Film It Lives Inside punya premis menarik tentang anak-anak dari keluarga India yang tumbuh di Amerika menghadapi monster dari kebudayaan mereka. Sayangnya, potensinya terbuang oleh penyampaian narasi dan plot yang patah-patah, serta horor yang masih jauh dari kata menegangkan.
Sinopsis film It Lives Inside
Samidha (Megan Suri) atau kerap dipanggil Sam adalah seorang remaja dengan latar budaya India. Ibunya, Poorna (Neeru Bajwa) menginginkan ia untuk menjaga budayanya dengan berbicara bahasa India di rumah. Sedang sang ayah Inesh (Vik Sahay) mengerti bahwa Sam ingin berbaur dengan anak-anak lainnya.
Ia memiliki teman masa kecil bernama Tamira (Mohana Krishnan). Tapi mereka tak dekat lagi karena Sam ingin bergaul dengan anak-anak lainnya. Di sisi lain, Tamira menjadi semakin penyendiri dan terlihat sering menggenggam sebuah toples.
Kepada Sam, Tamira mengungkapkan bahwa toples yang dibawanya mengurung sosok makhluk yang selalu ingin makan daging mentah. Setelah mengungkapkan hal itu, Tamira menghilang. Kehilangan Tamira mempengaruhi Sam dan membuatnya ketakutan sepanjang hari.
Horor berlatarkan budaya
Film It Lives Inside menghadirkan narasi horor tentang monster dan makhluk yang tak bisa dilihat, menggabungkannya dengan pergolakan Sam yang tumbuh di dua budaya yang berbeda. Diawali dengan premis yang menarik dan menjanjikan.
Sebagai sebuah film horor yang dipenuhi dengan representasi asimilasi budaya yang dialami remaja, mental health, sampai dengan keunikan tersendiri dari kebudayaan India, sayang ceritanya terasa belum padat meski sudah dibekali dengan alur yang menarik.
Bisa dimaklumi, mengingat It Lives Inside merupakan film panjang pertama dari Bishal Dutta. Dan sebagai penulis skenario bersama Ashish Mehta, ada beberapa plot yang terbengkalai dan potongan cerita yang terasa sangat patah. Walau keseluruhan narasi dijabarkan dengan menarik.
Horor yang disajikan terasa universal, tapi memang tak semenakutkan film lainnya. Tetap dalam pola dan struktur standar film horor yang menebar rasa penasaran dan ketakutan, tapi masih terbilang standar untuk gabungan genre thriller dan ‘elevated horor’, terlebih jika dibandingkan Talk to Me (2023).
It Lives Inside dipenuhi dengan sinematografi menawan dan close up untuk menangkap ketakutan karakter di dalam film meski tak bisa dipungkiri tone dan nuansa yang dibawakan dalam film ini masih belum menggigit untuk sebuah tontonan di genre horor.
Narasi dan eksekusi terasa mentah
Monster yang bisa menghilang dalam film ini bernama Pishach. Dalam kebudayaan Hindu, ia merupakan makhluk pemakan jiwa dan daging yang tertarik dengan perasaan buruk dan negatif serta ketakutan yang dikeluarkan oleh manusia.
Perpaduan yang menarik jika dihubungkan dengan karakter remaja yang masih mencari jati diri, diperankan dengan sangat apik oleh Megan Suri yang terjebak dalam keluarga yang konservatif hidup di tengah lingkungan yang bebas. Makanan sedap untuk Pishach.
Dutta menjadikan film ini sebagai sebuah kritik sosial, bukan hanya dari segi kebudayaan, tapi juga untuk anak-anak yang merasa terasing dan dipinggirkan. Sebagai wacana yang membahas kesehatan mental bagi orang-orang yang terombang ambing, antara budaya dan keluarga serta menjadi remaja dan dewasa.
Namun bisa dilihat bagaimana polesan Dutta masih mentah dalam menghadirkan kompleksitas narasi yang seharusnya jadi daya tarik film ini. Membuatnya terasa datar dibandingkan film asimilasi budaya lintas genre atau film horor lainnya.
Beruntung ada Pishach yang memiliki andil besar untuk membedakan film ini dari kisah horor Hollywood lainnya. Namun sangat disayangkan, mengingat premis yang menarik tertahan dengan eksekusi yang terasa rapuh.
Dipenuhi premis dan narasi yang segar, film It Lives Inside masih belum menemukan plot dan ketegangan yang pas. Ada banyak plot dan eksekusi yang seharusnya membuat film ini menjanjikan, terlebih ketika membawa kisah horor India dengan latar pinggiran kota di Amerika.
Genre: Horor
Sutradara: Bishal Dutta
Penulis Naskah: Bishal Dutta, Ashish Mehta
Pemain: Megan Suri, Mohana Krishnan