Pernah merhatiin di pembukaan film, kadang muncul tulisan ‘Directed by’, tapi di film lain malah ‘A Film by’? Dua kredit ini keliatannya sama aja, tapi ternyata beda jauh soal makna dan aturan di baliknya. Cocok buat kamu yang penasaran atau lagi kuliah film dan butuh jawaban yang jelas.
Perbedaan mendasar ‘Directed by’ dan ‘A Film by’
‘Directed by’ adalah kredit paling umum dan netral. Artinya cuma menegaskan siapa yang bertanggung jawab mengarahkan proses syuting. Frase ini digunakan oleh sutradara yang membimbing aktor, menentukan gaya visual, sampai menjaga alur cerita tetap konsisten.
Kredit ini tidak mengklaim satu orang sebagai pemilik tunggal visi film. Sehingga banyak proyek besar seperti film-film Marvel atau Jurassic World menggunakan ‘Directed by’. Buat kamu yang lagi belajar produksi film, kredit ini juga yang paling “aman” secara hukum.
Sementara ‘A Film by’ atau dengan istilah teknisnya possessory credit memberi pengakuan artistik utama ke satu orang, biasanya sutradara, sebagai yang memiliki visi untuk keseluruhan film. Contoh paling terkenal: “A film by Quentin Tarantino” di Pulp Fiction, atau “A Stanley Kubrick Film” di The Shining.
Possessory credit sebenarnya bisa juga diberikan ke produser, seperti “Steven Spielberg Presents” di Back to the Future. Menariknya, kredit ‘A Film by’ dan ‘Directed by’ bahkan bisa muncul bersamaan di film yang sama untuk sutradara yang sama, seperti pada Enter the Void (2009) garapan Gaspar Noé.
Alasan perbedaan kredit film
Dilansir dari Mamun Hossain, penggunaan “A Film by” sebenarnya diatur ketat oleh Directors Guild of America (DGA). Menurut aturan mereka, kredit ini cuma boleh dipakai kalau sang sutradara juga berperan sebagai penulis atau produser film tersebut. Aturan ini dibuat supaya kredit “kepemilikan” itu benar-benar mencerminkan kontrol kreatif menyeluruh.
Uniknya, meski Writers Guild of America (WGA) berkali-kali berusaha membatasi possessory credit supaya juga bisa diberikan ke penulis naskah, upaya ini selalu kalah lobi dari DGA yang mempertahankan dominasi sutradara dalam soal kredit kepemilikan ini.
Selain itu, ada juga variasi possessory credit lain yang lebih personal, seperti “A Spike Lee Joint” atau “A Martin Scorsese Picture”. Semuanya intinya sama: menegaskan satu nama sebagai pemilik visi kreatif utama film tersebut. Istilah yang dipakai bisa berbeda tergantung gaya masing-masing sutradara.
Asal usul kredit sutradara
Tren possessory credit sendiri sebenarnya sudah ada sejak The Birth of a Nation (1915). Ini baru benar-benar populer di era 1970-80an karena terinspirasi gerakan auteur di Eropa yang menganggap sutradara sebagai “penulis” sesungguhnya dari sebuah film.
Sutradara seperti Ingmar Bergman yang kerap dikreditkan sebagai “An Ingmar Bergman Film” tanpa embel-embel ‘Directed by’ sama sekali. Gaya ini kemudian ditiru sutradara-sutradara Amerika yang ingin menegaskan status mereka sebagai auteur juga.
Sebelum 1968, aturan DGA bahkan nggak mengizinkan sutradara pakai nama samaran sama sekali. Ini dilakukan demi mencegah produser memaksa sutradara “menghapus” jejak mereka dari sebuah film. sekaligus menegaskan prinsip auteur theory bahwa sutradara adalah kekuatan kreatif utama di balik sebuah film.
Soal Posisi Kredit di Layar
Buat yang lebih detail memperhatikan teknis produksi, DGA juga mengatur posisi kredit sutradara secara spesifik. Dilansir dari Wrapbook, nama sutradara harus jadi kredit terakhir yang muncul sebelum film dimulai jika kredit ditampilkan di pembukaan film (main title).
Sedangkan sebaliknya, kalau kreditnya ditaruh di akhir film (end credits), nama sutradara justru harus jadi yang pertama muncul. Aturan ini berlaku konsisten terlepas dari apakah filmnya pakai “Directed by” atau “A Film by”.
Kamu bisa memperhatikan bagian opening film. ‘Directed by’ menegaskan bahwa produksinya lebih kolaboratif, sedang ‘A Film by’ dikembangkan oleh satu orang. Biasanya mereka merupakan otak di balik keseluruhan visi sebagai penulis sekaligus sutradara. Sebuah detail kecil yang mencerminkan struktur kreatif dan hukum di balik pembuatan film.