Banyak yang membenarkan bahwa membaca bisa mengobati depresi. Apakah dengan membaca buku bisa mengenyahkan perasaan depresi atau sedih yang berlarut-larut? Bisa jadi. Tetapi sebenarnya membaca saja tidak mampu membuat penderita depresi langsung pulih.
Sebelum berbicara lebih jauh, mari kita sedikit mengulik apa itu depresi. Menurut Angelos Halaris, MD, PhD, seorang professor psikiater dan Medical Director of Adult Psychiatry di Loyola University Medical Cender of Chicago, sebagaimana dijelaskan di Everyday Health, depresi bukan hanya perasaan sedih yang berkelanjutan.

Kita mengalami perasaan sedih setiap kali. Tetapi depresi berbeda. Depresi merupakan kelainan (disorder) yang pada akhirnya berpengaruh terhadap perubahan emosi seperti kehilangan semangat untuk beraktifitas, hingga fisik seperti berat yang bertambah atau berkurang, insomnia. Penderita seringkali dikaitkan dengan perasaan bersalah dan tanpa harapan.
Untuk melepaskan kesedihan atau ‘bad mood’, terkadang kita bermain game atau membaca buku. Beragam buku, mulai dari fiksi hingga non-fiksi. Novel yang dekat dengan keseharian atau cerita fantasi berisi dongeng-dongeng dari negeri antah berantah. Seringkali setelah membaca buku, ada perasaan hangat yang mengalir.
Buku telah digunakan oleh banyak orang, secara sadar atau tidak, sebagai bentuk bantuan terapeutik. Menurut JJ Bola, penyair dan penulis No Place to Call Home, “dunia dapat membuat Anda sangat tertekan sehingga Anda merasa satu-satunya orang yang mengalami apa yang Anda alami. Tetapi kemudian Anda membaca, dan Anda menyadari bahwa Anda tidak sendirian; bahwa jika orang lain telah melewatinya dan bertahan, mungkin Anda juga bisa.”
Dilansir dari The Guardian, hal senada juga disampaikan oleh Courttia Newland. Penulis dan musisi ini berbicara tentang periode traumatis yang dilaluinya selama masa remaja. Membaca buku akhirnya menjadi salah satu cara melepaskan diri dari keadaan tersebut.

“Untuk membaca sendiri, secara rasial dan spiritual, adalah karunia terbesar dan pada saat itulah saya menemukan The Lonely Londoners karya Sam Selvon – yang tidak hanya mengatakan kepada saya dari mana saya berasal, tetapi juga menunjukkan kepada saya ke mana harus pergi – seperti membaca novel itu yang memberi saya ide untuk karya fiksi pertama saya yang diterbitkan,” jelas Newland.
Membaca bisa mengatasi depresi?
Sementara membaca buku dan seni lainnya dapat menenangkan serta menempatkan Anda dalam keadaan eudaemonia, buku bukanlah anti-depresan. Seperti yang dijelaskan oleh novelis Jon McGregor yang secara khusus menggarisbawahi penggunaan buku menjadi obat untuk penyembuhan mental.
“Depressi yang serius bisa sangat melemahkan sehingga orang yang mengalaminya bahkan tidak bisa fokus untuk membaca, terlepas dari hal lain,” ia menjelaskan. “Tetapi tentu saja, fiksi terbaik dapat membantu kita mempelajari cara-cara baru untuk melihat dunia dan berhubungan dengan orang lain; mengajari kita empati terdalam. Dan saya cukup yakin bahwa empati sangat baik untuk kemanusiaan.”
Sebuah studi juga pernah dilakukan oleh peneliti dari Universitas Groningen di Belanda, diterbitkan dalam jurnal PLOS One tahun lalu untuk melihat apakah terapi non-obat seperti membaca bisa memerangi depresi pada orang tua. Peneliti menemukan 18 penelitian, yang berasal dari beberapa dekade lalu, menunjukan bahwa membaca bisa meningkatkan mood para orang tua.

“Banyak orang dengan gejala depresi merasa terisolasi. Tetapi membaca pengalaman orang lain – meskipun itu fiktif – dapat memberi mereka harapan,” jelas Dr. Liz Brewster dilansir dari Daily Mail, seorang dosen pendidikan kedokteran di Lancaster Medical School yang telah mempelajari efek biblioterapi dalam penyakit jiwa.
Tentu saja membaca bukan berarti obat. Dr Brewser menambahkan, “Pasien yang menggunakan biblioterapi (menggunakan buku untuk terapi -red) juga perlu melakukan perubahan lain yang akan meningkatkan kesehatan mental dan fisik – seperti peningkatan olahraga dan diet yang lebih sehat.”
Membaca memang bukan pengganti anti-depresan pada depresi. Namun membaca bisa mengurangi efek depresi yang membuat pembaca menjadi sedikit lebih baik. Untuk menghilangkannya, sama seperti sakit, penderita harus menemui dokter. Berbicara dengan psikiater merupakan salah satu cara terbaik dan paling sampuh untuk menghilangkan depresi.

