Film Until Dawn (katanya) adalah adaptasi dari game horor berjudul sama yang dirilis Sony. Meski filmnya sendiri enak ditonton, tapi entah mengapa ada banyak perbedaan demi perbedaan yang menjauhkannya dari sumber aslinya. Kalau kayak gini masih pantas disebut Until Dawn?
Sinopsis film Until Dawn
Setahun setelah adiknya, Melanie (Maia Mitchell) hilang secara misterius, Clover (Ella Rubin) dan teman-temannya kembali ke lembah terpencil tempat hilangnya Melanie untuk mencari jawaban.
Mereka mengunjungi pondok pusat pengunjung di lembah tersebut dan bermalam di sana. Namun ketika malam tiba, satu per satu mereka dibunuh. Anehnya, mereka terjebak dalam lingkaran waktu dan terbangun kembali setiap mereka terbunuh.
Selalu ingat dengan kejadian sebelumnya, mereka lalu mencari cara untuk mengatasi pembunuh bertopeng dengan melakukan hal yang berbeda dari sebelumnya. Walaupun mereka masih belum bisa mengalahkan pembunuh tersebut. Satu-satunya cara adalah dengan bertahan sampai subuh menjelang.
Slasher thriller bergaya time loop
Menggandeng David F. Sandberg yang populer paska Lights Out (2013) dan Annabelle: Creation (2017), Sony mencoba untuk mereplikasi ketegangan demi ketegangan dari game horor yang populer ketika pertama kali dirilis pada tahun 2015 silam. Dan dalam hal ini, Sandberg berhasil.
Film Until Dawn langsung menghadirkan rasa penasaran dalam cerita yang menegangkan tentang sekelompok remaja yang ingin mencari tahu tentang misteri hilangnya teman mereka. Penonton dibuat was-was mencari tahu siapa yang akan dibunuh dan bagaimana caranya.
Bagi penonton awam, film ini mudah diikuti dengan plot yang cukup ringan dan terarah. Tak terlalu berbelit-belit, walaupun jenis cerita seperti ini sudah banyak digunakan dalam film-film bertemakan survival lainnya. Termasuk slasher time loop yang mengingatkan pada Happy Death Day (2017).
Alur ceritanya menyediakan berbagai twist, membuat penonton menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Pengulangan waktu selalu dibuat berbeda, memperlihatkan bagaimana karakter mencoba untuk bertahan hidup, menghindari pembunuh bertopeng, sekaligus menguak misteri tentang hilangnya teman mereka.
Penonton yang berharap dengan cerita horor dan slasher berdarah-darah akan dihadapkan dengan film yang bikin deg-degan dari awal sampai akhir. Ditambah adegan kejar-kejaran serta pembunuhan yang tiba-tiba bisa membuat senam jantung selama durasi 104 menit film ini.
Jauh dari adaptasi game
Untuk penonton biasa, film Until Dawn memang memukau dengan plot time loop dan kisah horornya. Tapi kalau kamu tertarik untuk menonton film ini karena pernah memainkan game-nya, siap-siap saja kecewa. Pasalnya versi film tak menggunakan premis dan plot cerita yang sama. Dari latar tempat, pembunuh, kehadiran time loop, bahkan karakter protagonisnya dibuat berbeda.
Masih menggunakan awal cerita saudara yang hilang, game Until Dawn aslinya menceritakan tentang delapan remaja yang terjebak di gunung. Pemain bisa memilih memainkan karakter, dimana setiap pilihan akan berdampak pada alur cerita, apakah mereka akan hidup atau mati. Jika semuanya benar-benar berbeda, kenapa masih menggunakan nama Until Dawn?
Mungkin memang susah untuk benar-benar mengadaptasi game ini karena sistem butterfly effect dan lingkungan interaktifnya. Sandberg sebagai sutradara mencoba untuk mereplika kembali rasa seram yang dihadapkan oleh sekelompok remaja yang terjebak di gunung. Pun begitu dengan tema time loop setiap kematian yang berbeda-beda kemungkinan terinspirasi dari bagaimana para pemain bisa mati berdasarkan pilihan yang mereka ambil.
Sebuah tantangan yang tak bisa dilewati oleh Sony adalah menghadirkan sebuah adaptasi yang jauh berbeda ketimbang versi sumbernya tanpa menyakiti para penggemar. Apalagi untuk sekelas game yang mendapatkan banyak review positif ketika dirilis hingga masuk nominasi game terbaik di berbagai ajang penghargaan.
Untuk sekadar tontonan horor, film Until Dawn punya daya tarik tersendiri yang bisa menggaet penonton baru; film yang menegangkan dan twist berderet muncul di bagian akhir. Namun yang paling penting, buang jauh-jauh berekspektasi kamu jika film ini akan mengulang kembali apa yang diceritakan pada versi game-nya.
Genre: Horor
Sutradara: David F. Sandberg
Penulis Naskah: Blair Butler, Gary Dauberman
Pemeran: Ella Rubin, Michael Cimino, Odessa A’zion