Sepertinya setelah Raditya Dika, mulai banyak komika yang terjun ke dunia perfilman dan menjadi aktor maupun sutradara. Setelah koh Ernest menggebrak dunia perfilman Indonesia dengan menyabet piala Citra untuk Naskah Orisinil terbaik dengan Cek Toko Sebelah, maka ada Kang Soleh Solihun yang memulai debut pertamanya dengan Mau Jadi Apa. Tapi, ada sedikit kekurangan pada film terbaru akang Soleh.
Mau Jadi Apa sangat kental dalam kehidupan Soleh Solihun. Film yang diangkat dari sebuah novel perjalanan hidup komika yang mengawali kariernya dengan menjadi wartawan ini menceritakan kurang lebih tentang kehidupan kampus Kang Soleh. Dimana dia bersama teman masih bingung “mau jadi apa?” setelah tamat dari kampus.
Berkuliah di jurusan Ilmu Kominikasi, fakultas dikuasai oleh satu majalah bernama Fakta Jatinangor yang bersifat faktual dan berat. Melihat hal itu, Soleh muda bersama teman-temannya, Lukman, Marsyel, Eko, Fey, dan Syarif membuat majalah kampus alternatif, Karung Goni, kependekan dari “Kabar, Ungkapan, Gossip dan Opini”.
Mulai dari sini, premis yang diberikan sangat menarik. Bagaimana beberapa orang mahasiswa yang tidak tahu mau jadi apa mencoba membuat majalah berdasarkan kemampuan mereka. Mulai dari menggambar, pengetahuan tentang musik, serta Fey yang menjadi tempat pelampiasan untuk curhat anak-anak lain.
Dibalut dengan bumbu-bumbu komedi khas komika, Mau Jadi Apa? sukses memberikan hiburan yang ringan, menggelitik, walaupun sedikit “cringy”.
Walaupun begitu, sepertinya Kang Soleh harus sedikit belajar dari Ernest Prakasa yang telah berpengalaman menulis skenario. Mungkin dipengaruhi oleh pengalaman pertama, beberapa plot di film ini terkesan “memaksa” untuk memberikan tawa pada penonton. Tawa yang diberikan cukup banyak, tapi plot seperti kurang menggigit.
Selain itu, tema “mau jadi apa setelah kuliah?” sepertinya hanya dijadikan bumbu penarik untuk film ini. Ketika saya melihat tema tersebut, saya membayangkan adanya pertentangan tentang apa yang pernah saya hadapi ketika memasuki dunia kuliah dengan apa yang akan saya lakukan ketika sudah tamat?
Tema tersebut seakan menghilang di pertengahan cerita dimana penonton dibuat fokus dengan perselisihan Karung Goni dengan Fakta Jatinangor dan Aureline Moeremans. (Damn, she’s so cute)
Seharusnya, untuk memerankan Soleh Solihun waktu muda, Kang Soleh harus menggunakan CGI untuk melakukan peremajaan wajah. Walaupun pemilihan Kang Soleh sebagai pemeran utama telah dijelaskan dalam cerita, tapi perawakan Kang Soleh yang tidak lagi seperti anak kuliahan membuat fokus penonton sedikit terpecah. I am sorry, Kang, but you jelly belly is too distracting. Apalagi pemeran utama (Kang Soleh –red) sering menggunakan baju ngepas. Tidaaaaaaak.
Hal yang menjadi penarik untuk film ini adalah banyaknya referensi bagi anak tahun 90an yang diberikan. Apalagi pada awal film, referensi seperti Ali Topan Anak Jalanan, Slank serta Pure Saturday menjadi pengingat manis bagi generasi 90an. Walaupun referensi tersebut terhenti setelah setengah film ditayangkan, kehadiran “guest“ selain para komika di film beserta komedi yang ditampilkan cukup memberikan warna tersendiri.
Banyak diisi oleh bintang-bintang Bandung, The Changcuters, Gading Marten (dengan menyebutkan Roy Marten), Budi Dalton, serta Ronald Suraprajda dan Tike Priatnakusumah, film ini kental dengan nuansa bandung. Ditambah dengan peran Boris Bokir yang aslinya keturunan Batak untuk menjadi Urang Sunda blasteran Padang.
Untuk keseluruhan, film ini enak ditonton beserta teman-teman (menyaksikan Aurelie Moeremans) untuk mengisi waktu senggang dengan komedi yang diberikan. Untuk skenario dan tema, kita bisa memaklumi kepenulisan perdana Kang Soleh. Dalam hal menjadi sutradara, “Reuni Z” mungkin bisa menjadi pendobrak Kang Soleh sebagai sutradara tanpa bayang-bayang Monti Tiwa.
Sutradara: Monti Tiwa dan Soleh Solihun
Genre: Komedi, Biografi
Top Cast: Soleh Solihun, Anggika Bolsterli, Awwe, Adjisdoaibu,
Boris Bokir, Ricky Wattimena, dan Aurelie Moeremans,
Durasi: 103 menit