Film Blood menghadirkan premis menarik tentang ‘kasih ibu sepanjang masa’, walaupun sang anak jadi makhluk yang berbahaya. Tapi plot yang kaku dan berantakan membuyarkan potensi yang bisa diraih oleh film ini.
Sinopsis film Blood
Jessica (Michelle Monaghan) serta dua anaknya, Tyler (Skylar Morgan Jones) dan Owen (Finlay Wojtak-Hissong) pindah ke rumah masa kecilnya di daerah terpencil setelah memutuskan untuk bercerai dengan sang suami.

Semua terasa normal sampai anjing mereka bertindak aneh setelah mengunjungi pohon kayu di bekas danau dekat rumah mereka. Sempat menghilang, anjing tersebut kembali ke rumah dengan mata menyala dan menggigit leher Owen.
Ketika dibawa ke rumah sakit, Jessica mendapati Owen meminum darah langsung dari kantong darah. Ia lalu menyadari bahwa tanpa meminum darah manusia, Owen bertindak layaknya seseorang yang overdosis.
Horor dengan drama yang lebih kental
Premis awal film Blood terasa cukup menarik; seberapa jauh kamu akan bertindak untuk membuat anakmu tetap hidup. Dan dari awal sampai akhir, film ini menggali lebih dalam dengan fokus pada karakter Jessica, seorang ibu yang baru lepas dari adiksi obat-obatan dan diceraikan oleh suaminya.
Film ini bisa dibandingkan dengan Blood Red Sky (2021), meski dengan cerita yang terbalik. Film horor Netflix tersebut menceritakan tentang seorang ibu yang berubah menjadi vampir, tapi tetap melindungi anaknya yang masih manusia biasa.
Keduanya sama-sama mengambil kisah horor tentang vampir penghisap darah, dan kasih sayang ibu kepada anaknya. Tapi Blood Red Sky terasa lebih menggoda dan menawan dengan perpaduan aksi menegangkan di dalam pesawat.

Blood diceritakan dengan alur cerita yang lambat. Menjelaskan tentang latar belakang kisah keluarga Jessica dan baru naik di sepertiga film berjalan. Tapi setelah itu, dinamika cerita yang ditawarkan masih terasa monoton.
Meski punya beberapa adegan jumpscare, film ini tak terlalu fokus untuk ‘menyeramkan’. Bahkan Brad Anderson sebagai sutradara sepertinya lebih bertumpu pada drama. Menjelaskan seberapa jauh Jessica bertindak untuk menyelamatkan Owen.
Tapi ketidakkonsistenan Jessica dan karakter lainnya terkesan tak logis dan dipaksakan. Pilihan dan tindakan yang dilakukan oleh masing-masing karakter menimbulkan pertanyaan, menandai kepenulisan cerita dan plot yang penuh lubang.
Kurang dieksekusi
Film Blood fokus pada seorang ibu sebagai karakter utama, menjaga anaknya yang berubah menjadi makhluk penghisap darah. Meski film Let the Right One In (2008) punya premis yang sangat sama, namun menawarkan cerita yang lebih dinamis dan menyenangkan.
Walaupun tidak jelas-jelas disebutkan, tapi ‘penyakit’ yang dialami Owen mirip dengan kondisi awal vampir. Sehingga ketika membawa sinopsisnya, kita akan digiring pada narasi tersebut. Tapi mungkin ekspektasi itulah yang menjadi awal kehancuran film ini.

Alih-alih mengungkapkan apa yang menggerogoti Owen, film ini hanya berpusat pada konflik yang dialami oleh Jessica. Dimana ia harus melakukan segala cara untuk menyediakan darah kepada anaknya agar sang anak tidak kesakitan.
Bisa dibilang tema tentang keluarga dan kasih sayang ibu yang tak terhingga merupakan poin penting yang jelas disampaikan dalam film berdurasi 108 menit ini. Tapi itu saja. Sangat mendominasi sehingga menutupi pesan dan tema lainnya.
Dan film ini berakhir dengan menyisakan banyak pertanyaan ketimbang memberi jawaban. Misalnya apa yang sebenarnya terjadi kepada Owen, apakah itu merupakan sebuah virus atau kutukan karena telah mendatangi pohon misterius itu.

Bahkan dengan adegan post credit yang muncul di bagian akhir, Brad tak menjawab rasa penasaran penonton dengan pertanyaan asal mula ‘penyakit’ tersebut. Lebih condong ke arah potensi sekuel untuk film selanjutnya.
Film Blood mungkin lebih menyenangkan jika dinikmati sebagai tontonan di rumah kala senggang. Punya premis menarik dengan sudut pandang baru, tapi eksekusi yang lemah serta cenderung berantakan membuat film ini kehilangan pesonanya. Lebih baik nonton Let the Right One In saja.
Genre: Horor
Sutradara: Brad Anderson
Penulis Naskah: Will Honley
Pemeran: Michelle Monaghan, Finlay Wojtak-Hissong, Skylar Morgan Jones

