan adaptasi dari aksara Jawa Hanacaraka. Unsur budaya seperti pertunjukan wayang juga diselipkan pada novel ini melalui dialog-dialog filosofis terkait asal-usul dan makna dari bentuk tubuh para tokoh wayang, serta hubungannya dengan tokoh-tokoh pada novel ini. Ayu Utami juga meletakkan sisi sejarah dengan menceritakan sejarah kerajaan-kerajaan di jawa serta kaitannya dengan sosok legendaris Nyai Rara Kidul.

Kamu akan mendapatkan perspektif berbeda mengenai takhayul, mitos lokal, agama (terutama agama kuno orang Asia Timur: animisme & dinamisme), dan sosok-sosok mitologi seperti Nyai Rara Kidul, tuyul, genderuwo, dll. Perspektif  berbeda – atau saya akan menyebutnya sebagai perspektif alternatif – yang cenderung membela ini kebanyakan disajikan dalam bentuk dialog dari tokoh Parang Jati yang memang hampir selalu berbicara dengan pendekatan filosofis.

ilustrasi makna perawakan wayang pahlawan dibandingkan dengan Superman

Namun, Parang Jati dalam novel Bilangan Fu ini juga memberikan pandangan kritis yang hampir terlihat seperti kebencian terhadap 3M tadi; Modernisme, Monoteisme, dan Militerisme.

Perspektif alternatif dan kritik 3M dari Parang Jati inilah yang menjadi inti dari novel Bilangan Fu yang kemudian dikembangkan dan dikemas oleh Ayu Utami dalam sebuah cerita teka-teki seputar kejadian-kejadian seperti kuburan kosong, klub manusia aneh, dan pembunuhan guru ngaji di desa Watugunung.

Novel Bilangan Fu ini dibagi menjadi 3 bab utama: Modernisme, Monoteisme, Militerisme. Masing-masing bab tersebut memiliki sejumlah sub-bab yang bercerita – dan memuat kritik – tentang tema yang diangkat pada bab tersebut.

Sistem penarasian pada buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama (Yuda) pada bab 1 dan 3, sementara pada bab 2 menggunakan sudut pandang orang ketiga. Penarasian novel ini juga dilakukan secara unik dengan adanya diksi-diksi yang tidak biasa dan juga terkadang ada kalimat-kalimat vulgar namun implisit.

Ada beberapa hal menarik dari novel ini yang tidak mungkin bisa dilupakan begitu saja setelah membacanya. (1) Konsep ‘Bilangan Fu’ yang unik, di mana bilangan ini memiliki properti 1 dan 0 sekaligus, yang berujung dan tidak stabil seperti angka 1, namun bergerak melingkar secara konsisten seperti 0, bilangan ini disimbolkan dengan spiral ala obat nyamuk bakar.

Ayu Utami merupakan penulis novel Bilangan Fu dan sejumlah karya lainnya
Ayu Utami via mimbar-rakyat.com

(2) Konsep ‘Gnosis Sanguinis’ yang merupakan istilah buatan Ayu Utami untuk menyebut pengetahuan yang diperoleh manusia melalui darah. Istilah ini berakar dari kata Gnosis (Yunani) yang artinya pengetahuan, dan Sanguinis (Latin) yang artinya darah. Konsep ini serupa dengan konsep arketipal Carl G. Jung yang berasal dari alam bawah sadar kolektif manusia.

(3) Konsep Laku Kritik, yang diajarkan Parang Jati, yang merupakan konsep mengkritik berbagai hal dari segi struktural, bukan dari segi nilai. Menurut Parang Jati, mengkritisi nilai hanya akan membawa kita pada kebencian.

Novel Bilangan Fu sendiri dapat dikatakan sebagai sebuah buku fiksi dan non-fiksi sekaligus. Jika dilihat dari muatan idenya, buku ini seperti non-fiksi kategori filsafat dan pemikiran karena mengandung ide-ide orisinil dan juga kritik Ayu Utami terhadap banyak hal, terutama mengenai keyakinan. Namun ide-ide tersebut dibalut dalam sebuah kisah fiktif dengan tokoh utama Sandi Yuda dan Parang Jati. Maka, membaca novel ini tidak hanya akan memperkaya imajinasi tapi juga akan memberikan pemikiran baru terkait banyak hal.

Muatan kritik yang bersifat ekstrem dan tajam pada novel Bilangan Fu menjadikannya sedikit ‘berbahaya’ bagi pembaca yang agak sensitif pada isu tersebut. Maka sebelum membaca novel ini, saya sangat menyarankan agar kamu sudah memiliki pikiran terbuka terlebih dahulu agar mampu melihat novel ini sebagai kumpulan gagasan Ayu Utami tanpa harus merasa diserang.

Bahaya yang sama juga bisa saja menyasar pada Ayu Utami dan novel Bilangan Fu itu sendiri mengingat yang dikritik dalam buku ini adalah keyakinan monoteisme di mana Indonesia memiliki 2 agama monoteis terbesar yaitu Islam dan Kristen. Bukan hal yang mustahil munculnya tekanan dan ancaman dari kelompok-kelompok yang berasal dari dua agama tersebut, karena belakangan ini atmosfer keagamaan di Indonesia juga masih panas.

Rating: 5/5


Penulis: Ayu Utami

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (2018)

Tebal Buku: X + 562 halaman

Kisaran Harga: Rp. 120.000 (harga pulau Jawa)

Penghargaan: Khatulistiwa Literary Award 2008 (sekarang Kusala Sastra Katulistiwa)

Review Overview
  • Rating Buku
5

Kesimpulan

Novel Bilangan Fu ini sendiri dapat dikatakan sebagai sebuah buku fiksi dan non-fiksi sekaligus. Jika dilihat dari muatan idenya, buku seperti buku non-fiksi kategori filsafat dan pemikiran karena mengandung ide-ide orisinil dan juga kritik Ayu Utami terhadap banyak hal. Namun ide-ide tersebut dibalut dalam sebuah kisah fiktif dengan tokoh utama Sandi Yuda dan Parang Jati.

Mahasiswa pascasarjana Kajian Wilayah Amerika di salah satu universitas di Indonesia. Mulai menyelami buku-buku sejak SMP diawali dari novel Lupus dan kemudian kuliah S1 di jurusan Sastra. Aktif meresensi buku melalui Instagram dan Youtube.