Komunitas Salihara resmi mengumumkan Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2026. Tahun ini, pengunjung SIPFest 2026 akan menikmati kelompok butoh legendaris Jepang, Sankai Juku yang terakhir tampil di Indonesia pada 1995 serta berbagai program menarik lainnya.
Festival Performing-art bertajuk Asiaria
Direktur Festival SIPFest 2026, Ening Nurjanah, menjelaskan bahwa tajuk “asiaria” bukan sekadar nama panggung. Nama ini lahir dari semangat merayakan sekaligus “meriuhkan” karya-karya seniman Asia, baik yang tinggal dan berkarya di benua ini maupun yang hidup sebagai diaspora.
“Kami merayakan sekaligus ‘meriakan’ karya-karya seniman Asia dan diaspora Asia. SIPFest 2026 ini akan sangat terasa berbeda dari SIPFest sebelumnya,” ujar Ening dalam keterangan resminya.
Berlangsung sepanjang 1–30 Agustus 2026 di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan, festival ini menghadirkan sepuluh program utama, mulai dari tari, musik, hingga teater. Selain Sankai Juku, ada nama-nama besar lain seperti Ho Rui An (Singapura), Wang Chong (Tiongkok).
Menariknya, duo komponis Monica Lim (Australia) dan Mindy Meng Wang (Tiongkok) tampil dengan menggandeng seniman Indonesia seperti Melati Suryodarmo, Rukman Rosadi, dan kelompok musik KUNTARI.
Hadirkan naskah kolaborasi lintas negara
Salah satu produksi paling ditunggu adalah Nadirah, teater kolaborasi tiga negara. Naskahnya ditulis Alfian Sa’at dari Singapura pada 2012, sudah dipentaskan di Malaysia dan Tokyo, dan kini baru pertama kali digarap dengan aktor Indonesia lewat arahan sutradara asal Malaysia, Iedil Dzuhrie Alaudin.
Ceritanya sendiri berat tapi manusiawi tentang mahasiswi Muslim di Singapura. Dengan sang ibu yang mualaf, ia menghadapi pergulatan iman-cinta-identitas sebagai seorang Melayu-Muslim, komunitas minoritas di sana.
Iedil menyebut proses latihannya “kolaboratif demokratis”. Para aktor diajak berdiskusi terbuka soal karakter masing-masing sebelum masuk panggung. Runny Rudiyanti, yang memerankan tokoh utama Nadira, bahkan sampai turun langsung mencari sosok nyata di Singapura dengan latar belakang serupa demi memahami karakternya lebih dalam.
Buka ruang untuk seniman lokal
Menariknya, SIPFest tidak cuma menampilkan karya-karya matang. Lewat program Ruang Karya Bertumbuh, festival ini sengaja membuka ruang untuk lima karya yang masih dalam proses penciptaan.
Yang menarik perhatian, ada karya koreografer asal Papua, Franz, dan seniman asal Korea Selatan yang tengah menjalani residensi di Salihara. Filosofinya sederhana: masukan penonton dianggap penting buat membantu seniman mengasah karyanya sebelum benar-benar rampung.
Tiket SIPFest 2026 berkisar mulai dari Rp75 ribu untuk pelajar hingga Ro250 ribu untuk kategori umum per pertunjukkan. Penonton bisa langsung memesan tiket terusan untuk seluruh rangkaian acara seharga Rp1.5 juta. Semua tiket bisa dipesan langsung melalui laman resmi sipfest.salihara.org.
Kamu bisa menikmati berbagai program yang menarik, dari butoh klasik Jepang sampai naskah lintas tiga negara. Sebulan penuh, panggung Salihara melalui SIPFest 2026 menghadirkan alternatif perayaan kebudayaan yang tak bisa dinikmati sepenuhnya hanya melalui media sosial.