Bertempat di Goethe-Institut Jakarta, Europe on Screen 2019 siap memberikan tontonan dari negara-negara Uni Eropa untuk penonton Indonesia. Rencananya akan diadakan di 8 kota besar di seluruh Indonesia. Gelaran kali ini akan menghadirkan hingga 101 film, lebih besar dibandingkan festival sebelumnya.
Europe on Screen bisa dibilang sebagai festival film terbesar di Asia Tenggara dalam hal jumlah penonton. Tahun lalu saja, festival yang sudah memasuki tahun ke-19 penyelenggaraan ini sudah menggaet lebih dari 24.000 penonton. Jumlah penonton yang semakin meningkat dari tahun ke tahun inilah yang menjadikan Europe on Screen sebagai salah satu yang terbesar di Asia.

“Tahun ini, Europe on Screen hadir kembali dengan lebih banyak pemutaran dan lebih banyak film: 277 pemutaran dengan 101 film panjang dan pendek dari 27 negara di Eropa,” ungkap Mr. Vincent Guerend, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia. “Festival ini memupuk pula kerja sama antara industri kreatif Eropa dan Indonesia sebagai faktor ekonomi yang meningkat pesat.”
Bukan hanya membawa berbagai film terbaik dari Uni Eropa, festival kali ini juga menghadirkan beberapa nama besar di Eropa untuk menjadi pembicara dalam workshop seputar film.
Workshop yang diberi nama Film Talk akan membawa Lina Flint, produser film The Guilty, Emil Nygaard Albertsen, penulis naskah The Guilty, serta Amira Daoudi, desainer poster film ternama dari Belgia.
Ada banyak tema yang diberikan untuk pemutaran tahun ini. Europe on Screen 2019 akan fokus pada pelestarian lingkungan hidup dengan mendedikasikan sub-segmen khusus bertajuk #OurLand. Tema yang menjadi bagian dari segmen “Realita” ini akan memutar enam film panjang dan empat film pendek tentang “tanah”.
Bisa dipastikan adegan dan pengambilan gambar film-film tersebut akan sangat memanjakan mata.

Yang baru dari EOS adalah adanya segmen retrospektif tentang arsitektur dan desain dalam rangka merayakan ulang tahun ke-100 sekolah seni dan desain Bauhaus yang terkenal dari Jerman. Bertajuk #Bauhaus100, EOS 2019 menghadirkan Bauhaus Spirit, sebuah film dokumenter tentang 100 tahun kehadiran Bauhus di dunia seni dan arsitek.
Tak lupa, ada pemutaran rekaman arsip karya yang dibuat dan terinspirasi dari sekolah tersebut selama 100 tahun terakhir. Pemutarannya sendiri akan dilakukan di Goethe-Institut Jakarta mulai dari tanggal 19 April 2019 nanti.
“Tahun ini kami akan melangsungkan pemutaran premier dunia untuk dua film pendek karya sineas muda Indonesia yang telah menerima dana produksi parsial dari program EOS Short Film Pitching Project. Dua film tersebut adalah Lasagna (sutradara Adi Victory) dan Bangkis (sutradara Seren Trihardja), yang terpilih dari 100 lebih cerita [tahun lalu] yang kami terima,” sebagaimana dijelaskan oleh Nauval Yazid selaku EOS Festival Co-Director.
Tak hanya itu, program film penek kembali hadir pada gelaran EOS tahun ini. “Program ini kembali diadakan tahun ini dan kami telah memilih sembilan finalis dari 110 peserta. Para finalis akan tampil di depan panel juri yang terdiri dari para profesional film. Panel juri kemudian akan memilih tiga proyek terbaik yang akan menerima pendanaan produksi parsial dari Europe on Screen,” tambah Nauval.

Tahun ini, EOS bisa disaksikan mulai dari tanggal 18 hingga 30 April di delapan kota besar di seluruh Indonesia. Selain Medan, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan Makassar yang sudah menjadi kota tetap penyelenggaraan festival ini, Bekasi dan Tangerang merupakan kota tambahan tahun ini untuk menggaet lebih banyak penonton dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Nah, bagi kalian yang ingin menonton beberapa atau semua film yang ada dalam Europe on Screen 2019, kalian bisa mengunjungi laman europeonscreen.org. Semua informasi tentang venue dan jadwal film yang akan ditayangkan bisa kalian dapatkan di sana.
Jangan lupa ikuti pula akun Instagram @europeonscreen untuk berita dan informasi terkini tentang festival ini.

